Masa kanak-kanak seharusnya menjadi periode yang penuh dengan eksplorasi, permainan, pembelajaran, dan rasa aman. Pada fase ini, anak membutuhkan ruang untuk mengenal dunia secara bertahap sesuai dengan usia dan perkembangan emosionalnya. Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan tersebut. Sebagian anak justru dipaksa menjadi "dewasa" sebelum waktunya karena berbagai kondisi, mulai dari masalah keluarga, tuntutan ekonomi, konflik rumah tangga, hingga ekspektasi yang terlalu tinggi dari orang tua.
Fenomena ini sering disebut sebagai parentification, yaitu kondisi ketika anak mengambil peran dan tanggung jawab yang seharusnya diemban oleh orang dewasa. Misalnya, anak harus menjadi penengah konflik orang tua, mengurus adik-adiknya secara penuh, menjadi tempat curhat orang tua, atau memikul beban keluarga yang melampaui kapasitas usianya. Sekilas, anak seperti ini sering dianggap lebih mandiri dan matang dibanding teman-teman sebayanya. Namun di balik kedewasaan tersebut, terdapat berbagai dampak psikologis yang dapat terbawa hingga masa dewasa. Berikut lima dampak psikologis yang sering dialami oleh anak yang kehilangan masa kecilnya karena dipaksa tumbuh terlalu cepat.
