Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Jurus Bertahan Hidup sebagai Pengangguran di Jakarta
ilustrasi orang melakukan penghitungan dengan kalkulator (pexels.com/www.kaboompics.com)
  • Artikel menyoroti tantangan menjadi pengangguran di kota besar seperti Jakarta dan pentingnya menghitung biaya hidup secara realistis agar tidak terjebak krisis finansial.
  • Dijelaskan panduan menentukan dana darurat ideal berdasarkan profil individu, mulai dari lajang hingga menikah dengan anak, dengan kisaran 3–12 kali pengeluaran bulanan.
  • Ditekankan perlunya menerapkan survival budget, memangkas pengeluaran non-esensial, serta mencari penghasilan tambahan sementara seperti freelance atau ojek online untuk menjaga kestabilan keuangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi pengangguran di desa barangkali masih bisa terselamatkan ya karena biaya hidupnya yang relatif lebih rendah dibanding di kota. Selain itu, ikatan sosial antarwarga pun cenderung masih kuat. Untuk urusan perut, misalnya, kamu masih bisa terbantu dengan hasil bumi atau pekarangan sendiri.

Nah, yang lebih menantang adalah menjadi pengangguran di kota. Sebab, menghadapi masa pengangguran urban itu punya tekanannya tersendiri. Maka, kamu perlu melakukan kalkulasi biaya hidup yang realistis supaya gak terjebak ke dalam krisis finansial yang lebih dalam sebelum memperoleh pekerjaan baru. Gimana caranya? Berikut cara mengatasi keterbatasan dana darurat sebagai pengangguran urban.

1. Pahami besaran dana darurat yang ideal

ilustrasi orang membaca buku perencanaan keuangan (pexels.com/RDNE Stock project)

Dilansir laman OCBC, besaran dana darurat itu ada di rentang 3 sampai 12 kali pengeluaran bulanan. Dengan begitu, kamu bisa bertahan tanpa penghasilan setelah kejadian darurat terjadi selama rentang waktu itu.

Misalnya nih, kamu punya dana darurat senilai 4 kali pengeluaran bulanan. Nah, saat kamu kehilangan pekerjaan, kamu masih bisa memenuhi kebutuhan untuk 4 bulan ke depan sambil mencari pendapatan atau sumber penghasilan baru. Penghitungan dana darurat ini pun harus disesuaikan dengan profil dan kondisi keuangan kamu.

2. Hitung dana darurat sesuai profil

ilustrasi orang tengah menghitung uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Dana darurat bagi yang lajang dan tinggal sendiri tentu berbeda dengan dana darurat bagi yang sudah menikah. Pun yang sudah menikah dan belum punya anak berbeda dengan yang sudah menikah dan sudah punya anak. Berikut rinciannya.

  • Lajang dan tinggal sendiri. Sebagai seorang lajang, kebutuhan dana darurat kamu lebih ringan karena tanggungannya minim. Maka, fokus kamu adalah mengamankan biaya hidup dasar untuk diri sendiri dulu. Standar aman dana darurat untuk profil lajang urban ada di kisaran 3 hingga 6 kali pengeluaran bulanan. Misalnya nih, pengeluaran bulananmu sekitar Rp3 juta, maka kamu perlu menyiapkan dana darurat sebesar Rp9 juta hingga Rp18 juta.

  • Menikah dan belum punya anak. Nah, ketika sudah menikah, tanggung jawab finansial otomatis meningkat karena tanggungan gak cuma kamu sendirian. Ada kebutuhan bersama yang perlu dikelola dengan baik. Untuk profil ini, standar aman dana darurat idealnya 6 kali pengeluaran bulanan. Misalnya nih, pengeluaran keluarga mencapai Rp6 juta per bulannya, maka dana darurat yang harus ada sekitar Rp36 juta.

  • Menikah dan punya anak 1. Ini berarti ada 3 tanggungan yang harus dihidupi. Untuk profil ini, standar aman dana darurat idealnya 9 kali pengeluaran bulanan. Misalnya nih, pengeluaran keluarga mencapai Rp9 juta per bulannya, maka dana darurat yang harus ada di rekening sekitar Rp81 juta.

  • Menikah dan punya anak 2. Profil ini tanggungannya lebih besar lagi, sebab ada 4 orang yang harus dihidupi. Standar aman dana darurat untuk profil ini idealnya ada di kisaran 9 hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Misalnya, kalau pengeluaran keluargamu sekitar Rp13 juta per bulan, maka kamu harus mengamankan dana darurat sekitar Rp117 juta hingga Rp156 juta.

3. Terapkan survival budget

ilustrasi orang sedang berbelanja (pexels.com/Anna Shvets)

Nah, setelah kamu tahu profil dan kondisi keuanganmu, selanjutnya kamu perlu menekan pengeluaran bulanan sebisa mungkin. Selama masa menganggur, kamu harus bisa menerapkan survival budget, alokasikan anggaran hanya untuk kebutuhan hidup yang mendasar. Ini berarti kamu harus meninggalkan gaya hidup yang biasa kamu jalani di kota besar.

Semua pengeluaran yang sekiranya gak begitu penting bisa kamu pangkas, misalnya nongkrong di kafe, kebiasaan jajan, belanja barang baru, dan lainnya. Fokus saja pada biaya sewa tempat tinggal, tagihan utilitas, dan biaya makan sehari-hari. Untuk biaya makan, kamu bisa lebih sering memasak sendiri alih-alih membeli jadi. Masak sendiri dinilai lebih hemat dan sehat.

4. Cari penghasilan tambahan sementara untuk menyambung hidup

ilustrasi orang sedang bekerja di depan laptop (pexels.com/Christina Morillo)

Sambil terus mengirimkan lamaran kerja dan menunggu panggilan wawancara, kamu bisa memanfaatkan waktu ini dengan mencari penghasilan tambahan sementara. Sejumlah pilihan pekerjaan yang bisa kamu ambil seperti freelancer, mitra ojek online, jasa les privat, dan lain sebagainya. Kalau pengeluaran harianmu bisa sedikit tertutupi dari penghasilan sampingan ini, dana darurat kamu gak akan cepat habis.

Oh iya, penyimpanan dana darurat juga harus yang mudah dijangkau, ya. Paling tepat disimpan di rekening tabungan biasa, tapi rekeningnya harus terpisah dari rekening utama bulananmu.

Menjadi pengangguran urban memang penuh tekanan dan tantangan ya, tapi kalau kamu bisa mengalkulasikan biaya hidup dengan matang, menghitung dana darurat sesuai profil, disiplin menerapkan survival budget, dan aktif mencari peluang penghasilan tambahan, kamu bisa melewati masa-masa krisis tersebut. Selamat berjuang!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article