Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Dampak Sifat Perfeksionis pada Diri, Cemas Dihantui Tuntutan Sendiri

3 Dampak Sifat Perfeksionis pada Diri, Cemas Dihantui Tuntutan Sendiri
ilustrasi stres (pexels.com/Energepic.com)

Sebenarnya memiliki sifat perfeksionis tidak salah karena ada manfaatnya juga agar teliti dan menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi di balik manfaatnya, ada pula sisi minus sifat perfeksionis yang dapat berdampak pada diri sendiri. Karena sifat perfeksionis yang mau apapun sempurna tanpa cela, justru tidak sesuai untuk hidup yang gak selalu sesuai seperti yang diinginkan. 

Sehingga bagi dirimu yang perfeksionis, gak ada salahnya untuk melek tentang dampak sifat tersebut agar tidak tenggelam di dalamnya. Perfeksionisme dapat menjadi sumber kecemasan dalam hidup, menghambat potensi untuk berkembang, hingga memperlambat penyelesaian masalah. Terlalu mengikuti diri yang perfeksionis tidaklah baik untuk hidup, yang mana untuk lebih jelas mengenai dampak-dampaknya pun dapat disimak pada pembahasan di bawah ini. 

1. Dihantui kecemasan karena besarnya tuntutan yang dibuat untuk diri sendiri

ilustrasi stres (pexels.com/Alex Green)
ilustrasi stres (pexels.com/Alex Green)

Dampak paling utama dari perfeksionis kepada diri sendiri ialah menciptakan kecemasan. Bahwa orang yang terlalu mengejar kesempurnaan cenderung dihantui kecemasan dalam hidupnya. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena tuntutan yang terlalu besar hingga jadinya cemas sendiri. 

Bisa dibilang kalau hal ini merupakan kecemasan yang dibuat-buat sendiri tanpa sadar. Mulai dari mencemaskan hidup di masa depan, hasil kerja yang kurang sempurna, atau bahkan cemas pada hubungan yang sedang dijalani jika gagal. Padahal belum terjadi, tapi karena sifat perfeksionis itu membuatmu menuntut pada diri sendiri untuk mengusahakan semuanya berjalan sesuai yang direncanakan. 

2. Terhambatnya potensi karena tingginya kritik pada diri sendiri

ilustrasi kerja (pexels.com/Sora Shimazaki)
ilustrasi kerja (pexels.com/Sora Shimazaki)

Orang perfeksionis yang biasanya kritis pada kesalahan orang lain, tapi justru ke dirinya sendiri lebih keras lagi. Yang mana karena perfeksionisnya itu jadi ketat dan tinggi banget ekspektasinya. Sehingga minusnya, kalau melakukan kesalahan atau gagal melakukan sesuatu malah jadi mengkritik diri sendiri. 

Terlalu mengkritik diri sendiri seperti ini tentu gak baik dalam hidup. Karena dampaknya bisa menghambat potensi untuk berkembang, bahwa saat berusaha berkembang pasti harus melewati kesalahan dan kegagalan dulu untuk jadi semakin baik. Logikanya, kalau salah sedikit langsung mengkritik diri sendiri dan merendahkan usaha yang dilakukan, kapan baru bisa berkembangnya? 

3. Butuh waktu lama menyelesaikan masalah

ilustrasi berpikir (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi berpikir (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dampak perfeksionis lainnya pada diri sendiri ialah memperlambat penyelesaian masalah. Entah itu masalah kecil atau besar, dipikirkan sampai lama dan teliti sekali baru bisa menemukan solusinya. Meneliti masalah dengan cermat memang bagus karena bisa belajar dari situ, akan tetapi di beberapa keadaan justru malah memperlambat penyelesaiannya yang seharusnya bisa cepat ditangani. 

Gak semua masalah harus dipikirkan dalam-dalam dulu baru mencari solusinya, kadang sebuah penyelesaian dibutuhkan secara cepat agar tidak berlarut-larut efek buruknya pada diri sendiri. Jadi bisa dibilang kalau perfeksionisme bisa jadi penghambat dalam hidup. Jika tidak bisa mengontrol dan sadar akan skala prioritas, perfeksionisme bisa jadi jebakan yang bikin hidup merosot dan terhambat. 

Gak masalah punya sifat perfeksionis kalau bisa mengendalikannya. Karena kalau terlalu larut di dalamnya justru tiga dampak di atas tadilah yang akan terjadi, bahwa dampaknya gak baik untuk hidup jika semua hal dituntut harus sempurna. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
afifah hanim
Editorafifah hanim
Follow Us