Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Pelajaran Berbelanja untuk Anak, Jangan sampai Tertipu!

7 Pelajaran Berbelanja untuk Anak, Jangan sampai Tertipu!
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Victoria Rain)

Salah satu bentuk kemandirian yang perlu dimiliki anak ialah bisa pergi berbelanja sendiri. Utamanya untuk membeli kebutuhan-kebutuhannya yang simpel, seperti alat tulis. Juga buat membantu orangtua kala harus membeli sesuatu di warung atau minimarket terdekat.

Namun, melepas anak begitu saja untuk berbelanja sendirian bukan hanya tidak bijak. Ini juga dapat membahayakan keselamatan anak karena ia membawa sejumlah uang. Sebelum anak praktik pelajaran berbelanja, berikan didikan pada anak terlebih dahulu ketujuh hal berikut, ya.

1. Nilai uang

ilustrasi belanja (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Anak yang sama sekali belum mengerti nilai uang gak boleh pergi belanja seorang diri. Bahkan jika dia akan pergi bersama teman-temannya, minimal ada satu anak yang telah memahami nilai uang. Ini amat mendasar biar anak tidak kena tipu.

Ia harus tahu total harga belanjaan, uang yang dibawa, serta kembaliannya. Maka dari itu, ilmu berhitung kudu diajarkan dulu. Kemudian masuk ke nilai uang dan soal cerita untuk menguji kemampuan anak dalam berhitung seandainya dia berbelanja.

2. Kehati-hatian

ilustrasi belanja online (pexels.com/Kindel Media)
ilustrasi belanja online (pexels.com/Kindel Media)

Ada beberapa poin penting tentang kehati-hatian yang wajib ditekankan pada anak. Pertama, kehati-hatian selama anak dalam perjalanan menuju dan kembali dari toko. Ini tentang cara anak bersepeda, di sisi mana ia harus berjalan kaki, tips aman menyeberang jalan, dan sebagainya.

Kedua, kehati-hatian terhadap orang asing yang mungkin punya maksud buruk karena tahu anak membawa uang dan sendirian. Ketiga, kehati-hatian kala membawa belanjaan. Contohnya, saat anak diutus buat membeli telur.  Sifat belanjaan yang mudah pecah harus diperlakukan dengan ekstra hati-hati.

Untuk belanja online pun sama, kehati-hatian tetap harus diajarkan dulu. Misalnya, anak tidak boleh memberikan PIN dompet digitalnya pada siapa pun. Ia juga harus membaca ulasan pembeli sebelum bertransaksi.

3. Nama dan perbedaan produk

ilustrasi berbelanja (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Ada begitu banyak produk yang dijual di warung dan minimarket. Sering kali kemasannya mirip. Pastikan anak tahu betul apa yang hendak dibelinya. 

Perbedaan antarproduk juga mesti dijelaskan dulu oleh orangtua. Misalnya, orangtua menyuruhnya membeli detergen. Ada detergen bubuk, deterger cair, detergen dengan pelembut, dan sebagainya. Mereknya juga macam-macam. Pastikan orangtua memberi instruksi yang jelas dan spesifik.

4. Kemampuan menawar

ilustrasi berbelanja (pexels.com/Anna Pou)
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Anna Pou)

Kalau anak akan belajar berbelanja di pasar tradisional atau pedagang kaki lima yang bisa ditawar, ajarkan kiat-kiatnya. Seperti anak harus tetap sopan saat menawar dan turunkan harga 10 sampai 20 persen saja agar penjual tidak marah.

Beri tahu anak mengapa ia perlu menawar harga dan di mana ini dapat diterapkan. Apabila tidak tercapai kata sepakat tentang harga produk, anak bisa mencari penjual yang lain. Lebih mudah baginya mempelajari cara menawar dengan sering melihat orangtua berbelanja.

5. Ukuran produk

ilustrasi berbelanja (pexels.com/Kamaji Ogino)
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Kamaji Ogino)

Wanti-wanti anak tentang ukuran produk yang perlu dibeli. Misalnya, produk kemasan berapa gram? Agar anak tidak lupa, catat ukuran masing-masing produk yang diinginkan dan alternatifnya kalau kemasan tersebut habis.

Untuk produk yang dijual kiloan seperti buah, bukan cuma berat total buah yang perlu ditekankan. Namun juga ukuran setiap buahnya. Contohnya, kita menginginkan 1kg apel yang besar-besar atau 1kg apel berukuran sedang.

6. Memilih produk berkualitas

ilustrasi berbelanja (pexels.com/Greta Hoffman)
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Greta Hoffman)

Produk yang dikemas di pabrik pun bisa rusak saat dalam proses distribusi atau karena disimpan terlalu lama di gudang. Anak wajib memeriksa kualitasnya dari tangga kedaluwarsa dan ada atau tidaknya bagian kemasan yang cacat.

Untuk produk tanpa kemasan seperti buah dan sayur, anak kudu memperhatikan bagian-bagiannya. Adakah tanda-tanda pembusukan? Ajari anak memilih produk yang bagus sebelum membayarnya.

7. Kebutuhan versus keinginan

ilustrasi berbelanja (pexels.com/Timur Weber)
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Timur Weber)

Bukan hanya orang dewasa yang sering tergiur oleh berbagai keinginan kala berbelanja. Anak juga bisa berperilaku impulsif ketika pergi berbelanja sendiri. Orangtua menyuruh anak membeli kebutuhan dapur dan satu jenis jajanan sebagai imbalan.

Akan tetapi, pulang-pulang anak justru membawa lebih banyak jajanan. Bahkan uang yang seharusnya masih bersisa malah ludes atau kurang. Latih anak untuk mengendalikan keinginannya dan mengutamakan kebutuhan.

Kemandirian dalam hal apa pun diperoleh anak secara bertahap. Sebagai langkah awal, selain memberi ilmu mengenai pelajaran belanja, kita dapat sering mengajak anak pergi berbelanja. Mulanya kita yang aktif berinteraksi dengan penjual.

Kemudian pelan-pelan dorong anak supaya menggantikan peran kita. Kita cukup mengawalnya sampai transaksi selesai. Kalau anak sudah lancar berinteraksi dengan pedagang, mulailah mencoba mengutusnya berbelanja sendiri. Gak usah jauh-jauh, di sekitar rumah dulu dan bekali anak dengan uang secukupnya saja. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us