Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Plot Enemies to Lovers Masih Bikin Pembaca Romansa Ketagihan
ilustrasi orang dengan kumpulan buku (pexels.com/ECBULAT)
  • Trope enemies to lovers memikat lewat ketegangan emosional dari konflik substansial, yang membangun rasa penasaran melalui interaksi penuh gesekan dan sisi tersembunyi para karakter.
  • Romansa berkembang perlahan dari benci menuju saling memahami dan menghargai, sehingga terasa logis; konflik eksternal tetap dihadapi bersama setelah perasaan tumbuh.
  • Pertengkaran berlandaskan prinsip kuat serta perubahan emosional yang dinamis membuat karakter terasa realistis, sementara runtuhnya pertahanan mereka menghadirkan kepuasan emosional bagi pembaca.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Enemies to lovers jadi salah satu formula yang paling disukai dalam cerita bergenre romansa. Sesuai dengan namanya, trope ini menceritakan dua karakter yang awalnya saling bermusuhan, membenci satu sama lain, kemudian berakhir dengan saling jatuh cinta.

Melansir laman Penerbit KBM Indonesia, enemies to lovers merupakan naratif trope di mana dua karakter memulai hubungan mereka dengan konflik, lalu berubah menjadi ketertarikan romantis. Daya tarik utama dari trope ini terletak pada proses perubahan karakternya serta penghalang emosional yang harus diatasi, bukan sekadar rasa benci yang biasa.

Meski terdengar klise, nyatanya formula ini dinilai gak pernah gagal membuat pembaca ketagihan, ceritanya bikin berdebar-debar dan senyum-senyum sendiri. Berikut sejumlah alasan kenapa enemies to lovers selalu sukses membuat pembaca ketagihan.

1. Cerita mampu memunculkan ketegangan emosional yang intens

ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/abdullah çadırcı)

Dua karakter yang saling bersitegang dalam cerita mampu memunculkan ketegangan yang intens pada pembaca. Saat dua orang yang saling bermusuhan ada dalam satu situasi, suasana di sekitar mereka pun terasa ikut memanas. Ketegangan inilah yang secara cepat mampu membangun rasa penasaran pembaca, membuat mereka membuka halaman demi halaman tanpa terasa.

Interaksi yang penuh gesekan antarkarakter ini juga bertujuan untuk memperlihatkan sisi tersembunyi mereka. Alhasil, narasi yang disajikan cenderung jauh dari kata membosankan, melainkan terus memikat pembaca untuk menyelami setiap konflik yang berkembang.

Ketahui pula bahwa dalam enemies to lovers, dua karakter gak bermusuhan atas dasar hal sepele ya, konflik yang tercipta dari keduanya berakar pada sesuatu yang substansial, seperti berdasarkan nilai (value-based conflict), kepentingan yang nyata (tangible stakes), kesalahpahaman yang terstruktur (structured misunderstanding), ataupun luka masa lalu yang bersinggungan (converging past wounds).

2. Cerita yang disajikan tidak terkesan cringe

ilustrasi orang membaca novel (unsplash.com/Sophie Elvis)

Hubungan romantis yang dibangun dengan metode yang kurang tepat (seperti alur yang instan) kerap kali membuat pembaca merasa risih atau menganggapnya cringe karena terkesan gak masuk akal. Nah, dalam formula enemies to lovers, permasalahan semacam itu jarang ditemukan. Sebab, hubungan antarkarakter dibangun secara perlahan melalui proses yang logis dan realistis, mulai dari rasa benci, saling memahami, saling menghargai, hingga akhirnya tumbuh perasaan kagum atau cinta.

Kemudian, saat dua karakter saling mencintai, semua konflik eksternal pun gak otomatis dihilangkan. Misalnya, dua karakter mulanya saling membenci karena masa lalu keluarga mereka yang saling berseteru. Maka, dua karakter tersebut tetap harus menghadapi tekanan itu, tapi kali ini secara bersama-sama sebagai tim.

3. Menyajikan pertengkaran yang tajam dan tidak kenak-kanakan

ilustrasi orang membaca buku (unsplash.com/Gift Habeshaw)

Penyajian cerita enemies to lovers yang baik adalah yang menghindari pertengkaran kekanak-kanakan. Biasanya karakter yang dibangun dalam trope ini punya prinsip hidup yang kuat, hingga ego yang sama-sama besar.

Saat mereka beradu argumen, dialog yang lahir bukan sekadar saling menjatuhkan atau mencela tanpa alasan, melainkan punya landasan kuat dan terkesan memikat. Pertengkaran tajam dan interaksi matang inilah yang membuat pembaca tertarik untuk terus menyelami kisah para tokoh.  

4. Perkembangan karakter yang hidup dan dinamis

ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Lisa Fotios)

Karena trope ini menghadirkan transisi cerita yang mengalir, perkembangan karakternya pun terasa hidup dan dinamis. Perubahan dari rasa benci ke cinta gak terjadi begitu saja, kan, melainkan dari proses panjang, jatuh bangun, hingga karakter harus membuang ego masing-masing.

Perubahan emosional inilah yang membuat pertumbuhan karakternya terasa realistis dan memuaskan bagi pembaca. Jadi, pembaca gak hanya berfokus pada kisah romansa yang terjalin di akhir cerita, tapi juga pada perjalanan masing-masing tokoh dalam memperbaiki diri dan mengatasi luka masa lalu mereka.

5. Cerita mampu memunculkan kepuasan emosional saat pertahanan para tokoh runtuh

ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Zen Chung)

Salah satu adegan favorit dalam trope enemies to lovers adalah saat pertahanan yang dibangun masing-masing karakter akhirnya runtuh. Saat dua orang yang terbiasa bersikap sinis, kemudian perlahan menunjukkan kepeduliannya di hadapan satu sama lain dinilai mampu menciptakan kepuasan emosional yang kuat.

Momen semacam itu selalu sukses membuat pembaca merasa gemas, lega, sekaligus haru. Setelah sekian lama diwarnai oleh perselisihan dan kesalahpahaman, mereka akhirnya bisa bersatu dan jujur pada perasaan masing-masing.

Jadi, popularitas jenis trope ini bukan sekadar kebetulan semata. Melalui alur cerita yang seru dan proses yang dibangun secara emosional, enemies to lovers berhasil memikat hati para pecinta genre romansa. Apakah kamu juga termasuk orang yang memfavoritkan jenis trope ini dan setuju dengan poin-poin tersebut? Kalau iya, buku apa yang jadi favorit kamu selama ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article