Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)
Perubahan hubungan sosial juga bisa menjadi petunjuk penting. Anak yang sebelumnya sering bercerita tentang teman-temannya mungkin tiba-tiba tidak mau menyebut nama mereka, menolak bermain bersama, atau terlihat sangat tertekan setelah berinteraksi dengan kelompok tertentu.
Dalam beberapa kasus, anak bisa saja sedang menghadapi konflik pertemanan, pengucilan, atau bullying tetapi belum berani menceritakannya. Menurut Healthy Children American Academy of Pediatrics, mencantumkan beberapa kemungkinan tanda bullying, antara lain perubahan hubungan pertemanan, menghindari situasi sosial, tidak ingin pergi ke sekolah, nilai yang menurun, serta keluhan seperti sakit kepala dan sakit perut. Mereka juga mengingatkan bahwa anak mungkin belum siap bercerita karena merasa malu atau takut.
"Tanyakan kepada mereka secara spesifik mengenai apa yang terjadi dan kapan hal itu terjadi. Dengarkanlah dengan penuh kasih sayang dan tegaskan kembali bahwa Anda hadir untuk membantu mereka menemukan solusi. Ingatlah bahwa anak mungkin belum siap untuk bercerita karena merasa malu. Sampaikan kepada mereka bahwa mereka bisa berbicara dengan Anda saat mereka sudah siap," tulis mereka dalam panduannya tentang Why Bullying Hurts All Children-and What Parents Can Do About It.
Kalimat tersebut penting bagi orangtua karena diamnya anak bukan berarti masalahnya tidak ada. Justru, anak mungkin membutuhkan waktu dan rasa aman sebelum akhirnya mampu mengungkapkan apa yang dialaminya. Ketika anak mulai kehilangan rasa aman dan nyaman di sekolah, orangtua perlu melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu yang layak dibicarakan, bukan sekadar fase biasa.
Anak yang sedang mengalami masalah di sekolah belum tentu akan mengatakan secara langsung bahwa dirinya sedang kesulitan. Orangtua tidak perlu langsung menyimpulkan, tetapi bisa mulai dengan mendengarkan, mengamati, dan menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.