Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Slow Working Diperlukan selama Ramadan?

Kenapa Slow Working Diperlukan selama Ramadan?
ilustrasi perempuan bekerja (freepik.com/freepik)
Intinya Sih

  • Energi harus diatur dengan manajemen yang realistis

  • Fokus lebih tajam saat tidak terburu-buru, hasilnya lebih rapi dan matang

  • Tubuh dan mental butuh ruang bernapas, slow working membantu menciptakan jarak sehat antara tuntutan dan kemampuan

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ramadan selalu datang dengan ritme yang berbeda. Jam tidur berubah, pola makan bergeser, dan energi terasa naik turun sepanjang hari. Di satu sisi, kamu tetap punya tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Di sisi lain, tubuh dan pikiran sedang belajar beradaptasi dengan puasa.

Tidak sedikit orang memaksakan diri tetap produktif seperti bulan-bulan biasa. Padahal, kondisi fisik sedang tidak sepenuhnya prima. Di momen seperti ini, konsep slow working terasa lebih relevan daripada sebelumnya. Yuk, simak lima alasan kenapa slow working selama Ramadan justru bisa membuat kerja berkualitas puasa terasa lebih bermakna berikut ini!

1. Energi bukan tak terbatas, jadi harus diatur

ilustrasi perempuan bekerja
ilustrasi perempuan bekerja (freepik.com/freepik)

Saat puasa, kamu tidak bisa sembarang mengandalkan kopi atau camilan untuk menyambung fokus. Energi datang dari sahur dan harus cukup sampai waktu berbuka. Kalau dipakai terlalu agresif sejak pagi, siang hari bisa terasa sangat berat. Di sinilah pentingnya manajemen energi yang realistis.

Slow working bukan berarti bermalas-malasan di jam kerja. Kamu tetap bekerja, tapi lebih sadar pada ritme tubuh. Tugas berat bisa diprioritaskan saat energi masih stabil. Sisanya dikerjakan dengan tempo yang lebih tenang agar tidak kehabisan tenaga di tengah jalan.

2. Fokus lebih tajam saat tidak terburu-buru

ilustrasi laki-laki fokus bekerja
ilustrasi laki-laki fokus bekerja (freepik.com/prostooleh)

Bekerja dalam keadaan lapar sering membuat emosi lebih sensitif. Sedikit distraksi saja bisa memancing rasa kesal. Kalau kamu tetap memaksakan ritme cepat, hasilnya justru tidak maksimal. Pekerjaan selesai, tapi kualitasnya menurun.

Dengan pendekatan slow working, kamu memberi ruang untuk berpikir lebih jernih. Kamu tidak mengejar banyak hal sekaligus, melainkan menyelesaikan satu per satu dengan fokus. Cara ini membantu menjaga kerja berkualitas tetap konsisten. Hasilnya mungkin tidak banyak, tapi lebih rapi dan matang.

3. Tubuh dan mental butuh ruang bernapas

ilustrasi laki-laki rileks
ilustrasi laki-laki rileks (freepik.com/sanivpetro)

Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Ada proses spiritual dan refleksi yang juga berjalan. Jika seluruh energi habis untuk pekerjaan, kamu bisa merasa kosong secara emosional. Padahal bulan ini sering menjadi momen untuk memperlambat diri.

Konsep slow working membantu kamu menciptakan jarak sehat antara tuntutan dan kemampuan. Kamu belajar mendengar sinyal tubuh saat mulai lelah. Alih-alih memaksakan lembur, kamu memilih jeda sejenak untuk memulihkan fokus. Itu bukan tanda lemah, melainkan bentuk manajemen energi yang bijak.

4. Produktif tidak selalu berarti banyak

ilustrasi perempuan menulis
ilustrasi perempuan menulis (freepik.com/pressfoto)

Kita sering mengukur produktivitas dari jumlah tugas yang dicentang. Semakin banyak, semakin merasa berhasil. Namun, saat puasa, standar itu bisa terasa tidak adil bagi diri sendiri. Kamu bekerja dalam kondisi berbeda dari biasanya.

Slow working mengajak kamu mengganti ukuran tersebut. Alih-alih menghitung kuantitas, kamu menilai dampak dari pekerjaan yang dilakukan. Satu laporan yang selesai dengan baik bisa lebih berarti daripada tiga pekerjaan setengah hati. Perspektif ini membuat kerja berkualitas puasa terasa lebih manusiawi.

5. Memberi ruang untuk keseimbangan hidup

ilustrasi berbuka puasa
ilustrasi berbuka puasa (pexels.com/Timur Weber)

Ramadan sering diisi dengan aktivitas tambahan, seperti ibadah, buka bersama, atau waktu keluarga. Jika kamu tetap memaksakan ritme super sibuk, keseimbangan mudah terganggu. Akhirnya, kamu merasa kelelahan secara fisik dan emosional. Bulan yang seharusnya menenangkan justru terasa melelahkan.

Dengan slow working, kamu menata ulang prioritas harian. Pekerjaan tetap berjalan, tetapi tidak mengorbankan kesehatan dan relasi. Kamu memberi ruang untuk beristirahat tanpa rasa bersalah. Inilah bentuk manajemen energi yang lebih selaras dengan makna Ramadan.

Bekerja saat puasa memang membutuhkan penyesuaian. Kamu tidak harus menjadi versi paling produktif sepanjang waktu. Yang lebih penting adalah memberikan kualitas terbaik sesuai kapasitas hari itu. Yuk, beri diri sendiri izin untuk bekerja dengan lebih sadar dan penuh makna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Life

See More