- Kamu punya dana darurat?
- Cicilan aman?
- Tabungan jalan?
- Kebutuhan sendiri dan pasangan sudah terpenuhi?
Perlukah Menanggung Biaya Pendidikan Saudara?

Melihat kamu sebagai anak yang sudah bekerja dan penghasilan mulai stabil, orang tua mungkin meminta kamu menanggung biaya pendidikan saudara, entah adik atau kakak. Ini mungkin membuat perasaanmu langsung campur aduk. Di satu sisi ingin membantu, tapi di sisi lain kamu juga punya hidup, mimpi, dan kebutuhan sendiri.
Topik ini sensitif, karena menyangkut keluarga, rasa tanggung jawab, dan rasa tidak enak hati pada keluarga. Namun, justru karena itu, penting sekali dibahas dengan kepala dingin, bukan hanya pakai perasaan. Untuk membantu menjawab kegalauanmu, yuk kita bahas perlu tidaknya menanggung biaya pendidikan saudara!
1. Membantu saudara itu perbuatan mulia, tapi bukan kewajiban mutlak

Secara moral, membantu saudara itu baik. Apalagi kalau kamu dan dia tumbuh di rumah yang sama, pernah berbagi suka dan duka. Wajar kalau muncul dorongan untuk ikut membiayai sekolah atau kuliahnya.
Namun, perlu diingat, itu bukanlah kewajiban mutlak. Yang wajib menanggung biaya pendidikan anak tetap orang tua, Kakak, adik, atau saudara hanya opsional, bukan wajib. Jadi, kalau kamu membantu, itu adalah bentuk kebaikan, bukan beban yang harus kamu tanggung seumur hidup. Ini penting supaya kamu tidak terjebak rasa bersalah berlebihan saat suatu hari kamu harus mengurangi atau menghentikan bantuan.
2. Lihat dulu kondisi keuanganmu sendiri

Sebelum memutuskan untuk membantu, kamu harus jujur pada diri sendiri apakah keuangan kamu sehat atau tidak. Coba cek:
Kalau kamu sendiri masih ngos-ngosan, gaji mepet tiap bulan, atau belum punya pegangan finansial, memaksakan diri membantu biaya pendidikan saudara justru bisa membuat kamu jatuh bareng-bareng. Ingat, kamu tidak bisa menolong orang lain kalau kamu sendiri tenggelam. Jadi, jangan asal membantu kalau finansialmu belum benar-benar aman.
3. Bedakan antara membantu sesekali dan menanggung penuh

Ada perbedaan besar antara membantu sesekali dan tanggung jawab penuh. Membantu sesekali itu biasanya berupa uang buku, seragam, uang kegiatan, atau UKT sesekali. Sementara, menanggung penuh artinya bertanggung jawab atas seluruh biaya pendidikan sampai lulus.
Kalau kamu ambil peran sebagai penanggung utama, risikonya juga besar:
- Kamu bisa tertekan secara mental
- Saudara bisa jadi terlalu bergantung
- Orang tua bisa lepas tangan tanpa sadar
Lebih amannya, jelaskan dari awal kalau bantuanmu sifatnya terbatas dan sementara. Misalnya:
- “Aku bantu UKT semester ini ya.”
- “Aku bantu buku dan kos, tapi makan tanggung sendiri.”
Ini penting agar semua pihak paham batasnya dan tidak bergantung penuh padamu.
4. Pertimbangkan sikap dan usaha saudaramu

Ini penting tapi sering diabaikan. Sebelum asal memberi bantuan, cek lagi apakah saudaramu:
- serius sekolah
- punya tanggung jawab
- mau berusaha cari beasiswa atau kerja part-time
Kalau dia rajin, niat, dan berjuang, besar kemungkinan bantuanmu tidak akan sia-sia. Namun, kalau sikapnya terkesan santai, sering bolos, tidak berusaha cari beasiswa, atau tidak menghargai bantuan, kamu berhak berpikir ulang. Membantu pendidikan itu investasi, bukan sekadar transfer uang. Jadi, pastikan kamu memberikan bantuan pada orang yang amanah.
5. Kalau sudah berkeluarga, prioritas harus lebih tegas

Untuk kamu yang sudah menikah, topik ini jadi makin sensitif. Karena uang yang kamu pakai bukan hanya uangmu sendiri, tapi juga uang keluarga kecilmu. Jadi, kebutuhan pasangan dan anak tetap jadi prioritas utama. Membantu saudara boleh, tapi jangan sampai:
- mengorbankan tabungan anak
- mengganggu stabilitas rumah tangga
- membuat pasangan merasa diabaikan
Penting untuk berdiskusi dulu dengan pasangan sebelum memutuskan untuk jadi donatur. Apalagi kalau bantuannya besar.
Jadi, membantu saudara itu boleh, kalau mampu. Namun, tidak wajib, kalau dirasa memberatkan. Bagaimana pun juga, kamu tetap manusia, bukan mesin ATM keluarga. Bantu kalau bisa, mundur kalau perlu, dan jangan merasa berdosa hanya karena kamu memilih menjaga diri sendiri dulu. Karena pada akhirnya, keluarga yang sehat itu bukan yang saling mengorbankan secara diam-diam, tapi yang saling jujur dan saling menguatkan.


















