5 Alasan Orang Tulus Tak Langsung Menawarkan Bantuan, Lihat Situasi

Ketika kamu mengalami kesulitan dan butuh bantuan, tentu dirimu berharap pertolongan datang dari orang yang tulus. Sebisa mungkin jangan sampai kamu malah berurusan dengan orang yang berpamrih karena nanti pasti berujung banyak kerepotan. Lebih baik dirimu berusaha sendiri ketimbang mesti mengalami kerumitan di kemudian hari sebab orang yang tak tulus meminta berbagai hal padamu.
Namun, pertolongan dari orang tulus belum tentu datang secepat keinginanmu. Padahal, kamu tahu betul bahwa teman atau saudara yang tulus tersebut ada di sekitarmu. Apabila dirimu gak menjaga pikiran dan belajar memahaminya, kamu bisa mengambil kesimpulan yang keliru.
Seperti orang yang selama ini dikenal bersifat tulus ternyata sifat aslinya berbeda. Padahal, orang yang tidak mengharapkan pamrih memang tak harus selalu siap menolong orang lain. Semua tergantung situasinya. Lebih baik kamu memahami hakikat dari orang tulus seperti dalam uraian berikut.
1. Orang tulus gak sama dengan suka memanjakan

Keliru apabila kamu menyamakan orang tulus dengan suka memanjakan. Orang yang senang memanjakanmu mau melakukan apa saja untukmu dengan atau tanpa dirimu memintanya. Dia gak mau kamu capek atau berada dalam kesulitan sekecil apa pun. Tapi belum tentu ia benar-benar tulus.
Sementara itu, orang yang tulus tidak selalu siap memanjakanmu. Mungkin kamu mengenal satu orang tulus yang sekaligus senang memanjakanmu, misalnya orangtua atau pasangan. Namun, ada lebih banyak orang di luar sana yang tulus tetapi ingin kamu bisa mandiri.
Dalam situasi dirimu benar-benar kesulitan, ia pasti turun tangan dan tidak mengharapkan balasan apa pun darimu. Akan tetapi, dia menahan diri dari menawarkan bantuan bila melihat kamu masih mampu mengatasinya. Maka sebaiknya kamu juga gak cepat-cepat meminta pertolongannya sebelum berusaha sampai maksimal.
2. Mengukur kemampuan diri dulu

Orang yang tulus dalam membantu juga tak sembarangan. Ia harus memastikan dirinya memang mampu untuk menolongmu. Sebab meski hatinya baik, masalahmu barangkali memerlukan orang dengan keahlian tertentu. Dia tidak bisa hanya mengandalkan ketulusan hati.
Tanpa kemampuan yang memadai, boleh jadi campur tangannya dalam permasalahanmu cuma bikin situasi lebih rumit. Walau keinginannya buat membantu besar, ia bakal menahan diri untuk tak ikut campur bila kemampuannya gak memadai. Kalaupun dia berusaha membantu paling sekadar memberitahumu tentang orang lain yang lebih tepat untuk itu.
Kesadarannya akan kemampuan diri mestinya bikin kamu lega. Daripada ia sok tahu dan berusaha membantu, tetapi hanya membuang-buang waktu karena tidak kunjung berhasil. Kemampuan orang yang tulus juga ada batasnya. Dia gak bisa membantumu dalam segala hal.
3. Memastikan diri bersih dari kepentingan atau perlu minta sesuatu

Ketulusan manusia bisa dengan mudah diwarnai oleh aneka kepentingan. Ia dapat tulus di suatu waktu, tetapi bisa berubah mengharapkan imbalan di lain keadaan. Ini tidak selalu berarti buruk. Sebagai contoh, seseorang tulus dalam membantu kesulitan tetangga di kehidupan sehari-hari.
Tetangga butuh peralatan pertukangan misalnya, dia otomatis meminjaminya kalau punya dan lagi gak dipakai. Alat itu dapat dikembalikan kapan pun tetangga selesai. Namun ketika teman kerja meminta bantuannya untuk suatu proyek, ia meminta imbalan karena proyek tersebut juga mendatangkan uang.
Maka sebelum menawarkan bantuan, orang yang tulus juga perlu berpikir dulu. Apakah ini saat yang tepat untuknya tidak mengharapkan apa-apa darimu? Atau sepantasnya ada pertukaran barang atau jasa?
Jika seseorang benar-benar ingin tulus padamu, dia harus memastikan tak mempunyai kepentingan apa pun supaya hati terasa ringan ketika melakukan sesuatu. Namun bila dia merasa pertukaran barang atau jasa merupakan hal wajar, ia pun perlu memikirkan dulu cara terbaik buat menyampaikannya padamu. Jangan sampai dirimu menjadi berburuk sangka padanya.
4. Dia belum tentu segera tahu kebutuhan atau kesulitanmu

Orang tulus bisa ada di mana saja bahkan sangat dekat denganmu. Akan tetapi, jangan berharap terlampau muluk seperti dirinya pasti tahu mengenai kesulitan-kesulitanmu. Pribadi yang amat cuek misalnya, cenderung telat mengetahui masalah orang-orang di sekitarnya.
Tapi sekalinya ia tahu dan membantu, ketulusannya tidak perlu diragukan lagi. Jangan asal menyalahkan orang yang tulus tapi kurang peka dengan masalahmu. Kalau kamu memang membutuhkan bantuannya mending langsung bilang saja daripada lelah berharap dia mendekat duluan.
Bila pun orang yang tulus tahu mengenai kesusahanmu, terkadang ia sengaja tak segera menawarkan bantuan dengan sejumlah alasan. Selain kamu masih bisa mengatasinya sendiri, ia mungkin juga ingin menjaga privasimu. Dia tidak tahu kamu bakal menyambut baik tawaran bantuannya atau justru salah memahaminya sebagai tindakan yang melanggar privasi.
5. Tulus gak berarti tak punya prioritas dan bisa terus diganggu

Jika secara tidak sadar kamu mengangap orang tulus sebagai seksi sibuk juga berbahaya. Seolah-olah ia siap direpotkan kapan pun, oleh siapa pun, dan berkaitan dengan perkara apa saja. Dalam memberikan bantuan, orang yang tulus bisa melakukannya secara spontan maupun dipikir baik-baik dulu.
Untuk jenis pertolongan yang amat mudah baginya atau situasinya darurat, dia bertindak dengan spontanitas. Ia bahkan tidak perlu menawarkan bantuan melainkan langsung melakukan sesuatu. Sementara dalam situasi lain yang gak mendesak, dia berhak mempunyai prioritas berbeda termasuk mengutamakan keperluannya sendiri.
Kalau kamu hendak secara langsung meminta bantuannya, dirimu juga mesti menghargai kesibukannya. Jangan seakan-akan ia harus membuktikan ketulusan hatinya dengan selalu siap direpotkan olehmu. Malah kamu yang sedapat-dapatnya jangan terbiasa merepotkan siapa pun.
Ketulusan seseorang tidak dapat dinilai dari seberapa cepat ia menawarkan bantuan. Pasalnya, orang yang punya banyak kepentingan terhadapmu justru sering kali paling sigap menawarkan pertolongan. Bahkan dengan setengah memaksa biar mereka gak kehilangan kesempatan emas buat diri sendiri.