Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan yang Membuat Overthinking Kamu Makin Parah

5 Kebiasaan yang Membuat Overthinking Kamu Makin Parah
Ilustrasi mengecek dokumen kembali (magnific.com/zinkevych)
  • Kebiasaan mencari kepastian berulang dari orang lain dapat memperpanjang keraguan; masukan perlu dibedakan dari kebutuhan akan validasi sebelum mengambil keputusan.
  • Mengulang percakapan, terlalu sering mengecek pesan atau pekerjaan, serta membayangkan skenario buruk membuat pikiran terus mencari kesalahan dan kemungkinan yang belum tentu terjadi.
  • Membawa masalah hingga waktu istirahat menguras energi; artikel menyarankan fokus pada langkah saat ini, membatasi pengecekan, dan mencatat rencana penanganan untuk esok hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sesekali memikirkan sesuatu secara berlebihan bisa terjadi ketika kamu sedang menghadapi situasi yang gak pasti. Kamu mungkin ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencana atau mencoba memahami sesuatu yang belum memiliki jawaban jelas. Dalam kondisi tertentu, hal ini terasa wajar dan bisa membantu kamu mempertimbangkan langkah berikutnya.

Namun, ada kebiasaan tertentu yang tanpa disadari justru membuat pikiran terus berputar pada hal yang sama. Kamu bisa berulang kali memikirkan kemungkinan buruk, mencari kepastian dari orang lain, atau mengulang kembali kejadian yang sebenarnya sudah selesai. Semakin sering dilakukan, semakin sulit rasanya untuk menghentikan alur pikiran tersebut.

Kalau dibiarkan, kebiasaan ini bisa membuat overthinking terasa semakin kuat dan menyita banyak energi. Mengenali pola yang sering muncul bisa menjadi langkah awal untuk mengubahnya. Berikut lima kebiasaan yang membuat overthinking makin parah.

  1. 1. Terus mencari kepastian dari orang lain

    Dua teman mengobrol dalam suasana santai sebagai ilustrasi percakapan dan interaksi sosial sehari-hari.
    Ilustrasi mengobrol dengan teman (pexels.com/Alexander Suhorucov)

    Ketika merasa ragu, kamu mungkin sering bertanya kepada teman tentang apa yang sebaiknya dilakukan atau bagaimana seseorang memandangmu. Mendapatkan pendapat dari orang lain memang bisa membantu melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda. Jawaban yang diberikan pun bisa membuatmu merasa lebih lega untuk sementara.

    Namun, setelah beberapa waktu, keraguan yang sama bisa muncul lagi. Kamu kembali memikirkan kemungkinan lain, mempertanyakan keputusan yang sudah dibuat, lalu mencari pendapat orang lain untuk memastikan semuanya benar-benar aman. Siklus ini bisa terus berulang ketika rasa yakin hanya bergantung pada jawaban dari orang lain.

    Cobalah membedakan kapan kamu memang membutuhkan masukan dan kapan sebenarnya sedang mencari kepastian berulang kali. Kalau informasi yang kamu butuhkan sudah cukup dan keputusan sudah bisa diambil, beri dirimu kesempatan untuk mempercayai pertimbangan sendiri. Kamu gak harus selalu mendapatkan kepastian penuh sebelum melangkah.

  2. 2. Mengulang percakapan di kepala

    Ilustrasi seseorang mengulang percakapan di dalam kepala, menggambarkan kebiasaan menganalisis kembali interaksi sosial.
    Ilustrasi mengulang percakapan di kepala (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Pernah selesai berbicara dengan seseorang, lalu terus memikirkan apa yang kamu katakan? Kamu mungkin mengingat kembali ekspresi lawan bicara, memikirkan kata-kata yang tadi digunakan, atau membayangkan respons lain yang seharusnya bisa kamu berikan. Percakapan yang sebenarnya sudah selesai pun terus berputar di kepala.

    Kebiasaan seperti ini bisa membuat kejadian yang sudah berlalu terasa seperti masih berlangsung. Kamu terus mencari bagian yang mungkin kurang tepat, padahal belum tentu lawan bicaramu memikirkan percakapan tersebut sedetail itu. Semakin lama dipikirkan, semakin sulit rasanya untuk benar-benar meninggalkan kejadian tersebut.

    Ketika menyadarinya, coba alihkan perhatian pada aktivitas yang sedang kamu lakukan saat ini. Kamu bisa kembali mengerjakan tugas, mendengarkan musik, merapikan barang, atau melakukan kegiatan sederhana yang membuat fokus kembali ke keadaan sekarang. Biarkan percakapan tadi selesai tanpa harus terus mencari kesalahan dari setiap kata yang sudah kamu ucapkan.

  3. 3. Terlalu sering mengecek sesuatu

    Seseorang memeriksa tumpukan dokumen di meja kerja dengan teliti sebagai ilustrasi mengecek kembali berkas penting.
    Ilustrasi mngecek dokumen kembali (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

    Pesan yang sudah dikirim, pekerjaan yang sudah selesai, atau keputusan yang sudah dibuat bisa terus kamu periksa berulang kali. Kamu mungkin kembali membuka chat untuk memastikan tidak ada salah ketik, mengecek dokumen yang sebenarnya sudah dikirim, atau mengingat-ingat keputusan yang tadi sudah dipertimbangkan.

    Memastikan sesuatu memang berguna pada situasi tertentu, terutama ketika ada detail penting yang perlu diperiksa. Namun, kalau dilakukan berkali-kali hanya karena takut terjadi kesalahan, pikiran justru semakin sulit merasa tenang. Alih-alih merasa yakin, kamu malah terus mencari kemungkinan baru yang sebenarnya belum tentu ada.

    Coba tentukan batas pengecekan sejak awal. Misalnya, baca kembali pesan sebelum dikirim atau periksa pekerjaan sekali setelah selesai. Setelah yakin semuanya sudah sesuai, beri diri sendiri izin untuk berhenti mengecek dan melanjutkan aktivitas berikutnya.

  4. 4. Membayangkan semua kemungkinan buruk

    Ilustrasi seseorang sedang overthinking, tampak termenung dengan pikiran yang terasa penuh dan membebani.
    Ilustrasi overthinking (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Pikiran yang sedang cemas mudah membuat berbagai skenario muncul. Kamu mungkin mulai membayangkan apa yang akan terjadi kalau sesuatu berjalan gak sesuai harapan. Hal kecil yang awalnya biasa saja bisa terasa semakin besar karena terus dipikirkan dari berbagai kemungkinan.

    Masalahnya, satu kemungkinan bisa berkembang menjadi banyak kemungkinan lain yang belum tentu terjadi. Kamu bisa menghabiskan banyak waktu memikirkan sesuatu yang bahkan belum terjadi, sampai lupa bahwa kondisi saat ini masih bisa kamu hadapi satu per satu.

    Daripada memikirkan semua skenario sekaligus, coba arahkan perhatian pada hal yang memang bisa kamu lakukan saat ini. Selesaikan satu hal yang ada di depanmu, ambil keputusan berdasarkan kondisi yang benar-benar terjadi, lalu biarkan hal lainnya berjalan sesuai waktunya. Dengan begitu, pikiran punya ruang untuk berhenti membuat terlalu banyak kemungkinan.

  5. 5. Membawa masalah ke waktu istirahat

    Ilustrasi perempuan muda duduk di tepi tempat tidur sambil menunduk, menggambarkan overthinking dan rendah diri.
    Ilustrasi overthinking (magnific.com/freepik)

    Sudah waktunya tidur, tetapi pikiran masih sibuk memikirkan pekerjaan, percakapan, atau masalah yang terjadi sepanjang hari. Kalau terus dilakukan, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum tentu bisa diselesaikan malam itu. Coba tuliskan hal yang masih mengganggu pikiran dan rencana sederhana untuk menanganinya esok hari. Setelah itu, izinkan dirimu beristirahat.

    Overthinking gak selalu bisa dihentikan begitu saja. Namun, kamu bisa mulai mengenali kebiasaan yang membuat pikiran semakin berputar. Gak semua hal harus mendapatkan jawaban malam ini. Ada masalah yang memang membutuhkan waktu, dan ada situasi yang baru bisa kamu pahami setelah menjalaninya. Ketika pikiran mulai terlalu ramai, coba tanyakan pada diri sendiri Apakah aku sedang mencari solusi, atau hanya mengulang hal yang sama?.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More