Gerakan body positivity awalnya ditujukan untuk mendorong penerimaan diri dan melawan standar kecantikan yang sempit dan tidak inklusif. Tujuannya adalah membebaskan semua orang dari tekanan untuk memiliki tubuh ideal versi industri mode, media, atau budaya populer. Dengan semangat tersebut, setiap individu didorong untuk menerima, mencintai, dan menghargai tubuhnya dalam segala kondisi.
Seiring popularitasnya yang semakin luas, makna body positivity kerap disalahartikan dan bahkan digunakan sebagai pembenaran untuk kebiasaan atau pola pikir yang kurang sehat. Ketika cinta diri berubah menjadi bentuk penolakan terhadap perubahan positif atau menjadi dalih untuk menghindari tanggung jawab terhadap kesehatan fisik dan mental, maka pesan utama dari gerakan ini mulai menyimpang. Berikut ini adalah empat tanda bahwa body positivity mungkin telah disalahpahami.
