Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Anak Sedang Alami Masalah di Sekolah, tapi Tidak Cerita
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)

Tidak semua anak yang sedang punya masalah di sekolah akan langsung pulang dan bercerita kepada orangtuanya. Ada anak yang memilih diam karena takut dimarahi, malu, bingung menjelaskan apa yang terjadi, atau khawatir masalahnya justru menjadi semakin besar. Itulah kenapa, orangtua terkadang baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres setelah melihat perubahan kecil dalam keseharian anak.

Masalah di sekolah juga tidak selalu terlihat sebagai penolakan terang-terangan untuk berangkat sekolah. Satu tanda saja tentu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak sedang mengalami masalah di sekolah. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Anak tiba-tiba lebih pendiam atau menjauh dari orang lain

ilustrasi parenting (pexels.com/PNW Production)

Salah satu perubahan yang patut diperhatikan adalah ketika anak yang biasanya aktif tiba-tiba lebih banyak diam, menghabiskan waktu sendirian, atau tidak lagi tertarik berinteraksi dengan keluarga maupun teman. Perubahan seperti ini memang tidak selalu berarti anak mengalami masalah di sekolah, tetapi bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan atau dirasakan. Anak mungkin belum siap menceritakannya secara langsung.

American Psychological Association (APA) memasukkan menarik diri dari orang lain sebagai salah satu perubahan perilaku yang perlu diperhatikan ketika seseorang mengalami tekanan emosional. Dalam panduan mengenai siswa yang mengalami kecemasan, APA juga menjelaskan bahwa kecemasan dapat membuat anak menghindari situasi tertentu dan menarik diri dari orang lain.

"Kecemasan adalah emosi yang dapat dirasakan sebagai rasa khawatir, takut, atau gelisah. Kecemasan juga dapat berupa antisipasi bahwa hal-hal negatif akan terjadi di masa depan, serta pikiran yang terus-menerus memikirkan hal tersebut. Kecemasan yang berlebihan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari," tulis dalam panduan APA tentang Students Experiencing Anxiety.

Jadi, kekhawatiran yang terus dipikirkan anak dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungan. Jika perubahan sikap ini muncul bersamaan dengan keengganan pergi ke sekolah, kehilangan minat bertemu teman, atau terlihat terus-menerus cemas, orangtua sebaiknya mulai mengajak anak berbicara tanpa menghakimi.

2. Anak sering mengeluh sakit perut atau sakit kepala, terutama sebelum sekolah

ilustrasi parenting (pexels.com/Kindel Media)

Anak yang sedang mengalami tekanan tidak selalu mampu mengatakan. Sebagian anak justru menunjukkan perasaannya melalui tubuh. Misalnya, anak berkali-kali mengeluh sakit perut, mual, pusing, atau sakit kepala, terutama pada pagi hari sebelum berangkat sekolah.

Menurut Healthy Children American Academy of Pediatrics, anak yang mengalami school avoidance atau kecemasan terkait sekolah dapat mengalami keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, hiperventilasi, mual, dan pusing. Keluhan tersebut bisa lebih sering muncul pada hari sekolah dan berkurang ketika akhir pekan atau saat tidak ada kewajiban sekolah.

"Banyak anak yang berusaha menghindari sekolah mengalami gejala terkait kecemasan yang tidak dapat mereka kendalikan secara sadar. Mereka mungkin mengalami sakit kepala, sakit perut, hiperventilasi, mual, atau pusing, gejala-gejala yang paling sering muncul pada hari-hari sekolah dan biasanya tidak terjadi pada akhir pekan," laporan American Academy of Pediatrics.

"Sering kali, anak-anak yang menghindari sekolah tidak tahu persis mengapa mereka merasa sakit. Mereka mungkin kesulitan menjelaskan apa yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau kegelisahan yang mereka alami," tambahnya.

Jadi, orangtua sebaiknya tidak langsung menganggap anak hanya mencari alasan agar tidak masuk sekolah. Tapi, keluhan fisik tetap perlu diperiksa secara medis jika berulang atau mengganggu aktivitas anak. Jika tidak ditemukan penyebab medis yang memadai dan keluhan sering berkaitan dengan sekolah, orangtua dapat mempertimbangkan adanya faktor emosional.

3. Nilai atau performa sekolah tiba-tiba menurun

ilustrasi parenting (freepik.com/freepik)

Anak yang sebelumnya cukup stabil dalam mengerjakan tugas dan mengikuti pelajaran kemudian mengalami penurunan nilai secara tiba-tiba juga patut diperhatikan. Penurunan tersebut bukan otomatis berarti anak malas belajar. Bisa saja konsentrasi mereka sedang terganggu oleh masalah dengan teman, mengalami perundungan, merasa takut terhadap guru, atau menghadapi tekanan akademik.

American Psychological Association menjelaskan bahwa kecemasan pada siswa dapat mengganggu kemampuan mereka untuk berkonsentrasi dan menjalani aktivitas sekolah. Sumber yang sama menyebutkan bahwa siswa dapat merasa cemas ketika takut tidak memahami pelajaran, merasa harus sempurna, atau menghadapi ketidakpastian dalam proses belajar.

Oleh karena itu, ketika nilai anak turun, respons pertama sebaiknya bukan langsung memarahi. Orangtua bisa mulai dengan pertanyaan yang lebih terbuka seperti, “Belakangan belajar terasa lebih susah, ya?” atau “Ada sesuatu yang bikin kamu susah konsentrasi di sekolah?” Pertanyaan seperti ini memberi kesempatan bagi anak untuk membicarakan masalah tanpa merasa bahwa nilai adalah satu-satunya hal yang diperhatikan orangtua.

4. Anak mulai enggan berangkat sekolah atau sering mencari alasan untuk tidak masuk

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Photo by Sabbir Bhuiyan)

Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah ketika anak yang biasanya berangkat sekolah tanpa masalah mulai sering mengatakan tidak ingin berangkat. Ia mungkin tiba-tiba meminta izin karena merasa tidak enak badan, menangis pada pagi hari, terlalu lama bersiap, atau terus mencari alasan agar bisa tinggal di rumah.

Rachel Busman, PsyD, ABPP, seorang psikolog klinis dan pakar kesehatan mental anak, menjelaskan bahwa school refusal dapat berkaitan dengan kecemasan dan kondisi tertentu yang membuat anak sangat tidak nyaman ketika harus menghadapi sekolah. Ia juga menyebut kemungkinan adanya masalah seperti bullying, persoalan dengan guru, atau gangguan kesehatan mental yang belum teridentifikasi.

"Penolakan untuk bersekolah melibatkan kecemasan ekstrem terkait kehadiran di sekolah; anak-anak berusaha keras untuk menghindarinya dan sering kali merasa sakit secara fisik," jelasnya dikutip dari Child Mind Institute.

Jadi, penolakan sekolah tidak selalu tepat dipahami sebagai anak yang sekadar malas atau tidak disiplin. Dalam beberapa kasus, keengganan tersebut justru merupakan cara anak menghindari sesuatu yang membuatnya merasa takut atau tertekan.

5. Anak tiba-tiba kehilangan teman atau menghindari lingkungan sosial

Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)

Perubahan hubungan sosial juga bisa menjadi petunjuk penting. Anak yang sebelumnya sering bercerita tentang teman-temannya mungkin tiba-tiba tidak mau menyebut nama mereka, menolak bermain bersama, atau terlihat sangat tertekan setelah berinteraksi dengan kelompok tertentu.

Dalam beberapa kasus, anak bisa saja sedang menghadapi konflik pertemanan, pengucilan, atau bullying tetapi belum berani menceritakannya. Menurut Healthy Children American Academy of Pediatrics, mencantumkan beberapa kemungkinan tanda bullying, antara lain perubahan hubungan pertemanan, menghindari situasi sosial, tidak ingin pergi ke sekolah, nilai yang menurun, serta keluhan seperti sakit kepala dan sakit perut. Mereka juga mengingatkan bahwa anak mungkin belum siap bercerita karena merasa malu atau takut.

"Tanyakan kepada mereka secara spesifik mengenai apa yang terjadi dan kapan hal itu terjadi. Dengarkanlah dengan penuh kasih sayang dan tegaskan kembali bahwa Anda hadir untuk membantu mereka menemukan solusi. Ingatlah bahwa anak mungkin belum siap untuk bercerita karena merasa malu. Sampaikan kepada mereka bahwa mereka bisa berbicara dengan Anda saat mereka sudah siap," tulis mereka dalam panduannya tentang Why Bullying Hurts All Children-and What Parents Can Do About It.

Kalimat tersebut penting bagi orangtua karena diamnya anak bukan berarti masalahnya tidak ada. Justru, anak mungkin membutuhkan waktu dan rasa aman sebelum akhirnya mampu mengungkapkan apa yang dialaminya. Ketika anak mulai kehilangan rasa aman dan nyaman di sekolah, orangtua perlu melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu yang layak dibicarakan, bukan sekadar fase biasa.

Anak yang sedang mengalami masalah di sekolah belum tentu akan mengatakan secara langsung bahwa dirinya sedang kesulitan. Orangtua tidak perlu langsung menyimpulkan, tetapi bisa mulai dengan mendengarkan, mengamati, dan menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.

Curated For You

Editorial Team

Related Article