Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Dampak Negatif Gaya Hidup Sedentari bagi Kesehatan Tubuh
ilustrasi laki-laki menggunakan laptop (magnific.com/Wiroj Sidhisoradej)
  • Duduk terlalu lama dapat mengganggu sirkulasi darah, termasuk berkaitan dengan varises dan risiko penggumpalan darah pada kondisi tertentu.
  • Gaya hidup sedentari berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, tekanan darah, serta kadar gula darah yang kurang sehat.
  • Minim aktivitas dapat menurunkan stamina, massa otot, kemampuan bergerak, dan meningkatkan kekakuan; jeda bergerak rutin membantu mengurangi total waktu duduk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Duduk berjam-jam di depan laptop terasa seperti bagian biasa dari rutinitas kerja. Namun, bahaya gaya hidup sedentari bisa muncul ketika tubuh terlalu lama diam dan jarang mendapat kesempatan bergerak. Masalahnya bukan cuma pegal, tetapi juga perubahan pada sirkulasi, metabolisme, dan stamina.

Buat pekerja kantoran, pola ini gampang terbentuk tanpa disadari. Jam kerja, makan siang, hingga perjalanan pulang bisa dihabiskan dengan duduk. Yuk, simak beberapa dampak terlalu lama duduk yang perlu kamu pahami berikut ini.

1. Sirkulasi darah bisa terganggu

ilustrasi laki-laki melakukan peregangan (magnific.com/magnific)

Saat duduk lama, kaki berada dalam posisi yang relatif sama selama berjam-jam. Dilansir Healthline, terlalu lama duduk dapat berkaitan dengan masalah pembuluh darah seperti varises dan peningkatan risiko penggumpalan darah pada kondisi tertentu. Kaki yang terasa berat atau kaku menjadi pengingat untuk mengubah posisi.

Bergerak secara berkala membantu tubuh mengurangi waktu dalam posisi diam. Cobalah untuk mengambil jeda dari duduk setiap sekitar 30 menit, misalnya dengan berdiri atau berjalan sebentar. Kebiasaan kecil ini lebih realistis daripada menunggu tubuh lelah baru bergerak.

2. Risiko masalah jantung ikut meningkat

ilustrasi nyeri dada (magnific.com/jcomp)

Duduk terlalu lama bukan hanya membuat badan terasa malas bergerak. Waktu duduk yang panjang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung serta beberapa masalah metabolik, termasuk tekanan darah dan kadar gula darah yang kurang sehat. Risiko ini perlu diperhatikan ketika minim aktivitas berlangsung terus-menerus.

Pola ini sering terasa aman karena dampaknya gak selalu muncul hari itu juga. Medical News Today menjelaskan bahwa gaya hidup sedentari dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Karena itu, olahraga setelah kerja tetap penting, tetapi memecah waktu duduk sepanjang hari juga perlu diperhatikan.

3. Stamina harian bisa menurun

ilustrasi perempuan lelah (magnific.com/magnific)

Tubuh yang jarang digunakan untuk bergerak bisa terasa cepat lelah saat melakukan aktivitas ringan. Naik tangga, berjalan lebih jauh, atau berdiri cukup lama dapat terasa lebih berat ketika aktivitas fisik sehari-hari sangat minim. Efek kurang bergerak seperti ini sering dianggap sekadar kurang fit.

Padahal, aktivitas fisik membantu menjaga kebugaran dan kemampuan tubuh melakukan pekerjaan sehari-hari. Mayo Clinic menyebut aktivitas aerobik dapat membantu memperkuat jantung dan meningkatkan stamina. Kamu gak harus langsung latihan berat, karena jalan singkat pun menambah aktivitas harian.

4. Massa otot dan kemampuan bergerak ikut berkurang

ilustrasi perempuan berjalan (magnific.com/katemangostar)

Duduk seharian membuat banyak otot berada dalam kondisi minim aktivitas. Jika pola ini terus berlangsung, tubuh bisa kehilangan kekuatan dan kemampuan bergerak secara optimal. Healthline juga memasukkan kehilangan massa otot dan kekakuan sebagai dampak yang dapat muncul dari terlalu banyak duduk.

Perubahan ini bisa terasa saat tubuh lebih kaku setelah bangun dari kursi. Kurangnya aktivitas juga dapat memengaruhi kemampuan fisik dan kesehatan tulang. Peregangan, berjalan, atau aktivitas ringan membantu tubuh gak terus berada dalam posisi yang sama.

5. Kebiasaan malas bergerak bisa membentuk pola sedentari

ilustrasi perempuan malas bergerak (magnific.com/magnific)

Masalahnya bukan hanya berapa lama kamu duduk di kantor. Setelah pulang, waktu duduk sering berlanjut saat makan, menonton, bermain ponsel, atau bekerja lagi sehingga total waktu diam menjadi panjang. Yang perlu diperhatikan adalah akumulasi kurang gerak sepanjang hari.

Mayo Clinic menekankan bahwa mengurangi waktu duduk tetap penting meski seseorang sudah berolahraga. Kamu bisa mulai dari keputusan praktis, seperti berjalan saat menerima telepon atau memilih naik tangga untuk jarak tertentu. Tujuannya bukan berolahraga setiap menit, melainkan memberi tubuh lebih banyak kesempatan bergerak.

Menjaga tubuh tetap aktif gak selalu berarti harus punya rutinitas olahraga yang rumit. Perhatikan seberapa sering tubuh diam selama berjam-jam tanpa jeda. Mulai dari gerakan kecil yang konsisten bisa menjadi cara sederhana untuk mengurangi bahaya gaya hidup sedentari dalam rutinitas sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article