Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trauma Tak Selalu Hilang, Apa Kunci Penyembuhan Trauma Menurut Ahli?

Trauma Tak Selalu Hilang, Apa Kunci Penyembuhan Trauma Menurut Ahli?
ilustrasi trauma bonding (Freepik.com/ freepik)
  • Riset yang dikutip menunjukkan 2 dari 3 individu dapat kembali tangguh tanpa intervensi, dengan dukungan sosial dan pola pikir fleksibel yang menjaga fungsi mental tetap sehat.
  • Menurut George Bonanno, trauma tidak dihapus melalui satu strategi universal; pemulihan bergantung pada konteks, kemampuan beradaptasi, serta kumpulan keterampilan dan cara menghadapi masalah.
  • Bantuan profesional dapat menyediakan ruang aman untuk membahas pengalaman traumatis, memberi perspektif berbeda, dan meningkatkan keterampilan menghadapi kesusahan, pikiran, serta perasaan terkait trauma.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pengalaman yang menyakitkan di masa lalu mungkin sudah berlalu, tetapi bukan berarti perasaan yang menyertainya ikut hilang begitu saja. Pengalaman yang kurang menyenangkan seolah terus membekas di kepala, memberi pengaruh terhadap hidup, baik dalam pola pikir maupun sikap seseorang.

Ada kalanya seseorang hidup dihantui pengalaman traumatis, namun beberapa orang tidak mengalami hal semacam itu, mengapa demikian? Para ahli menyebut, pengalaman traumatis dapat berangsur-angsur hilang secara alami, berikut adalah penjelasan lengkapnya.

  1. 1. Cara melewati hal traumatis adalah memiliki pola pikir yang fleksibel

    ilustrasi trauma akibat hubungan inses
    ilustrasi trauma akibat hubungan inses (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Dalam sebuah penelitian berjudul "Loss, Trauma, and Human Resilience: Have We Underestimated the Human Capacity to Thrive After Extremely Aversive Events?" yang dijelaskan dalam Psychology Today, membuktikan bahwa 2 dari 3 individu memiliki resilience kembali tanpa melakukan intervensi apa pun. Tidak peduli jenis, durasi, atau tingkat keparahan peristiwa yang berpotensi menciptakan trauma, manusia lebih mungkin untuk kembali tangguh karena adanya support system.

    Menurut George Bonanno penulis buku The End of Trauma (2024), resiliensi bukan berarti seseorang tidak terdampak oleh trauma, melainkan mampu mempertahankan atau kembali pada fungsi mental yang sehat seiring waktu. Ketahanan ini didorong oleh flexibility mindset atau pola pikir yang fleksibel yang terdiri dari tiga keyakinan yang saling berkaitan, yakni tetap optimis terhadap masa depan, percaya pada kemampuan diri untuk menghadapi kesulitan, serta mampu melihat ancaman sebagai tantangan yang dapat dilalui.

    Seseorang yang dapat pulih dari trauma bukan berarti menghapus pengalaman tidak menyenangakn tersebut. Melainkan, memulihkan trauma dengan membangun flexibility mindset yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru yang dihadapi.

    George menjelaskan makna resilience, “Pola kesehatan mental yang tetap baik setelah mengalami peristiwa yang berpotensi menimbulkan trauma, atau lebih tepatnya, lintasan fungsi yang sehat dan stabil dari waktu ke waktu".

  2. 2. Pada dasarnya, tak ada strategi untuk menghapuskan trauma

    ilustrasi trauma
    ilustrasi trauma (freepik.com/freepik)

    George dalam bukunya menyebut bahwa tidak ada strategi khusus yang terbukti paling sukses menyembuhkan trauma. Kiat yang kerap dibagikan untuk penyembuh luka pada dasarnya adalah daftar tindakan yang pernah dilakukan manusia untuk merawat diri mereka. Riset yang dikaji oleh George juga menyebut bahwa tak ada strategi spesifik untuk menghadapi trauma. Segala sesuatu dalam proses penyembuhan bergantung pada konteks dan fleksibilitas pada kemampuan pribadi melihat pengalam itu.

    Sebab jika ditelaah lebih dalam, strategi menghapus trauma kerap kali menunjukkan tindakan yang berlawanan. Misalnya menekan emosi dan mengekspresikan emosi, memodifikasi situasi atau mengabaikannya, menghadapi atau menghindari. Artinya, tak ada strategi khusus untuk menghadapi hal semacam ini, masing-masing individu dapat menghadapi situasi berbeda.

    Beberapa hal itu bisa diterapkan dan diadaptasi oleh pribadi masing-masing, mungkin saja efektif tapi ada kalanya tidak memberi hasil. Paparan George di Psychology Today menerangkan bahwa kunci utamanya adalah repertoire atau kumpulan kemampuan, strategi, keterampilan, dan cara menghadapi masalah yang dimiliki setiap orang. Seseorang sebaiknya mengandalkan pola pikir yang fleksibel, optimistic dan percaya diri untuk menghadapi hal traumatis.

  3. 3. Mendapatkan dukungan atua bantuan ahli

    ilustrasi trauma
    ilustrasi trauma (pexels.com/ mart production)

    Rasa sakit akibat peristiwa yang tidak menyenangkan dapat membuat kehidupan menjadi lebih berat. Mungkin saja individu merasa kehilangan dirinya setelah melalui hal traumatis. Untuk itu, intervensi profesional dapat membantu memulihkan trauma.

    Dalam VeryWell Health, Konselor kesehatan Mental, Geralyn Dexter, PhD, menyebut, bantuan profesional dapat memberi perspektif berbeda. Sebab, dalam sesi terapi tersedia lingkungan yang rahasia, aman dan terbuka untuk berdiskusi terkait penyembuhan. Profesional dapat mendukung efektivitas intervensi dalam pemulihan trauma karena fokus untuk meningkatkan keterampilan dalam mengatasi kesusahan maupun pikiran dan perasaan terkait hal itu.

    Individu mungkin tak bisa menghapuskan pengalaman traumatis. Akan tetapi, seseorang dengan pengalaman traumatis dapat membangun resilience akan pengalaman semacam itu.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More