Quiet quitting sering dianggap sebagai cara masuk akal untuk menjaga batas antara pekerjaan. Kamu berhenti memberi tenaga ekstra, bekerja sesuai tugas, lalu menolak tuntutan. Masalahnya, ketika sistem kerja gak ikut berubah, sikap kerja seadanya justru bisa memindahkan beban ke bagian lain.
Situasi ini membuat quiet quitting gak selalu berakhir pada kerja yang lebih sehat. Ketika satu orang mengurangi kapasitas karena motivasi kerja turun, pekerjaan yang tersisa bisa menumpuk pada rekan. Yuk, simak lima alasan quiet quitting bisa menjadi pemicu systemic burnout baru.
