Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Waspadai! Ini 4 Tanda Kamu Salah Mengartikan Body Positivity

Waspadai! Ini 4 Tanda Kamu Salah Mengartikan Body Positivity
ilustrasi perut buncit (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
Intinya Sih
  • Gerakan body positivity awalnya bertujuan mendorong penerimaan diri dan melawan standar kecantikan sempit, namun kini sering disalahartikan hingga menjauh dari makna aslinya.

  • Kesalahan umum termasuk mengabaikan kesehatan fisik, menolak kritik konstruktif, serta menyamakan penerimaan diri dengan sikap pasrah tanpa usaha memperbaiki kualitas hidup.

  • Body positivity sejati menekankan keseimbangan antara mencintai diri sendiri dan tanggung jawab menjaga kesehatan fisik serta mental secara sadar dan berkelanjutan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Gerakan body positivity awalnya ditujukan untuk mendorong penerimaan diri dan melawan standar kecantikan yang sempit dan tidak inklusif. Tujuannya adalah membebaskan semua orang dari tekanan untuk memiliki tubuh ideal versi industri mode, media, atau budaya populer. Dengan semangat tersebut, setiap individu didorong untuk menerima, mencintai, dan menghargai tubuhnya dalam segala kondisi.

Seiring popularitasnya yang semakin luas, makna body positivity kerap disalahartikan dan bahkan digunakan sebagai pembenaran untuk kebiasaan atau pola pikir yang kurang sehat. Ketika cinta diri berubah menjadi bentuk penolakan terhadap perubahan positif atau menjadi dalih untuk menghindari tanggung jawab terhadap kesehatan fisik dan mental, maka pesan utama dari gerakan ini mulai menyimpang. Berikut ini adalah empat tanda bahwa body positivity mungkin telah disalahpahami.

1. Merasa tidak perlu memperhatikan kesehatan fisik

ilustrasi bermain gadget
ilustrasi bermain gadget (pexels.com/Ron Lach)

Penerimaan diri yang sehat tidak berarti mengabaikan sinyal tubuh yang mengarah pada kondisi medis serius, seperti tekanan darah tinggi, kadar gula tidak stabil, atau gangguan metabolik lainnya. Tubuh tetap membutuhkan perhatian, nutrisi seimbang, dan aktivitas fisik agar bisa berfungsi optimal. Menganggap bahwa semua bentuk tubuh pasti sehat tanpa pengecekan medis bisa menimbulkan risiko yang seharusnya bisa dicegah lebih awal.

Ada kalanya body positivity dipakai sebagai alasan untuk menghindari kunjungan ke dokter, mengabaikan pola makan buruk, atau enggan bergerak karena takut dianggap "tidak mencintai diri sendiri." Padahal, merawat tubuh bukan berarti tidak menerima diri. Justru sebaliknya, perhatian terhadap kesehatan adalah bentuk cinta terhadap tubuh dan kehidupan sendiri.

2. Menolak setiap bentuk kritik atau masukan

ilustrasi menolak masukan
ilustrasi menolak masukan (pexels.com/Monstera Production)

Banyak orang terjebak dalam pemikiran bahwa semua bentuk masukan tentang kesehatan tubuh adalah bentuk body shaming. Tidak semua komentar atau saran dari orang lain bertujuan merendahkan atau mempermalukan. Beberapa masukan justru datang dari orang-orang terdekat yang peduli dan ingin membantu memperbaiki kualitas hidup.

Dokter yang menyampaikan risiko kesehatan terkait berat badan berlebih tidak sedang melakukan body shaming. Demikian pula teman atau keluarga yang mengungkapkan kepedulian dengan cara tepat bukan berarti tidak menerima tubuh seseorang. Body positivity sejati justru mencakup kesediaan mendengarkan masukan yang membangun untuk kualitas hidup lebih baik.

3. Menyamakan penerimaan diri dengan pasrah

ilustrasi perut buncit
ilustrasi perut buncit (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Ada perbedaan besar antara menerima kenyataan dan menyerah terhadapnya. Penerimaan diri seharusnya menciptakan ruang untuk refleksi, bukan jadi alasan untuk berhenti berusaha memperbaiki kualitas hidup. Misalnya, ketika seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu yang bisa dikendalikan atau ditingkatkan, memilih untuk tidak melakukan apa-apa karena sudah "menerima tubuh ini apa adanya" justru berpotensi membahayakan.

Pasrah terhadap keadaan dan menyebutnya sebagai bentuk self-love tidak baik secara fisik maupun emosional. Tubuh manusia bersifat dinamis dan selalu membutuhkan penyesuaian. Menerima kondisi saat ini memang penting, tetapi bukan berarti menutup kemungkinan untuk hidup lebih baik, lebih kuat, dan lebih seimbang.

4. Menganggap semua pilihan pribadi selalu valid

ilustrasi mengukur lingkar pinggang
ilustrasi mengukur lingkar pinggang (pexels.com/Andres Ayrton)

Body positivity sering kali dikaitkan dengan kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri. Namun, tidak semua pilihan otomatis menjadi benar hanya karena bersifat pribadi. Misalnya, memilih pola makan ekstrem, tidur tidak teratur, atau menolak olahraga sama sekali, tetap bisa berdampak negatif walaupun dibalut dengan narasi "inilah caraku mencintai diri." Kebebasan tanpa tanggung jawab bukanlah bentuk cinta yang sehat terhadap tubuh.

Validasi internal memang penting, tetapi tidak boleh menutup mata terhadap fakta ilmiah atau pertimbangan medis. Mengkritisi diri sendiri secara jujur tidak berarti membenci diri, melainkan menunjukkan kedewasaan dalam merawat tubuh. Self-compassion harus berjalan beriringan dengan self-awareness, agar pilihan-pilihan yang dibuat bukan hanya nyaman tetapi juga memberi manfaat jangka panjang.

Body positivity yang sehat seharusnya memperkuat hubungan antara tubuh dan kesadaran diri. Kunci utamanya adalah menemukan keseimbangan antara mencintai diri sendiri dan tetap bertanggung jawab terhadap kesehatan. Dengan cara ini, setiap orang bisa menjalani hidup yang lebih seimbang, tidak hanya secara emosional tetapi juga fisik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya

Related Articles

See More