Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Menjadi tempat aman juga bukan berarti membuat anak terus bergantung kepada orangtua. Justru, hubungan yang aman membantu anak memiliki keberanian untuk mandiri. Anak yang tahu bahwa ia punya tempat kembali akan lebih percaya diri menghadapi tantangan karena ia tidak merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
"Faktor pelindung yang paling umum bagi anak-anak dan remaja yang mengembangkan kemampuan untuk mengatasi kesulitan berat adalah memiliki setidaknya satu hubungan yang stabil dan penuh komitmen dengan orangtua, pengasuh, atau orang dewasa lain yang suportif," dikutip dari laporan Harvard's Center on the Developing Child.
Jadi hubungan yang suportif tersebut dapat membantu anak menghadapi kesulitan dan membangun kemampuan untuk beradaptasi. Jadi, orangtua tidak perlu memaksakan diri menjadi “bestie” anak agar hubungan mereka dekat. Yang jauh lebih penting adalah membangun hubungan yang membuat anak tahu bahwa ia boleh pulang ketika gagal, boleh bercerita ketika takut, dan tetap dicintai ketika melakukan kesalahan.
Anak tidak membutuhkan orangtua yang selalu bersikap seperti teman sebaya. Mereka membutuhkan orangtua yang bisa hadir, mendengarkan, melindungi, memberi batasan, dan membantu mereka memahami dunia tanpa membuat mereka takut untuk pulang. Menjadi tempat aman bukan tentang selalu mengatakan “iya”, melainkan membuat anak tahu bahwa apa pun yang terjadi, ada hubungan yang bisa percaya.