“Ketika orangtua jarang menunjukkan kasih sayang atau lebih sering mengkritik, anak bisa tumbuh dengan perasaan tidak aman yang tertanam kuat sejak dini,” jelas Carla Marie Manly, PhD, psikolog klinis, dikutip dari Psych Central.
7 Sikap Orangtua yang Tanpa Disadari Bikin Anak Merasa Tak Disayang

Banyak orangtua merasa telah mencintai anaknya dengan sepenuh hati. Namun, dalam dinamika psikologis, cinta bukan hanya soal niat, melainkan juga tentang bagaimana cinta itu dirasakan oleh anak. Tanpa disadari, sikap-sikap tertentu justru meninggalkan luka emosional yang bertahan hingga anak dewasa.
Anak bisa saja tumbuh dalam keluarga yang terlihat baik-baik saja dari luar. Namun, di balik itu, ada rasa hampa yang sulit dijelaskan dan terus terbawa ke dalam relasi lain. Yuk, kenali beberapa sikap orangtua yang tanpa disadari bisa membuat anak merasa tak disayang.
1. Menghindari pembicaraan emosional yang sulit

Sebagian orangtua memilih menghindari percakapan emosional karena dianggap melelahkan atau berpotensi memicu konflik. Saat anak mencoba membicarakan perasaannya, tetapi respons yang diterima justru diam atau pengalihan topik, anak perlahan belajar bahwa emosinya tidak penting. Dari sinilah jarak emosional mulai terbentuk.
Anak pun terbiasa memendam perasaan sendiri. Mereka belajar bertahan tanpa ruang aman untuk berbagi emosi. Lama-kelamaan, rasa tidak disayang tumbuh karena mereka tidak pernah benar-benar merasa didengar.
2. Jarang memberikan validasi dan rasa bangga

Validasi emosional bukan bentuk memanjakan, melainkan kebutuhan dasar anak. Ketika orangtua jarang mengungkapkan rasa bangga atau apresiasi, anak cenderung mengukur nilai dirinya hanya dari pencapaian. Mereka merasa harus “cukup baik” terlebih dahulu untuk layak dicintai.
Dalam jangka panjang, anak tumbuh dengan harga diri yang rapuh. Mereka terus mencari pengakuan dari luar untuk merasa berharga. Di dalam hati, tersimpan keyakinan bahwa cinta selalu bersyarat.
3. Terus mengontrol meski anak sudah dewasa

Bagi sebagian orangtua, melepaskan kendali bukanlah hal yang mudah. Namun, terus mengatur pilihan hidup anak yang sudah dewasa membuat anak merasa tidak dipercaya. Cinta pun terasa lebih seperti pengawasan daripada dukungan.
Akibatnya, anak menjadi ragu terhadap keputusan sendiri. Mereka takut salah bahkan sebelum mencoba. Rasa tidak disayang muncul karena kepercayaan tak pernah benar-benar diberikan.
4. Memaksakan standar dan ekspektasi pribadi

Tak sedikit orangtua membawa harapan pribadinya ke dalam hidup anak. Mulai dari pilihan karier hingga cara menjalani hidup yang dianggap paling benar. Saat ekspektasi ini dipaksakan, anak kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Anak akhirnya hidup demi memenuhi harapan orangtua. Alih-alih bahagia, yang muncul justru tekanan emosional. Dari situ, perasaan tidak dicintai apa adanya perlahan tumbuh.
5. Terjebak pada kesalahan dan label masa lalu

Sebagian orangtua masih mendefinisikan anak berdasarkan kesalahan lama. Padahal, setiap individu berhak bertumbuh dan berubah. Label masa lalu membuat anak merasa usahanya tidak pernah cukup.
Secara emosional, kondisi ini sangat melelahkan. Anak merasa tidak pernah benar-benar dikenali sebagai versi dirinya saat ini. Rasa tidak disayang pun tumbuh secara perlahan, tetapi menetap.
6. Tidak mendukung mimpi dan pilihan hidup anak

Dukungan orangtua memberi anak rasa aman untuk berkembang. Ketika mimpi anak diremehkan atau dianggap tidak realistis, anak merasa keinginannya tidak penting. Hal ini bisa mematikan motivasi dan kepercayaan diri.
Anak pun lebih memilih menyimpan impiannya sendiri. Mereka takut dihakimi atau dianggap mengecewakan orangtua. Rasa tidak disayang muncul karena tidak pernah merasa ditemani dalam perjalanan hidupnya.
“Kamu bisa mendukung keinginan anak tanpa mengorbankan nilai yang kamu anggap penting. Mendengarkan, memvalidasi, lalu menyusun rencana bersama membuat anak tahu bahwa mereka dicintai dan merasa aman,” kata Dr. Sheryl Ziegler, psikolog, dikutip dari YourTango.
7. Bersikap dingin secara emosional

Sebagian orangtua kesulitan mengekspresikan kasih sayang secara emosional. Minim empati, pelukan, atau kata-kata hangat membuat hubungan terasa hampa. Anak bisa merasa dekat secara fisik, tetapi jauh secara batin.
Anak juga tumbuh dengan kebingungan terhadap emosinya sendiri. Mereka sulit merasa pantas dicintai secara terbuka. Dari sinilah luka emosional terbentuk dan terbawa hingga dewasa.
Pada akhirnya, tidak ada orangtua yang sengaja ingin melukai anaknya. Namun, dengan lebih peka terhadap kebutuhan emosional anak, hubungan yang hangat dan penuh rasa aman tetap bisa dibangun, bahkan setelah banyak luka terjadi.



















