“Self-care bukanlah tindakan egois. Ini bukan hanya tentang meluangkan waktu untuk diri sendiri atau memanjakan diri. Ini tentang melindungi kesehatan mental dan menumbuhkan keberlanjutan,” kata Kristen Lee, Ed.D., LICSW, profesor ilmu perilaku dan psikoterapis dikutip dari laman Psychology Today.
Bukan Egois, Pentingnya Self-Care untuk Ibu di Masa Sulit

Menjadi ibu bukanlah peran yang sederhana. Di balik rutinitas harian yang terlihat biasa, ada tekanan emosional, fisik, dan mental yang sering kali tidak terlihat. Terlebih di masa sulit-baik karena tekanan ekonomi, masalah keluarga, atau kelelahan berkepanjangan-banyak ibu yang tetap memaksakan diri untuk kuat tanpa memberi ruang bagi dirinya sendiri.
Padahal, ibu juga manusia yang butuh istirahat, butuh didengar, dan butuh dirawat. Di sinilah pentingnya self-care. Bukan sebagai bentuk egois, tetapi sebagai kebutuhan dasar agar ibu tetap sehat secara mental.
1. Mengapa self-care itu penting untuk ibu?

Self-care bukan sekadar aktivitas santai seperti spa, ke salon atau liburan, tetapi mencakup upaya menjaga kesehatan mental dan emosional. Banyak ibu mengabaikan hal ini karena merasa harus selalu mendahulukan keluarga.
Menurut American Psychological Association, kurangnya perawatan diri dapat meningkatkan risiko stres kronis dan kelelahan emosional. Stres kronis bisa menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk kecemasan dan depresi.
2. Tantangan ibu di masa sulit

Di masa sulit, tekanan yang dirasakan bisa berlipat ganda. Selain mengurus keluarga, ibu sering kali harus menjadi penopang emosional bagi semua anggota rumah. Tapi ketika ibu telah menemukan cara sehat untuk mengatasi tantangan dalam situasi sulit, ini bisa mendatangkan banyak kebahagiaan.
"Kita mengatasi situasi yang tidak terduga, belajar menyesuaikan diri dengan gangguan, dan menemukan kegembiraan di tempat-tempat yang tak terduga," jelas profesional kesehatan mental berlisensi Joannie DeBrito, Ph.D., LCSW, LMFT dikutip dari Focus on The Family.
"Berjuang dan bertahan melewati setiap cobaan bisa dengan tetap fokus pada kasih, anugerah, dan rasa syukur. Membangun jaringan pendukung pribadi dan profesional sangat penting bagi peran ibu dalam situasi sulit," lanjutnya.
3. Bentuk self-care yang realistis untuk ibu

Self-care tidak harus rumit atau mahal. Bahkan hal kecil seperti tidur cukup, makan dengan tenang, atau punya waktu sendiri sudah termasuk bentuk self-care yang penting. Menurut psikolog Matthew Sacco, PhD., bentuk self-care ini bisa bermacam-macam bahkan hal kecil, paling penting bisa meningkatkan kesejahteraan fisik, emosional, psikologis, atau bahkan spiritual.
"Dalam hal kesehatan fisik, olahraga dan diet. Ini tentang bagaimana kamu mengelola kesejahteraan emosional. Itu dapat mencakup teknik relaksasi dan bahkan sosialisasi,” jelasnya dikutip dari Clevel and Clinic.
Selain itu, kamu juga bisa mencoba mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya mengurangi membuka media sosial yang dapat menyebabkan kebiasaan buruk seperti terus-menerus membaca berita negatif.
“Melepaskan diri dari media sosial dan pergi ke tempat di mana kamu tidak akan diganggu dapat membantu,” tambahnya.
4. Pentingnya dukungan sosial

Self-care tidak selalu harus dilakukan sendiri. Dukungan dari pasangan, keluarga, atau teman sangat berperan dalam membantu ibu melewati masa sulit. Menurut penelitian dari National Institutes of Health, dukungan sosial merupakan faktor kunci dalam ketahanan dan mengatasi stres.
Di balik sosok ibu yang melakukan segalanya, mungkin ada seorang ibu yang juga berada di ambang kelelahan. Perempuan bisa menjadi multitasker ulung, tetapi kekuatan besar ini juga berarti mereka memiliki risiko kelelahan tertinggi. Dan para ibu, yang tidak hanya mengurus diri sendiri tetapi juga keluarga, sangat berisiko.
“Saya selalu mengatakan bahwa pikiran lebih cepat lelah daripada tubuh. Ini bisa berlaku dalam olahraga dan juga dalam latihan mental — dan terutama ketika kita melakukan multitasking,” kata psikolog kesehatan klinis Amy Sullivan, PsyD dikutip dari Clevel and Clinic.
"Cobalah berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: 'Apakah ini benar-benar perlu dilakukan sekarang? Atau saat ini, apakah memprioritaskan diri sendiri dan kebutuhan kamu lebih penting?'," sarannya.
Jadi, selain mendapat dukungan dari orang terdekat, terkadang seorang ibu juga perlu menerapkan batasan. Tidak semua hal harus diselesaikan saat itu juga, ambil waktu sejenak untuk diri sendiri.
5. Mengatasi rasa bersalah saat melakukan self-care

Banyak ibu merasa bersalah saat mengambil waktu untuk diri sendiri. Mereka takut dianggap egois atau kurang peduli pada keluarga. Dalam studi Journal of Family Psychology, rasa bersalah adalah penghalang umum untuk perawatan diri, terutama di kalangan pengasuh.
Namun, para ahli menegaskan bahwa self-care justru membantu ibu menjadi lebih baik dalam menjalankan perannya. Merawat diri sendiri membuat kamu menjadi pengasuh yang lebih baik, bukan yang lebih buruk.
"Belajarlah untuk mengevaluasi kembali tanggung jawab kamu dan merasa nyaman untuk melepaskan beberapa hal," saran Dr. Sullivan.
Dr. Sullivan menyarankan melakukan teknik pernapasan dalam. Tarik napas dalam-dalam dan perlahan sepanjang hari. Meluangkan olahraga dan meditasi juga membantu mengatasi semua tekanan atau bahkan rasa bersalah.
“Semua praktik ini sangat mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat sangat membantu dalam manajemen stres,” kata Dr. Sullivan.
Self-care untuk ibu bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Di tengah segala tuntutan dan tanggung jawab, ibu tetap berhak untuk merasa tenang, bahagia, dan dihargai, termasuk oleh dirinya sendiri.


















