Sindrom Pengin Pulang: Saat Mahasiswa Baru Dilanda Rindu Rumah

- Sindrom pengin pulang dialami banyak mahasiswa baru karena sulit beradaptasi dengan lingkungan kampus dan kehidupan kos yang berbeda dari rumah.
- Delapan faktor utama pemicu sindrom ini meliputi kesulitan bersosialisasi, kerinduan pada keluarga, beban tugas kuliah, hingga sikap buruk kakak tingkat.
- Mahasiswa disarankan untuk tidak memendam perasaan rindu rumah dan sebaiknya berbagi cerita dengan keluarga atau teman agar lebih betah menjalani masa awal kuliah.
Di setiap lingkungan dan peran baru, manusia butuh waktu untuk beradaptasi. Tidak terkecuali ketika kamu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ini gak sesimpel sekadar dirimu pindah tempat belajar.
Jika kamu indekos, tantangan adaptasi lebih besar. Dirimu bakal mengalami sindrom pengin pulang yang sangat kuat. Jangankan anak kos, andai pun kamu kuliah di dalam kota dan tinggal bareng orangtua, sindrom ingin pulang dapat tetap dialami.
Inti dari sindrom ini adalah perasaan tidak betah yang kuat di kampus dan atau kos-kosan sehingga dirimu ingin sekali pulang pada orangtua. Rumah orangtua menjadi sumber rasa aman yang tak tergantikan. Beratnya minggu awal perkuliahan sampai memunculkan sindrom pengin pulang biasanya karena delapan penyebab berikut.
1. Belum bisa akrab dengan teman

Kamu bukannya sama sekali tidak punya kawan. Tentu dirimu sudah berkenalan dengan banyak teman baru. Hanya saja, untuk akrab pastinya gak gampang. Butuh waktu yang cukup lama. Apalagi jika kamu bukan tipe ekstrover. Kondisi begini dapat membuatmu merasa aneh dan belum nyaman dengan kehidupan kampus.
2. Pertama merantau, hati tertinggal di rumah

Untukmu yang baru kali ini merantau pasti merasa gelisah. Satu sisi, berkuliah jauh dari orangtua merupakan pilihanmu sendiri. Namun, wajar apabila hati rasanya masih tertinggal di rumah. Ini yang membuat usahamu buat fokus ke perkuliahan dapat terasa gak mudah.
3. Merasa mata kuliahnya aneh-aneh

Kamu tidak mengambil jurusan Sastra Inggris atau Pendidikan Bahasa Inggris. Akan tetapi, di semester pertama ada mata kuliah Bahasa Inggris. Juga Pancasila, Kewirausahaan, Agama, dan sebagainya. Rasanya malah seperti balik ke masa SMA. Mending pulang saja gak, sih?
4. Kurang sreg dengan jurusannya

Kali ini sejak awal dirimu memang merasa kurang suka dengan jurusannya. Jurusan itu dipilih semata-mata buat mengantisipasi kamu gak lolos di pilihan pertama. Akibatnya, minggu pertama kuliah terasa seperti siksaan. Dirimu merasa tempatmu seharusnya tidak di situ.
5. Jadwal kuliah yang gak serapi sekolah bikin bingung

Terkesan remeh, tetapi jadwal kuliah yang lebih acak daripada sekolah dapat membingungkan mahasiswa baru. Ketika kamu bersekolah, jamnya jelas dari pagi sampai sore. Pelajaran juga terus berurutan.
Sementara jadwal kuliah bisa sejak pagi, siang, atau bahkan satu hari cuma ada satu mata kuliah di sore hari. Kadang juga jadwal kuliah yang seharusnya pagi mendadak dipindah siang. Semua hal yang tidak serapi biasanya menimbulkan perasaan gak betah.
6. Kewalahan dengan tugas-tugas yang menantang

Baru saja kamu menjadi mahasiswa, tugas-tugas menantang telah menanti. Ada dosen yang langsung menyuruh mahasiswa membuat tulisan tentang beberapa topik yang bersumber dari buku-buku luar negeri. Bahkan bukunya gak ada versi terjemahannya dan tebal sekali.
Di perpustakaan kampusmu saja belum tentu ada. Kamu dan teman-teman sampai harus mencarinya di perpustakaan kampus lain. Lalu tugas presentasi ini itu dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dari dosen dan teman. Dirimu deg-degan terus memikirkan tugas yang menumpuk.
7. Kesehatan terganggu

Gangguan kesehatan pada mahasiswa baru juga sangat umum terjadi. Khususnya mahasiswa yang merantau. Capek pindahan dari rumah ke kos-kosan, padatnya kegiatan mahasiswa baru, ditambah tak ada orangtua yang menyiapkan makanan bikin tubuh kacau balau. Kalau dirimu gak telat makan justru jajan sembarangan dan bikin sakit.
8. Sikap buruk kakak tingkat

Penyebab berikutnya ialah ada kakak tingkat yang bersikap buruk terhadapmu. Terutama selama masa ospek. Ospek sudah selesai saja kerap kali sikap sok senior masih berlanjut. Ini membuatmu tertekan dan membayangkan kenyamanan di rumah bersama keluarga yang selalu melindungi.
Saat kamu merasakan sindrom pengin pulang sebaiknya jangan terus dipendam. Bicarakan baik dengan keluarga maupun sesama anak kos. Dirimu bakal memperoleh suntikan semangat sekaligus pendampingan supaya lebih betah dengan kehidupan barumu sebagai mahasiswa.


















