Ramadan sering dikenal sebagai bulan refleksi, pengendalian diri, dan peningkatan kualitas spiritual. Namun dalam praktik sehari-hari, suasana bulan ini justru sering dipenuhi aktivitas konsumsi yang meningkat tajam. Pusat perbelanjaan ramai, online marketplace dipenuhi promo besar, dan berbagai produk musiman bermunculan hampir di setiap sudut kota.
Fenomena ini sebenarnya gak muncul begitu saja. Ada sejumlah pola pikir konsumtif yang tanpa disadari berkembang di masyarakat sehingga Ramadan terasa identik dengan aktivitas belanja. Ketika pola pikir tersebut terus diulang setiap tahun, perilaku konsumsi menjadi kebiasaan yang dianggap wajar. Supaya Ramadan tetap memiliki makna yang lebih seimbang, mari pahami beberapa pola pikir yang sering memicu perilaku konsumtif berikut ini. Yuk, refleksi bersama supaya Ramadan terasa lebih bermakna!
