Libur Sekolah, 9 Permainan Anak yang Gak Boleh Dilakukan Sembarangan

Jenis permainan anak banyak sekali. Anak-anak bahkan seperti menemukan kesenangan dalam setiap hal. Sehingga apa pun dapat menjadi bahan mainan. Tentu bermain adalah kegiatan yang penting bagi anak.
Bukan sekadar untuk mengisi waktu serta mencari kesenangan. Bermain juga mengasah kreativitas anak, kemampuan bekerja sama, jiwa kompetisi, sportivitas, dan masih banyak lagi. Meski demikian, orangtua wajib tetap membimbing anak.
Jangan sampai permainan yang dilakukan justru membahayakan. Boleh jadi jenis permainannya tidak berbahaya, tetapi salah tempat sehingga ada potensi ancaman keselamatan. Anak-anak wajib terus dinasihati dan ditegur kalau melakukannya secara sembarangan. Seperti sembilan permainan favorit anak Indonesia apalagi di musim libur sekolah berikut ini.
1. Main layangan

Mungkin saat kamu kecil juga suka main layangan. Terlebih ketika libur sekolah jatuh di musim kemarau. Biasanya sore hari anginnya kencang dan mudah untuk menerbangkan layang-layang.
Namun, larang anak memainkannya di tepi jalan atau kompleks permukiman. Senar layangan bisa mengenai kabel listrik bahkan pengendara sepeda motor. Akibatnya tak main-main. Pengendara dapat terluka di bagian wajah, leher terjerat, atau jatuh dari motor.
2. Sepedaan

Bersepeda tampaknya menjadi permainan yang sangat bermanfaat. Sekalian agar anak terbiasa berolahraga. Akan tetapi, main sepeda juga dapat berbahaya apabila dilakukan di jalan yang ramai atau kendaraan-kendaraan melintas dengan kencang. Termasuk, bersepeda di kawasan yang masih dalam tahap pembangunan sehingga banyak truk dan alat berat.
3. Bola

Barangkali tidak ada anak yang tak suka bermain bola. Bahkan main bola juga digemari anak perempuan. Namun, bermain bola di dekat rumah-rumah bisa merusak properti orang. Misalnya, bola mengenai kaca jendela, kaca mobil, pot, atau lampu taman. Suara bola disepak secara terus-menerus juga menyebabkan suasana berisik yang mengganggu orang-orang.
4. Memanjat

Energi anak yang aktif seperti tak ada habisnya. Anak cowok biasanya suka sekali memanjat apa pun. Baik pohon, pagar, tembok, dan semua benda yang tinggi. Anak cewek juga bisa begitu.
Orangtua wajib memberi tahu anak bahwa tidak semua benda aman dan boleh dipanjat. Pohon misalnya, ada pohon yang kuat atau rapuh. Tembok atau pagar rumah tetangga juga tidak boleh dipanjat dengan alasan apa pun. Itu menganggu privasi tuan rumah plus bikin dindingnya kotor.
5. Petasan

Meski tidak mendekati hari raya apa pun, boleh jadi di sekitar tempat tinggalmu ada penjual petasan. Larang anak membeli dan memainkannya. Bagaimanapun juga bermain petasan bisa sangat berbahaya. Pun suara ledakannya memekakkan telinga orang-orang.
6. Tantangan

Anak-anak kadang saling menantang untuk menemukan keseruan. Contohnya, tantangan melompat dari tempat yang tinggi atau memegang binatang yang cukup berbahaya. Misalnya, anakan ular yang terlihat di semak-semak.
Juga melompati punggung teman seperti dalam ilustrasi. Jelaskan pada anak setiap bahayanya. Seperti anak bisa jatuh dan patah tulang atau tergigit ular berbisa. Tegaskan agar anak tidak perlu memenuhi tantangan yang berbahaya meski diejek teman.
7. Tembak-tembakan

Main perang-perangan memang seru. Akan tetapi, perhatikan betul alat yang digunakan sebagai senjata. Jangan sampai ada pelurunya meski terbuat dari plastik atau karet. Beberapa kejadian anak celaka karena matanya terkena peluru dari senapan mainan pantas menjadi pelajaran.
8. Kejar-kejaran

Sama seperti permainan perang-perangan, kejar-kejaran sama teman juga sangat menyenangkan. Baik anak yang dikejar maupun mengejar menjadi lebih bersemangat. Larinya pasti kencang. Di situlah letak bahayanya.
Anak dapat tahu-tahu tersandung dan jatuh. Lukanya boleh jadi gak cuma di lutut, tapi hidung atau bibir berdarah. Bahkan gigi bisa patah kalau menghantam jalan yang keras.
9. Pukul-pukulan

Coba perhatikan saat anak-anak bermain pukul-pukulan. Pasti tak lama kemudian ada anak yang menangis. Ini bukan tanpa sebab. Biasanya tambah lama pukulan yang dilayangkan sebagai balasan juga tambah keras. Awalnya cuma bercanda, akhirnya justru sungguh-sungguh menyakiti kawan. Pun takutnya anak menjadi terbiasa melakukan kekerasan.
Anak-anak wajar suka bermain. Akan tetapi, orangtua tetap wajib melakukan pengawasan dan memberikan bimbingan. Jangan membiarkan mereka melakukan semua hal yang diinginkan padahal tidak baik bahkan sangat berbahaya.


















