Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sering Dianggap Introvert, 8 Ciri Autisme pada Dewasa yang Gak Disadari

Sering Dianggap Introvert, 8 Ciri Autisme pada Dewasa yang Gak Disadari
ilustrasi cewek introvert (freepik.com/pvproductions)
Intinya Sih
  • Artikel membahas delapan ciri autisme pada orang dewasa yang sering disalahartikan sebagai sifat introvert, seperti kelelahan sosial, sensitivitas sensorik, dan kesulitan memahami kode sosial.
  • Setiap ciri dijelaskan dengan contoh nyata serta tips praktis untuk mengelola energi mental, emosi, dan rutinitas agar individu dapat berfungsi lebih baik tanpa kehilangan jati diri.
  • Pesan utama artikel menekankan pentingnya mengenali dan menerima perbedaan cara kerja otak sebagai bentuk self-love serta langkah awal berdamai dengan diri sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah gak, kamu merasa selalu jadi orang paling "aneh" di tongkrongan meskipun sudah berusaha keras buat berbaur? Kamu sering merasa kelelahan mental yang luar biasa setelah bersosialisasi, seolah-olah baterai sosialmu bocor seketika. Pantas saja aku merasa berbeda selama ini, mungkin kalimat itu sering terlintas di pikiranmu saat melihat orang lain begitu mudah memahami kode sosial sedangkan kamu kesulitan. Nah, dengan memahami ciri-ciri autisme pada orang dewasa yang sering diabaikan ini menjadi langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri.

Kalau kamu terus-menerus mengabaikan tanda-tanda ini, kamu berisiko mengalami burnout kronis karena dipaksa hidup dalam standar orang normal, lho. Kamu mungkin merasa gagal sebagai orang dewasa hanya karena sulit mengatur jadwal atau merasa terganggu dengan suara bising yang bagi orang lain biasa saja. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam rasa bingung yang gak berkesudahan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada otakmu, ya. Yuk, kenali diri lebih baik!

1. Merasa lelah karena terlalu sering melakukan masking

ilustrasi masking
ilustrasi masking (unsplash.com/Sydney Latham)

Banyak orang dewasa tanpa sadar melakukan masking atau berpura-pura menjadi "normal" agar bisa diterima di lingkungan kerja atau pertemanan. Kamu memaksakan diri melakukan kontak mata, meniru ekspresi wajah orang lain, hingga menyiapkan skrip percakapan di kepala sebelum mulai bicara. Hal ini sangat melelahkan dan sering kali membuat kamu merasa kehilangan jati diri yang asli demi kenyamanan orang lain.

Cobalah untuk mulai memberikan waktu bagi diri sendiri untuk melepas "topeng" tersebut di lingkungan yang aman atau saat sendirian. Kamu gak perlu selalu tampil sempurna dan sinkron dengan energi orang di sekitarmu sepanjang waktu. Manfaatnya, kamu bakal punya cadangan energi mental yang lebih banyak dan gak gampang emosi di akhir hari, lho.


2. Terlalu sensitif terhadap rangsangan panca indra

ilustrasi noise-canceling headphones bisa mengurangi sensitivitas rangsangan pada autisme dewasa
ilustrasi noise-canceling headphones bisa mengurangi sensitivitas rangsangan pada autisme dewasa (pexels.com/Ivan S)

Apakah suara gesekan sendok atau lampu kantor yang terlalu terang bisa bikin kamu ingin marah atau menangis? Masalah sensorik ini sering dianggap sepele atau dianggap sebagai perilaku yang "manja" oleh orang-orang di sekitarmu. Padahal, otakmu memang memproses informasi sensorik dengan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada orang pada umumnya.

Kalau sudah begini, gunakan alat bantu seperti noise-canceling headphones atau atur pencahayaan di ruang kerjamu agar lebih redup jika memungkinkan. Gak usah merasa gak enak kalau harus menjauh sebentar dari keramaian yang suaranya bikin telinga sakit. Dengan mengatur lingkungan sekitarmu, fokusmu bakal meningkat drastis dan suasana hatimu jadi jauh lebih stabil, kok.


3. Fokus mendalam pada hobi yang sangat spesifik

ilustrasi mengikuti komunitas merangkai bunga
ilustrasi mengikuti komunitas merangkai bunga (pexels.com/Amina Filkins)

Kamu mungkin punya satu atau dua topik yang kamu kuasai sampai ke akar-akarnya, mulai dari sejarah kereta api sampai teori konspirasi film. Saat membicarakan hal itu, kamu bisa lupa waktu dan gak sadar kalau lawan bicaramu sudah mulai merasa bosan atau bingung. Minat yang sangat intens ini sering kali dianggap sebagai obsesi aneh, padahal itu adalah cara otakmu mencari kebahagiaan.

Salurkan minat ini ke komunitas yang tepat atau jadikan sebagai aset dalam kariermu yang membutuhkan ketelitian tinggi. Jangan merasa minder kalau hobimu gak "umum" seperti orang kebanyakan di media sosial. Manfaatnya, kamu bisa menjadi ahli di bidang tersebut dan menemukan kepuasan batin yang gak didapatkan orang lain dari hal-hal yang biasa, lho.


4. Sulit menangkap maksud tersirat dalam percakapan

ilustrasi gak sungkan meminta penjelasan ulang pada lawan bicara
ilustrasi gak sungkan meminta penjelasan ulang pada lawan bicara (pexels.com/cottonbro studio)

Sering gak, kamu dianggap terlalu jujur atau malah gagal paham saat seseorang memakai sarkasme atau bahasa kiasan? Kamu cenderung memproses informasi secara literal, sehingga instruksi yang gak jelas kerap membuatmu merasa bingung dan cemas. Hal ini sering membuatmu dicap kaku atau gak asyik saat diajak bercanda yang penuh dengan kode-kode tertentu.

Mulailah berkomunikasi secara terbuka dengan orang terdekat bahwa kamu lebih nyaman dengan instruksi yang jelas dan langsung pada intinya. Gak perlu malu buat bertanya kembali jika ada ucapan teman yang terdengar ambigu di telingamu. Komunikasi yang lugas bakal mengurangi kesalahpahaman dan bikin hubungan pertemananmu jadi lebih santai tanpa drama.


5. Sangat bergantung pada rutinitas yang tetap

ilustrasi to-do-list (pexels.com/Breakingpic)
ilustrasi to-do-list (pexels.com/Breakingpic)

Perubahan rencana yang mendadak, seperti janji temu yang tiba-tiba batal atau rute jalan yang dialihkan, bisa bikin duniamu terasa runtuh. Kamu merasa aman saat hidup dalam pola yang teratur dan bisa diprediksi setiap harinya tanpa ada kejutan yang gak perlu. Bagi orang lain ini mungkin terlihat membosankan, tapi bagi kamu, rutinitas adalah jangkar yang menjaga kewarasan.

Berikan dirimu waktu tambahan untuk beradaptasi jika memang ada perubahan jadwal yang gak bisa dihindari di kantor atau rumah. Buatlah catatan kecil atau checklist untuk membantumu memvisualisasikan perubahan tersebut agar gak terlalu mengagetkan mental. Dengan rutinitas yang terjaga, tingkat stresmu akan jauh lebih rendah dan kamu bisa berfungsi secara maksimal.


6. Kesulitan mengelola emosi secara tiba-tiba

ilustrasi emosi negatif (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi emosi negatif (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Pernah merasa emosimu meledak hanya karena hal kecil, atau justru merasa mati rasa total saat menghadapi situasi yang emosional? Kondisi yang sering disebut meltdown (ledakan emosi) atau shutdown (menarik diri), keduanya terjadi ketika sistem sarafmu sudah terlalu penuh dan gak sanggup lagi memproses stimulasi. Orang luar mungkin melihatnya sebagai tantrum, padahal itu adalah respon biologis tubuhmu yang sudah kewalahan.

Cari tahu pemicu apa saja yang biasanya membuat emosimu meluap dan siapkan strategi "pelarian" yang aman sebelum hal itu terjadi. Belajarlah untuk memvalidasi perasaanmu sendiri tanpa harus merasa bersalah karena gak bisa bereaksi seperti orang normal, ya. Hal ini dapat membantumu jadi lebih mengenal batas kemampuan diri dan bisa mencegah stres berkepanjangan.


7. Cenderung menghindari kontak mata saat bicara

ilustrasi menghindari kontak mata pada lawan bicara
ilustrasi menghindari kontak mata pada lawan bicara (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Bagi banyak orang dewasa dengan autisme, menatap mata lawan bicara rasanya sangat intens, gak nyaman, bahkan bisa menyakitkan secara fisik. Kamu merasa lebih mudah memproses kata-kata orang lain jika pandanganmu diarahkan ke tempat lain atau sambil memainkan jemari. Sayangnya, budaya kita sering menganggap orang yang gak menatap mata itu gak sopan atau sedang berbohong.

Kamu bisa mencoba menatap area di antara kedua alis atau hidung lawan bicaramu jika memang harus terlihat melakukan kontak mata. Namun, jangan ragu untuk memberitahu teman dekatmu bahwa kamu bisa menyimak lebih baik tanpa harus saling menatap, ya. Hal ini bakal mengurangi beban mentalmu saat mengobrol dan bikin interaksi sosial terasa gak seberat biasanya.


8. Sering mengalami masalah eksekutif disfungsi

ilustrasi bekerja dengan teknik dobel doubling
ilustrasi bekerja dengan teknik dobel doubling (pexels.com/Thirdman)

Kamu mungkin punya IQ tinggi, tapi merasa sangat sulit untuk memulai tugas sederhana seperti mencuci piring atau membalas pesan WhatsApp. Masalah eksekutif disfungsi ini bikin kamu sering dianggap malas atau gak bertanggung jawab, padahal otakmu hanya kesulitan membagi tugas menjadi langkah-langkah kecil. Rasanya seperti ada dinding yang menghalangimu untuk bergerak meski kamu sangat ingin melakukannya.

Kalau sudah sampai tahap ini, kamu perlu menggunakan aplikasi pengatur tugas atau teknik body doubling (bekerja sambil ditemani orang lain meski gak berinteraksi) untuk memicu fokusmu. Jangan terlalu keras pada diri sendiri kalau daftar pekerjaanmu gak selesai semua dalam satu hari. Dengan strategi yang tepat, kamu bisa tetap produktif tanpa harus merasa tertekan oleh ekspektasi yang gak realistis.

Memahami ciri-ciri autisme pada orang dewasa yang sering diabaikan membantu kamu berhenti menyalahkan diri sendiri atas segala "keanehan" yang dirasakan oleh dirimu. Setiap orang punya cara kerja otak yang unik, dan menjadi berbeda bukan berarti kamu rusak atau kurang dari yang lain. Tetap semangat dalam mengenali diri sendiri, karena menerima keunikanmu adalah bentuk self-love paling nyata yang bisa kamu lakukan hari ini!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us