Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Toxic Positivity Bisa Merugikan Mental Anak?

Apakah Toxic Positivity Bisa Merugikan Mental Anak?
ilustrasi anak menangis (Pexels.com/Anna Shvets)

Pernah gak sih kamu mendengar kalimat seperti 'jangan sedih, harus tetap positif' atau 'gak boleh nangis, harus kuat'? Sekilas terdengar seperti bentuk dukungan, tetapi dalam beberapa kondisi justru bisa membuat anak merasa gak dipahami. Anak yang sedang belajar mengenali emosinya butuh ruang untuk merasakan berbagai perasaan, bukan hanya yang terlihat 'baik'. Jika semua emosi negatif ditekan, ada dampak yang mungkin muncul dalam jangka panjang. Di sinilah pentingnya memahami konsep toxic positivity.

Toxic positivity adalah kondisi di mana seseorang dipaksa untuk selalu berpikir positif tanpa memberi ruang pada emosi lain. Dalam konteks anak, hal ini bisa terjadi tanpa disadari oleh orang dewasa di sekitarnya. Niatnya mungkin ingin menghibur atau melindungi, tetapi cara penyampaiannya kurang tepat. Anak justru bisa merasa bingung atau bahkan bersalah atas perasaannya sendiri. Nah, untuk memahami lebih dalam, yuk lihat beberapa alasan kenapa toxic positivity bisa berdampak pada kesehatan mental anak.

1. Anak jadi kesulitan mengenali emosinya sendiri

Seorang anak perempuan mengenakan jaket hijau dan tas biru berdiri di koridor sekolah sambil bersandar pada pagar besi.
ilustrasi anak marah (pexels.com/Ahmed akacha)

Saat anak selalu diarahkan untuk 'harus bahagia', mereka bisa kehilangan kesempatan untuk memahami emosi lain. Padahal, marah, sedih, atau kecewa adalah bagian normal dari perkembangan emosional. Jika emosi tersebut terus ditekan, anak jadi bingung membedakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Hal ini membuat proses mengenali diri jadi terhambat. Anak tumbuh tanpa pemahaman yang utuh tentang emosinya.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa membuat anak kesulitan mengekspresikan perasaan. Mereka mungkin merasa semua emosi negatif itu salah. Akibatnya, anak cenderung memendam perasaan daripada mengungkapkannya. Hal ini bisa berdampak pada hubungan sosial dan kesehatan mental. Mengenali emosi adalah langkah awal untuk mengelolanya dengan baik.

2. Anak merasa perasaannya gak valid

Anak kecil berambut pirang tersenyum ceria sambil berbaring di atas bantal berwarna terang dengan suasana hangat dan lembut.
ilustrasi seseorang anak (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Ketika anak mengungkapkan kesedihan lalu langsung ditepis dengan kalimat positif, mereka bisa merasa gak didengar. Perasaan yang muncul seolah dianggap gak penting atau berlebihan. Hal ini membuat anak ragu untuk berbagi di kemudian hari. Mereka mungkin berpikir bahwa perasaannya gak layak untuk disampaikan. Rasa ini bisa terbawa hingga dewasa.

Validasi emosi sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak. Saat perasaan mereka diterima, anak belajar bahwa semua emosi itu wajar. Mereka juga merasa aman untuk terbuka. Tanpa validasi, anak bisa merasa sendirian dengan perasaannya. Ini yang membuat toxic positivity jadi berisiko.

3. Menghambat kemampuan coping yang sehat

Keluarga terdiri dari dua orang dewasa dan dua anak perempuan duduk bersama di ruang tamu dengan suasana hangat dan akrab.
ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Anna Shvets)

Anak perlu belajar cara menghadapi masalah, bukan sekadar menghindarinya. Jika setiap masalah langsung ditutup dengan 'harus positif', anak gak belajar mengolah emosi dengan baik. Mereka mungkin jadi terbiasa mengabaikan masalah. Padahal, menghadapi dan memahami masalah adalah bagian penting dari proses belajar. Tanpa itu, kemampuan coping jadi kurang berkembang.

Kemampuan coping yang sehat membantu anak menghadapi tantangan di masa depan. Mereka belajar bahwa perasaan gak nyaman bisa dihadapi, bukan dihindari. Jika hal ini gak dibiasakan sejak kecil, anak bisa kesulitan saat menghadapi tekanan. Toxic positivity justru menghalangi proses belajar ini. Anak butuh ruang untuk mencoba dan memahami.

4. Membuat anak takut mengekspresikan diri

Seorang ibu berhijab tersenyum hangat sambil menatap anak perempuannya di ruangan dengan tirai putih dan cahaya lembut.
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Werner Pfennig)

Lingkungan yang terlalu menekankan 'harus positif' bisa membuat anak merasa tertekan. Mereka jadi takut menunjukkan emosi yang dianggap negatif. Anak mungkin memilih diam daripada dianggap lemah atau berlebihan. Hal ini membuat ekspresi diri jadi terbatas. Padahal, ekspresi emosi adalah bagian penting dari kesehatan mental.

Ketika anak gak bisa mengekspresikan diri, perasaan bisa menumpuk. Lama-kelamaan, hal ini bisa memicu stres atau kecemasan. Anak juga jadi kurang terbiasa berkomunikasi secara emosional. Hal ini bisa berdampak pada hubungan dengan orang lain. Ekspresi yang sehat perlu didukung, bukan dibatasi.

5. Membentuk pola pikir yang kurang realistis

Seorang wanita dan remaja duduk di sofa ruang tamu sedang berbincang serius, dengan suasana hangat dan pencahayaan alami dari jendela.
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Polina Zimmerman)

Selalu menekankan hal positif bisa membuat anak memiliki ekspektasi yang gak realistis. Mereka mungkin berpikir bahwa hidup harus selalu menyenangkan. Ketika menghadapi kenyataan yang berbeda, anak bisa merasa kecewa atau bingung. Hal ini membuat mereka kurang siap menghadapi tantangan. Dunia nyata gak selalu berjalan sesuai harapan.

Pola pikir yang realistis membantu anak lebih siap menghadapi berbagai situasi. Mereka belajar bahwa hidup terdiri dari berbagai emosi. Dengan begitu, mereka gak mudah terguncang saat menghadapi kesulitan. Toxic positivity bisa mengaburkan pemahaman ini. Anak jadi kurang siap secara mental.

6. Mengurangi kedekatan emosional dengan orang tua

Seorang ayah sedang membaca buku bersama anak kecilnya di tempat tidur dengan suasana hangat dan lampu hias di latar belakang.
ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Anak yang merasa gak didengar cenderung menjaga jarak secara emosional. Mereka mungkin enggan bercerita karena merasa gak akan dipahami. Hal ini bisa mengurangi kedekatan dengan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Hubungan yang seharusnya hangat jadi terasa kaku. Komunikasi pun jadi kurang terbuka.

Kedekatan emosional sangat penting untuk perkembangan anak. Dari hubungan ini, anak belajar tentang kepercayaan dan empati. Jika hubungan terganggu, anak bisa mencari pelarian di tempat lain. Hal ini bisa membawa risiko baru. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan ruang yang aman bagi anak.

7. Berpotensi memicu stres dan kecemasan tersembunyi

Seorang ibu mengenakan topi hitam berbicara dan bermain bersama anak perempuannya di ruang tamu yang terang dan nyaman.
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Daisy Anderson)

Emosi yang ditekan gak hilang begitu saja, tetapi bisa muncul dalam bentuk lain. Anak yang terbiasa menyembunyikan perasaan bisa mengalami stres tanpa disadari. Mereka terlihat baik-baik saja di luar, tetapi menyimpan banyak hal di dalam. Kondisi ini bisa berkembang menjadi kecemasan. Hal ini sering terjadi tanpa tanda yang jelas di awal.

Memberi ruang pada emosi membantu mencegah penumpukan ini. Anak belajar bahwa merasa sedih atau marah itu wajar. Mereka juga belajar cara mengelolanya dengan sehat. Tanpa ruang ini, emosi bisa menjadi beban yang berat. Toxic positivity justru memperbesar risiko tersebut.

Mendukung anak bukan berarti selalu mengarahkan mereka untuk berpikir positif. Ada kalanya anak hanya butuh didengar dan dipahami tanpa penilaian. Memberi ruang pada emosi bukan berarti membiarkan anak larut, tetapi membantu mereka mengenali dan mengelola perasaan. Pendekatan yang seimbang akan membantu anak tumbuh dengan lebih sehat secara emosional.

Jadi, apakah toxic positivity bisa merugikan mental anak? Jawabannya bisa iya, jika dilakukan tanpa pemahaman yang tepat. Kamu bisa mulai dengan langkah sederhana, seperti mendengarkan tanpa langsung mengoreksi. Anak butuh merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri, termasuk dalam hal emosi. Dari situ, mereka belajar bahwa semua perasaan punya tempat dan bisa dihadapi dengan baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy
Follow Us

Related Articles

See More

Gaya Tissa Biani Pemotretan Hari Kartini bareng IKAT, Ayu dan Otentik

05 Mei 2026, 19:42 WIBLife