Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Orangtua Perlu Lakukan 5 Hal Ini Sebelum Anak Aktif Pakai Media Sosial
ilustrasi remaja memotret minuman (pexels.com/pixabay)

Media sosial bukan lagi hal asing bagi anak-anak, bahkan sejak usia yang terbilang sangat muda. Di sekeliling mereka, obrolan tentang unggahan, video viral, dan tren digital sudah menjadi bagian dari keseharian. Mau tidak mau, orangtua akan dihadapkan pada kenyataan bahwa anak tumbuh di era serba digital.

Namun, sebelum anak benar-benar memiliki akun dan aktif bermedia sosial, ada hal-hal penting yang perlu disiapkan. Bukan sekadar soal izin atau batasan waktu, melainkan juga tentang nilai, kebiasaan, dan rasa aman. Yuk, simak hal-hal yang sebaiknya orangtua lakukan agar anak lebih siap menghadapi dunia media sosial.

1. Mulai percakapan sejak dini, jangan menunggu anak meminta izin

ilustrasi ayah dan anak sedang berbincang (pexels.com/cottonbro)

Banyak orangtua baru membuka pembicaraan soal media sosial ketika anak sudah ingin membuat akun. Padahal, pendekatan seperti ini sering kali membuat orangtua tertinggal satu langkah. Anak pun akhirnya belajar dari lingkungan sekitar tanpa pendampingan yang memadai.

Membicarakan media sosial sejak dini membantu anak memahami bahwa dunia digital bukan ruang bebas tanpa konsekuensi. Percakapan sederhana yang rutin justru membuat anak lebih terbuka dan tidak merasa dihakimi. Dari sinilah kepercayaan antara anak dan orangtua bisa mulai terbentuk.

“Bahkan jika anak-anak belum menggunakan media sosial, banyak dari mereka sudah online sejak usia dini dan mengakses berbagai situs,” ujar Ana Homayoun, pakar media sosial dan penulis Social Media Wellness, dikutip dari Parents. “Anak sering belajar tentang media sosial dari teman atau influencer, bukan dari orangtua,” tambahnya.

2. Bekali anak dengan literasi media sosial

ilustrasi ibu dan anak menggunakan laptop (pexels.com/nicolabarts)

Media sosial bukan sepenuhnya buruk, tetapi juga bukan tempat yang selalu aman. Tanpa pemahaman yang cukup, anak bisa mudah terpengaruh oleh validasi berupa likes, komentar, atau perbandingan hidup orang lain. Literasi media sosial membantu anak bersikap lebih kritis dan tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka lihat.

Dengan literasi yang baik, anak belajar mengenali konten positif dan memahami batasan diri. Mereka juga lebih siap menghadapi tekanan sosial yang kerap muncul di ruang digital. Bekal ini penting sebelum anak benar-benar aktif bermedia sosial.

“Media sosial tidak secara inheren berbahaya maupun bermanfaat bagi anak muda,” kata Thema Bryant, PhD., Presiden American Psychological Association, dikutip dari Parents.
“Literasi media sosial dengan pelatihan mengemudi yang diperlukan sebelum seseorang benar-benar terjun ke jalan,” tambahnya.

3. Tetapkan aturan dan kesepakatan sejak awal

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)

Anak membutuhkan batasan yang jelas agar merasa aman, bukan terkungkung. Orangtua sebaiknya menyepakati aturan soal durasi penggunaan, jenis konten, dan cara berinteraksi di media sosial. Kesepakatan ini akan menjadi pegangan anak saat mereka mulai lebih mandiri.

Aturan yang dibicarakan bersama cenderung lebih mudah dipatuhi. Anak pun merasa dilibatkan, bukan sekadar diperintah. Hubungan orangtua dan anak jadi lebih setara dan saling menghargai.

4. Utamakan privasi dan keamanan akun anak

ilustrasi ibu dan anak bermain laptop di tempat tidur (pexels.com/olly)

Anak sering kali belum memahami risiko berbagi informasi pribadi di internet. Foto, lokasi, hingga kebiasaan harian bisa berdampak lebih besar dari yang mereka bayangkan. Karena itu, pengaturan privasi perlu menjadi perhatian utama sejak awal.

Keamanan digital bukan hanya soal fitur, tetapi juga soal kebiasaan. Anak perlu tahu apa yang boleh dibagikan dan apa yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri. Pendampingan orangtua sangat dibutuhkan di tahap ini.

“Yang terpenting adalah membangun kepercayaan dan dialog yang berkelanjutan terkait aktivitas apa pun yang mereka lakukan,” ujar Eddie Ruvinsky, Director of Engineering di Instagram, dikutip dari Parents. “Pengawasan tanpa komunikasi tidak akan cukup melindungi anak,” tambahnya.

5. Beri contoh nyata lewat sikap orangtua

ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orangtua gemar menggulir media sosial tanpa henti atau membagikan terlalu banyak hal pribadi, anak akan menganggapnya wajar. Tanpa disadari, kebiasaan orangtua menjadi standar bagi anak.

Menunjukkan penggunaan media sosial yang sehat adalah bentuk edukasi paling sederhana. Mulai dari membatasi waktu layar hingga bersikap bijak saat berkomentar. Ketika orangtua konsisten memberi contoh, anak pun lebih mudah menirunya.

Media sosial memang tidak bisa dijauhkan sepenuhnya dari kehidupan anak. Namun, dengan persiapan yang tepat, orangtua bisa membantu anak tumbuh lebih sadar dan bertanggung jawab di dunia digital. Ingat, pendampingan sebelum anak aktif jauh lebih bermakna daripada penyesalan setelah masalah muncul.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team