ilustrasi khawatir (vecteezy.com/Nakama ma)
Salah satu alasan snowplow parenting makin sering dilakukan adalah lingkungan yang terasa penuh ancaman. Berita yang terus muncul sepanjang hari dan media sosial yang menampilkan berbagai hal buruk dapat membuatmu merasa anak harus selalu dilindungi. Teknologi juga membuat intervensi menjadi semakin mudah karena kamu bisa mengirim pesan ke guru, menelepon sekolah, atau mengurus berbagai keperluan anak hanya dalam hitungan detik.
Carla Naumburg, seorang pekerja sosial klinis, menjelaskan bahwa ketika orangtua mengambil keputusan berdasarkan kecemasan, mereka cenderung berusaha meredakan rasa takut daripada mengajari anak menghadapi situasi sulit. Menurut penelitian dalam jurnal Child Psychiatry and Human Development, kecemasan pada orangtua dan perilaku pengasuhan tertentu dapat berperan dalam proses penularan kecemasan dalam keluarga. Karena itu, sebelum buru-buru turun tangan, kamu bisa mencoba berhenti sejenak dan bertanya apakah anak memang membutuhkan bantuan atau sebenarnya hanya membutuhkan kesempatan untuk belajar.
Melindungi anak tentu bukan sesuatu yang salah. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah perlindungan tersebut membuat anak semakin siap menghadapi kehidupan atau justru membuatnya selalu bergantung pada bantuanmu. Kamu tetap boleh memberikan arahan, membantu ketika masalahnya terlalu berat, dan berada di samping anak ketika mereka sedang kesulitan. Namun, gak semua masalah harus kamu selesaikan untuk mereka, ya.
Daripada selalu menjadi “pembuka jalan”, kamu bisa perlahan berubah menjadi orangtua yang membantu anak melihat gambaran besarnya. Ketika anak menghadapi masalah, coba tanyakan, “Menurut kamu, apa yang bisa dilakukan?” atau “Kalau kejadian seperti ini lagi, apa yang mau kamu lakukan berbeda?” Dengan begitu, kamu tetap hadir sebagai tempat anak mencari dukungan, tapi mereka juga punya ruang untuk belajar mandiri, menghadapi kegagalan, dan membangun kemampuan menghadapi tantangan.