Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Snowplow Parenting: Gaya Asuh yang Justru Bisa Bikin Anak Rentan Cemas
ilustrasi anak kecil (unsplash.com/Ana Curcan)
  • Snowplow parenting terjadi saat orangtua terlalu sering menyingkirkan hambatan dan mengambil alih masalah anak, sehingga anak kehilangan kesempatan belajar dari kesalahan, kekecewaan, serta solusi sendiri.

  • Minimnya pengalaman menghadapi frustrasi dan konsekuensi dapat melemahkan daya tahan, kemampuan memecahkan masalah, serta keyakinan anak bahwa tindakannya mampu mengubah keadaan.

  • Kecemasan orangtua dapat mendorong intervensi berlebihan dan berpotensi menular; orangtua dianjurkan memberi arahan serta bantuan seperlunya sambil membuka ruang anak mencoba dan bertanggung jawab.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebagai orangtua, wajar banget kalau kamu ingin anak terhindar dari masalah dan kesulitan. Rasanya pasti gak tega melihat anak kecewa, gagal, dimarahi guru, atau harus menghadapi masalah sendirian. Karena itu, kamu mungkin refleks turun tangan untuk membereskan berbagai persoalan yang sedang dihadapi anak.

Namun, kalau kebiasaan ini dilakukan terus-menerus, tanpa sadar kamu bisa menerapkan pola asuh yang disebut snowplow parenting. Alih-alih membantu anak menjadi lebih siap menghadapi kehidupan, pola asuh ini justru bisa membuat mereka kesulitan menghadapi tantangan sendiri. Bahkan dalam kondisi tertentu, kebiasaan orangtua mengambil alih masalah anak juga dapat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, lho.

1. Terlalu sering membereskan masalah anak

ilustrasi anak remaja sedang belajar (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Snowplow parenting menggambarkan pola asuh ketika kamu berusaha menyingkirkan berbagai hambatan yang mungkin dihadapi anak. Ibarat mesin pembajak salju yang membersihkan jalan agar kendaraan bisa melaju tanpa rintangan, kamu berusaha membuat perjalanan anak terasa semulus mungkin. Misalnya, kamu langsung menghubungi guru ketika nilai anak kurang bagus, menyelesaikan konflik pertemanan, atau mengurus sesuatu yang sebenarnya sudah bisa dilakukan anak sendiri.

Pola ini memang biasanya muncul karena niat yang baik, yaitu ingin melindungi dan membantu anak. Namun, snowplow parenting berbeda dari sekadar memberikan dukungan ketika anak membutuhkan bantuan. Dalam pola ini, kamu cenderung mengambil alih masalah sebelum anak punya kesempatan untuk mencoba menyelesaikannya sendiri. Akibatnya, anak bisa kehilangan kesempatan penting untuk belajar dari kesalahan, menghadapi rasa kecewa, dan menemukan solusi atas persoalannya.

2. Anak bisa kurang terbiasa menghadapi rasa frustrasi

ilustrasi anak kecil cemas (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ketika kamu selalu menghilangkan kesulitan dari jalan anak, mereka jadi lebih jarang merasakan pengalaman berjuang sampai menemukan jalan keluar. Padahal, rasa frustrasi ketika menghadapi tugas sulit, gagal mencapai target, atau melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Menurut penelitian dalam jurnal Medical Education, konsep desirable difficulties menunjukkan bahwa tantangan yang membutuhkan usaha lebih memang bisa terasa sulit dalam jangka pendek, tapi dapat membantu proses belajar dalam jangka panjang.

Kalau setiap kesulitan langsung kamu bereskan, anak bisa terbiasa menganggap masalah sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan. Akibatnya, mereka mungkin lebih gampang menyerah ketika sesuatu gak berjalan sesuai harapan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat anak kurang terbiasa bertahan, mencoba strategi baru, dan belajar dari kegagalan yang sebenarnya penting untuk perkembangan dirinya.

3. Kemampuan memecahkan masalah bisa ikut melemah

ilustrasi anak belajar di depan komputer (pexels.com/Julia M Cameron)

Kamu mungkin pernah membantu anak mengingat tenggat tugas, membuat janji untuknya, membangunkannya supaya gak terlambat, sampai ikut mengerjakan tugas atau aplikasi tertentu. Sekilas, bantuan seperti ini memang terlihat sepele dan bisa membuat urusan anak lebih cepat selesai. Masalahnya, kalau kamu terus mengambil alih, anak jadi gak punya cukup ruang untuk belajar mengatur kehidupan dan menyelesaikan persoalannya sendiri.

Damon Korb, seorang dokter anak bidang perkembangan dan perilaku, menjelaskan bahwa orangtua yang terlalu berusaha mendorong anak menuju keberhasilan tertentu bisa saja membuat anak mencapai hasil yang diinginkan. Namun, proses tersebut dapat menghilangkan kesempatan anak untuk belajar memecahkan masalah dan menghadapi perjuangan yang merupakan keterampilan penting dalam kehidupan. Jadi, daripada buru-buru mencari solusi untuk anak, kamu bisa mulai dengan bertanya apa yang menurutnya menjadi masalah dan solusi apa yang ingin dicoba.

4. Anak bisa merasa kurang yakin dengan kemampuannya

ilustrasi anak perempuan (pexels.com/Jordane Maldaner)

Ada dampak lain yang gak kalah penting, yaitu anak bisa kehilangan rasa percaya bahwa dirinya mampu memengaruhi keadaan. Kalau setiap konsekuensi selalu kamu atasi, anak mungkin gak punya banyak pengalaman untuk melihat hubungan antara keputusan, tindakan, dan hasil yang diperolehnya. Lama-kelamaan, mereka bisa merasa bahwa dirinya memang membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Jessica Lahey menjelaskan bahwa anak yang jarang menghadapi konsekuensi dari tindakannya dapat mengalami rendahnya self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu dan menghasilkan perubahan positif. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan konsep learned helplessness, ketika seseorang menjadi cenderung pasif karena merasa tindakannya gak akan banyak mengubah keadaan. Karena itu, memberi anak kesempatan untuk mencoba dan bertanggung jawab bukan berarti kamu membiarkannya sendirian, lho, tapi membantu mereka membangun keyakinan terhadap kemampuan dirinya.

5. Kecemasan orangtua bisa ikut menular ke anak

ilustrasi khawatir (vecteezy.com/Nakama ma)

Salah satu alasan snowplow parenting makin sering dilakukan adalah lingkungan yang terasa penuh ancaman. Berita yang terus muncul sepanjang hari dan media sosial yang menampilkan berbagai hal buruk dapat membuatmu merasa anak harus selalu dilindungi. Teknologi juga membuat intervensi menjadi semakin mudah karena kamu bisa mengirim pesan ke guru, menelepon sekolah, atau mengurus berbagai keperluan anak hanya dalam hitungan detik.

Carla Naumburg, seorang pekerja sosial klinis, menjelaskan bahwa ketika orangtua mengambil keputusan berdasarkan kecemasan, mereka cenderung berusaha meredakan rasa takut daripada mengajari anak menghadapi situasi sulit. Menurut penelitian dalam jurnal Child Psychiatry and Human Development, kecemasan pada orangtua dan perilaku pengasuhan tertentu dapat berperan dalam proses penularan kecemasan dalam keluarga. Karena itu, sebelum buru-buru turun tangan, kamu bisa mencoba berhenti sejenak dan bertanya apakah anak memang membutuhkan bantuan atau sebenarnya hanya membutuhkan kesempatan untuk belajar.

Melindungi anak tentu bukan sesuatu yang salah. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah perlindungan tersebut membuat anak semakin siap menghadapi kehidupan atau justru membuatnya selalu bergantung pada bantuanmu. Kamu tetap boleh memberikan arahan, membantu ketika masalahnya terlalu berat, dan berada di samping anak ketika mereka sedang kesulitan. Namun, gak semua masalah harus kamu selesaikan untuk mereka, ya.

Daripada selalu menjadi “pembuka jalan”, kamu bisa perlahan berubah menjadi orangtua yang membantu anak melihat gambaran besarnya. Ketika anak menghadapi masalah, coba tanyakan, “Menurut kamu, apa yang bisa dilakukan?” atau “Kalau kejadian seperti ini lagi, apa yang mau kamu lakukan berbeda?” Dengan begitu, kamu tetap hadir sebagai tempat anak mencari dukungan, tapi mereka juga punya ruang untuk belajar mandiri, menghadapi kegagalan, dan membangun kemampuan menghadapi tantangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article