ilustrasi anak perempuan tertidur (pexels.com/artempodrez)
Jika anak masih sering menunda waktu tidur, orangtua bisa membuat jadwal visual menggunakan gambar sederhana. Jadwal tersebut dapat menunjukkan urutan aktivitas, seperti mandi, menyikat gigi, membaca, lalu tidur. Dengan begitu, anak bisa mengetahui tahapan yang perlu dilakukan sebelum tidur.
Untuk beberapa anak, orangtua juga bisa menggunakan timer agar mereka mengetahui batas waktu setiap aktivitas. Misalnya, jika mandi selesai dalam 25 menit, anak masih punya waktu untuk membaca atau berpelukan sebelum lampu dimatikan. Cara ini membantu menjaga rutinitas tetap terarah tanpa menghilangkan momen menyenangkan sebelum tidur.
“Hal ini benar-benar dapat membantu kamu tetap mengikuti jadwal karena dalam jadwal tersebut, kamu tidak kembali meminta segelas air, tidak pergi keluar, tidak meminta satu keping Lego tambahan, tidak ada yang menelepon, kita tidak memeriksa email atau melakukan hal lainnya,” pungkas Elizabeth.
Rutinitas tidur yang berantakan gak harus langsung diperbaiki dalam satu malam karena konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan. Dengan jadwal yang sederhana, waktu tidur yang jelas, dan rutinitas yang dilakukan berulang, anak bisa perlahan kembali terbiasa tidur tepat waktu.