Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Kenapa Kamu Gak Bisa Makan Tanpa Menonton Sesuatu

ilustrasi perempuan makan sambil menonton
ilustrasi perempuan makan sambil menonton (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Layar bikin kamu lupa sedang makan, sinyal kenyang terlambat sampai ke otak.
  • Nonton jadi pemicu rasa nyaman palsu, sulit membedakan lapar emosional dan fisik.
  • Kebiasaan ini terbentuk dari rutinitas harian, sulit menikmati makanan dengan penuh kesadaran.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak sih, kamu duduk mau makan tapi tangan refleks cari ponsel dulu? Tanpa video, serial, atau konten YouTube, makanan terasa kurang lengkap. Kebiasaan ini pelan-pelan jadi otomatis, bahkan saat kamu cuma makan camilan. Padahal, tanpa sadar, cara makan seperti ini bisa berdampak ke tubuh.

Makan sambil nonton sering dianggap sepele dan dianggap teman setia waktu makan sendirian. Padahal, stimulasi visual berlebihan bisa bikin kamu kehilangan koneksi dengan rasa lapar dan kenyang. Akhirnya, kamu makan bukan karena butuh, tapi karena layar belum selesai ditonton. Yuk simak lima alasan kenapa kebiasaan ini sulit dilepaskan.

1. Layar bikin kamu lupa sedang makan

ilustrasi laki-laki makan sambil menonton
ilustrasi laki-laki makan sambil menonton (freepik.com/freepik)

Saat mata fokus ke layar, otak kamu sibuk memproses gambar dan cerita. Perhatian yang seharusnya tertuju pada makanan jadi terbagi. Kamu tetap mengunyah, tapi gak benar-benar sadar dengan apa yang masuk ke tubuh. Inilah awal dari kebiasaan makan buruk yang sering diabaikan.

Ketika perhatian teralihkan, sinyal kenyang jadi terlambat sampai ke otak. Akibatnya, kamu cenderung makan lebih banyak dari yang dibutuhkan. Porsi terasa biasa saja, padahal sudah cukup. Bahaya makan sambil nonton sering berawal dari situasi sederhana ini.

2. Nonton jadi pemicu rasa nyaman palsu

ilustrasi perempuan makan sambil menonton
ilustrasi perempuan makan sambil menonton (freepik.com/lookstudio)

Menonton sesuatu saat makan memberi sensasi nyaman yang instan. Kombinasi rasa makanan dan hiburan visual bikin momen makan terasa lebih menyenangkan. Tanpa disadari, kamu mengasosiasikan makan dengan hiburan. Akhirnya, makan tanpa nonton terasa hambar.

Lama-lama, kamu gak lagi mendengar sinyal tubuh sendiri. Lapar emosional dan lapar fisik jadi sulit dibedakan. Kamu makan karena butuh distraksi, bukan karena perut kosong. Pola ini membuat mindful eating makin sulit dilakukan.

3. Kamu makan lebih cepat dari yang disadari

ilustrasi perempuan makan
ilustrasi perempuan makan (freepik.com/diana-grytsku)

Coba perhatikan, saat nonton, kamu jarang benar-benar merasakan tekstur makanan. Sendok demi sendok masuk tanpa jeda yang cukup. Tanpa sadar, piring sudah kosong lebih cepat dari biasanya. Tubuh pun belum sempat mencerna rasa kenyang.

Makan terlalu cepat membuat sinyal kenyang datang terlambat. Akibatnya, kamu merasa masih ingin nambah meski tubuh sebenarnya sudah cukup. Kebiasaan ini sering berujung rasa begah atau tidak nyaman. Ini salah satu dampak nyata dari kebiasaan makan buruk.

4. Layar mengganggu koneksi tubuh dan pikiran

ilustrasi perempuan makan mi instan
ilustrasi perempuan makan mi instan (freepik.com/tirachardz)

Mindful eating mengajak kamu hadir penuh saat makan. Namun layar justru menarik pikiran ke arah lain. Kamu tahu sedang makan, tapi tidak benar-benar terlibat. Hubungan alami antara tubuh dan pikiran pun terputus.

Saat koneksi ini terganggu, kamu sulit mengenali sinyal tubuh. Lapar, kenyang, atau puas jadi kabur. Kamu baru sadar kekenyangan setelah semuanya terlambat. Bahaya makan sambil nonton sering muncul dari kebiasaan ini.

5. Kebiasaan ini terbentuk dari rutinitas harian

ilustrasi wanita makan sambil menonton
ilustrasi wanita makan sambil menonton (freepik.com/tirachardz)

Awalnya mungkin cuma karena bosan atau makan sendirian. Lama-lama, otak menganggap layar sebagai bagian wajib dari aktivitas makan. Tanpa nonton, kamu merasa ada yang kurang. Kebiasaan ini akhirnya terbentuk tanpa disadari.

Rutinitas yang diulang akan terasa normal, meski dampaknya tidak sehat. Kamu jadi sulit menikmati makanan dengan penuh kesadaran. Mindful eating terasa asing dan canggung. Padahal, perubahan kecil bisa membawa dampak besar.

Makan tanpa menonton memang terasa aneh di awal. Namun tubuh kamu butuh ruang untuk merasakan, bukan sekadar mengisi. Dengan mengurangi distraksi visual, kamu belajar mendengar sinyal kenyang dengan lebih jujur. Yuk, pelan-pelan ubah kebiasaan makan agar hubunganmu dengan tubuh jadi lebih sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

OOTD Olahraga ala Janice Tjen, Petenis yang Stylish

10 Feb 2026, 21:23 WIBLife