Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Salah Kaprah Anak Neurodivergen yang Sering Dipercaya
ilustrasi anak neurodivergen (pexels.com/cottonbro)
  • Istilah neurodivergen menggambarkan variasi alami cara kerja otak manusia, bukan kondisi yang harus diperbaiki atau dianggap tidak normal.
  • Banyak salah kaprah tentang anak neurodivergen, seperti anggapan mereka sulit bersosialisasi, tidak bisa sukses, atau hanya ikut tren media sosial.
  • Dukungan dan pemahaman lingkungan sangat penting agar individu neurodivergen dapat berkembang optimal tanpa stigma atau perintah yang meremehkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Topik tentang neurodivergen makin sering dibicarakan. Terutama karena banyak orang lebih terbuka soal kesehatan mental. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan individu dengan kondisi seperti ADHD, autisme, dyslexia, dan lainnya.

Sayangnya, seiring meningkatnya kesadaran, masih banyak juga salah kaprah yang beredar dan dipercaya tanpa disadari. Masalahnya, salah kaprah ini bukan cuma soal miskonsepsi biasa. Dampaknya bisa cukup serius. Berikut ini lima salah kaprah yang sering kali dianggap benar.

1. Neurodivergen itu sama dengan “tidak normal”

ilustrasi anak neurodivergen (pexels.com/Cliff Booth)

Salah satu stigma paling umum adalah anggapan bahwa neurodivergen berarti “tidak normal”. Padahal, konsep neurodiversity justru menekankan bahwa perbedaan cara kerja otak adalah variasi alami manusia, bukan sesuatu yang harus selalu diperbaiki.

Setiap orang punya cara berpikir, belajar, dan merespons dunia yang berbeda. Neurodivergen bukan berarti kurang, tapi berbeda. Ketika kamu melihatnya dari sudut pandang ini, kamu bisa lebih menghargai keunikan yang dimiliki setiap individu, bukan malah melabeli secara negatif.

2. Mereka pasti berbeda dalam kehidupan sosial

ilustrasi anak neurodivergen (pexels.com/rdne)

Salah kaprah berupa anggapan bahwa anak neurodivergen pasti canggung, sulit bergaul, atau “aneh” di lingkungan sosial banyak dipercaya. Label ini sering muncul karena cara komunikasi atau respons mereka tidak selalu sesuai dengan standar umum. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Banyak individu neurodivergen yang tetap punya lingkaran pertemanan. Mereka bisa bersosialisasi dengan baik, dan bahkan punya cara komunikasi yang unik dan menarik. Hanya saja, mereka mungkin lebih selektif dalam memilih lingkungan atau membutuhkan waktu lebih untuk merasa nyaman.

3. Neurodivergen tidak bisa sukses dalam hidup

ilustrasi anak neurodivergen (pexels.com/Cliff Booth)

Ini salah kaprah yang cukup merugikan. Banyak yang menganggap bahwa individu neurodivergen akan kesulitan berkarier, belajar, atau menjalani kehidupan normal. Padahal, banyak juga yang justru berkembang dengan cara mereka sendiri dan mencapai kesuksesan di berbagai bidang.

Kuncinya ada pada lingkungan yang mendukung dan pemahaman terhadap kebutuhan mereka. Ketika seseorang diberi ruang untuk berkembang sesuai dengan cara kerjanya, potensi yang dimiliki justru bisa muncul lebih maksimal. Jadi, bukan soal bisa atau tidak, tapi soal bagaimana sistem di sekitar mereka beradaptasi.

4. Neurodivergen sering dianggap tren atau label sosial

ilustrasi neurodivergen (unsplash.com/Hiki App)

Di era media sosial, topik kesehatan mental memang sering jadi bahan diskusi. Ini membuat sebagian orang menganggap neurodivergen hanya sebagai tren atau label yang dipakai untuk terlihat berbeda. Padahal, kondisi ini nyata dan memiliki dasar ilmiah yang jelas.

Menganggapnya sebagai tren bisa membuat pengalaman orang yang benar-benar mengalaminya menjadi tidak valid. Penting untuk membedakan antara self-awareness yang positif dengan sekadar ikut-ikutan. Nah, edukasi yang benar bisa membantu kamu melihat isu ini dengan lebih bijak.

5. Mereka tidak butuh dukungan, cukup disuruh fokus

ilustrasi anak neurodivergen (pexels.com/rdne)

Kalimat seperti “coba lebih fokus”, “jangan malas”, atau “kamu terlalu sensitif” sering dilontarkan tanpa sadar. Padahal, bagi individu neurodivergen, hal-hal tersebut bukan sekadar soal kemauan. Mereka membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam belajar, bekerja, maupun berinteraksi.

Dukungan yang tepat bisa berupa lingkungan yang lebih fleksibel, komunikasi yang jelas, atau bahkan bantuan profesional. Memahami ini adalah langkah awal untuk menjadi lebih empatik. Jadi, jangan asal memerintah mereka dengan kalimat yang tak seharusnya, ya!

Memahami neurodivergen adalah tentang mengubah cara pandang terhadap perbedaan. Kini, kamu bisa ikut menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Karena setiap orang berhak untuk dipahami, bukan dihakimi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team