Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Kebiasaan People Pleaser yang Bikin Cepat Burnout

5 Kebiasaan People Pleaser yang Bikin Cepat Burnout
Ilustrasi mendengarkan (pexels.com/Liza Summer)
Intinya Sih
  • Kebiasaan people pleaser muncul saat seseorang terlalu berusaha menyenangkan semua orang hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri, yang akhirnya menguras energi fisik dan mental.
  • Sulit menolak permintaan, takut mengecewakan, serta terus mencari validasi dari luar membuat people pleaser kehilangan batasan sehat dan rentan mengalami stres maupun burnout.
  • Menetapkan batasan, belajar berkata tidak, dan menghargai diri sendiri menjadi langkah penting agar tetap peduli pada orang lain tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Ingin membantu orang lain dan menjaga hubungan tetap baik memang bukan hal yang salah. Sikap peduli, suportif, dan mau membantu merupakan kualitas positif yang dapat membuat hubungan dengan orang lain terasa lebih hangat dan menyenangkan. Namun, ketika keinginan untuk menyenangkan semua orang dilakukan secara berlebihan, kondisi tersebut justru bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Banyak orang yang tanpa sadar terus mengorbankan waktu, tenaga, dan kenyamanan pribadi demi memenuhi harapan orang lain. Akibatnya, energi fisik maupun mental terkuras sedikit demi sedikit tanpa disadari.

People pleaser biasanya terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan dirinya sendiri. Mereka sering merasa gak enak menolak permintaan, takut mengecewakan orang lain, atau merasa harus selalu tersedia kapan pun dibutuhkan. Meski terlihat sebagai bentuk kebaikan, kebiasaan ini dapat membuat seseorang kesulitan menjaga batasan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Jika terus dilakukan dalam jangka panjang, tekanan yang muncul bisa membuat tubuh dan mental lebih mudah lelah. Karena itu, penting untuk mengenali berbagai kebiasaan people pleaser yang sering tanpa sadar menguras energi agar kamu bisa menjaga diri sendiri tanpa harus kehilangan kepedulian terhadap orang lain. Berikut beberapa kebiasaan people pleaser yang sering bikin cepat burnout.

1. Sulit mengatakan tidak

Dua perempuan profesional berdiskusi di depan laptop di ruang kantor dengan jendela besar dan latar gedung berwarna terang.
Ilustrasi mendengarkan (pexels.com/MART PRODUCTION)

People pleaser sering merasa gak enak saat harus menolak permintaan orang lain. Mereka khawatir akan dianggap tidak peduli, tidak membantu, atau mengecewakan orang di sekitarnya. Karena itu, mereka cenderung lebih mudah mengatakan “iya” meski sebenarnya sudah memiliki banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Akibatnya, berbagai tugas, bantuan, atau permintaan tambahan terus menumpuk tanpa disadari. Mereka menerima lebih banyak hal daripada yang sebenarnya mampu ditangani, sementara kebutuhan dan keterbatasan diri sendiri sering kali diabaikan.

Lama-kelamaan, kebiasaan ini membuat waktu dan energi terkuras karena terus digunakan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Jika tidak diimbangi dengan batasan yang sehat, kondisi tersebut dapat memicu stres, kelelahan emosional, dan membuat seseorang merasa kewalahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, belajar mengatakan tidak pada situasi tertentu merupakan langkah penting untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan mental.

2. Selalu ingin memenuhi ekspektasi semua orang

Tiga orang sedang berdiskusi di meja kerja dengan laptop terbuka menampilkan grafik warna, suasana fokus dan profesional.
Ilustrasi fokus pada pekerjaan (freepik.com/rawpixel.com)

Banyak people pleaser merasa harus membuat semua orang puas terhadap keputusan, sikap, dan tindakan yang mereka ambil. Mereka cenderung mengukur keberhasilan dari seberapa sedikit orang yang kecewa atau seberapa banyak orang yang menyetujui pilihan yang dibuat.

Padahal, memenuhi ekspektasi semua orang adalah sesuatu yang hampir mustahil dilakukan. Setiap orang memiliki keinginan, kebutuhan, dan pandangan yang berbeda, sehingga tidak ada keputusan yang bisa memuaskan semua pihak dalam waktu yang bersamaan.

Ketika seseorang terus berusaha mengejar persetujuan dari berbagai arah, energi mental akan banyak terkuras untuk memikirkan respons dan penilaian orang lain. Lama-kelamaan, tekanan tersebut bisa membuat diri lebih mudah stres, lelah, dan kehilangan fokus terhadap apa yang sebenarnya penting bagi dirinya sendiri. Karena itu, belajar menerima bahwa tidak semua orang harus selalu puas merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental dan ketenangan pikiran.

3. Mengabaikan kebutuhan diri sendiri

Seorang perempuan mengenakan sweater merah tertidur dengan kepala di atas meja kerja di depan laptop di ruang kantor yang terang.
Ilustrasi lelah (pexels.com/Andrea Piacquadio

Karena terlalu fokus membantu dan memenuhi kebutuhan orang lain, people pleaser sering kali lupa memperhatikan dirinya sendiri. Mereka terbiasa mendahulukan kepentingan orang lain, bahkan ketika sedang lelah, membutuhkan waktu istirahat, atau memiliki urusan pribadi yang juga perlu diselesaikan.

Akibatnya, istirahat sering ditunda, perasaan sendiri diabaikan, dan kebutuhan pribadi dianggap tidak terlalu penting dibanding kebutuhan orang lain. Lama-kelamaan, kebiasaan ini membuat seseorang semakin sulit mengenali batas kemampuan dan kebutuhan dirinya sendiri.

Padahal, tubuh dan mental tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi. Jika terus mengabaikan kebutuhan diri demi orang lain, energi yang dimiliki akan semakin terkuras dan risiko mengalami stres, kelelahan emosional, hingga burnout pun menjadi lebih besar. Merawat diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan bagian penting dari menjaga kesehatan dan keseimbangan hidup.

4. Takut mengecewakan orang lain

Seorang wanita duduk santai di depan laptop dengan tangan di belakang kepala di ruang kerja berwarna lembut.
Ilustrasi menenangkan diri (pexels.com/www.kaboompics.com)

Rasa takut membuat orang lain kecewa sering menjadi alasan utama mengapa seorang people pleaser sulit menetapkan batasan yang sehat. Mereka khawatir akan dianggap tidak peduli, tidak membantu, atau bahkan merusak hubungan jika menolak permintaan yang diberikan.

Akibatnya, mereka lebih memilih memendam rasa tidak nyaman dan terus mengatakan “iya” meski sebenarnya sudah merasa kewalahan. Keinginan untuk menjaga perasaan orang lain sering kali membuat kebutuhan dan kemampuan diri sendiri dikesampingkan.

Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, tekanan yang dipendam dapat menumpuk dan menguras energi mental. Lama-kelamaan, kondisi tersebut bisa memicu stres, kelelahan emosional, hingga perasaan frustrasi karena terus memberikan lebih banyak daripada yang sanggup ditanggung. Karena itu, belajar menetapkan batasan bukanlah tindakan egois, melainkan cara penting untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan dalam hubungan dengan orang lain.

5. Terlalu bergantung pada validasi dari luar

Dua perempuan muda berbicara sambil tersenyum di kantor modern, satu memegang laptop dan lainnya membawa map kuning serta headphone di leher.
Ilustrasi mendengarkan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Sebagian people pleaser merasa lebih berharga ketika mendapat pujian, pengakuan, atau apresiasi dari orang lain. Akibatnya, mereka terus berusaha menyenangkan orang di sekitarnya demi mendapatkan penerimaan tersebut. Jika validasi yang diharapkan tidak datang, rasa kecewa dan lelah emosional bisa semakin besar.

Menjadi pribadi yang peduli dan suka membantu tentu merupakan hal yang baik. Namun, jangan sampai keinginan untuk menyenangkan orang lain membuat kebutuhan dan kesehatan mentalmu sendiri terabaikan. Belajar menetapkan batasan dan menghargai diri sendiri merupakan langkah penting agar kamu bisa membantu orang lain tanpa harus mengorbankan diri hingga burnout.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya

Related Articles

See More