Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Konten Negatif Lebih Mudah Viral di Media Sosial?

Kenapa Konten Negatif Lebih Mudah Viral di Media Sosial?
ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/ROBIN WORRALL)
Intinya Sih
  • Otak manusia secara alami lebih peka terhadap ancaman, membuat konten negatif seperti konflik atau kabar buruk lebih cepat menarik perhatian dibandingkan informasi positif yang netral.
  • Konten negatif memicu emosi kuat seperti marah dan cemas, mendorong pengguna untuk berkomentar, membagikan, dan memperluas jangkauan melalui algoritma media sosial.
  • Algoritma platform menonjolkan konten dengan interaksi tinggi, menciptakan siklus doomscrolling di mana pengguna terus terpapar dan berinteraksi dengan konten bernada negatif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernahkah kamu merasa media sosial dipenuhi kabar buruk, drama, konflik, atau hal-hal yang memancing emosi? Menariknya, konten seperti itu sering kali mendapatkan lebih banyak komentar, sering dibagikan, dan menjadi viral dalam waktu singkat. Sementara itu, konten positif yang informatif atau menginspirasi kadang justru tenggelam di antara derasnya arus informasi.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Ada alasan psikologis dan cara kerja platform digital yang membuat konten bernada negatif lebih mudah menarik perhatian orang. Langsung saja, kita kulik kenapa konten negatif lebih sering viral dibandingkan dengan konten positif?

1. Otak manusia lebih peka terhadap ancaman

ilustrasi scrolling media sosial
ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/Marco Palumbo)

Sejak zaman nenek moyang manusia, kemampuan mendeteksi bahaya merupakan kunci untuk bertahan hidup. Karena itulah, otak kita secara alami lebih cepat memperhatikan hal-hal yang dianggap mengancam, mengejutkan, atau mengkhawatirkan.

Sebagai contoh, berita tentang konflik, kecelakaan, atau penipuan biasanya langsung menarik perhatian dibandingkan dengan kabar tentang seseorang yang menjalani hari biasa dengan tenang. Otak menganggap informasi negatif sebagai sesuatu yang lebih penting untuk diketahui karena mungkin berkaitan dengan keselamatan atau risiko.

Meskipun manusia modern tidak lagi harus menghadapi predator seperti nenek moyangnya, cara kerja otak dalam merespons ancaman masih belum banyak berubah. Otak cenderung lebih cepat menangkap informasi yang dianggap berbahaya atau berisiko dibandingkan dengan informasi yang netral. Karena itulah, konten yang memicu rasa takut, marah, atau cemas sering kali lebih mudah menarik perhatian banyak orang.

2. Emosi kuat mendorong orang untuk membagikan konten

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial (unsplash.com/Erik Lucatero)

Viralitas tidak hanya bergantung pada jumlah orang yang melihat suatu unggahan, tetapi juga pada seberapa banyak orang yang terdorong untuk membagikannya. Konten negatif sering memicu emosi yang intens. Ketika seseorang merasa marah terhadap suatu kejadian atau kesal terhadap perilaku seseorang, ia cenderung ingin mengomentari atau membagikan konten tersebut kepada orang lain.

Contohnya, video yang menampilkan tindakan yang dianggap tidak adil atau merugikan orang lain sering kali langsung ramai diperbincangkan. Banyak pengguna merasa terdorong untuk mengungkapkan pendapat, membela pihak tertentu, atau bahkan berdebat dengan pengguna lain di kolom komentar. Tingginya interaksi tersebut kemudian membuat algoritma platform menilai konten itu menarik sehingga jangkauannya semakin luas.

3. Drama dan konflik membuat orang penasaran

ilustrasi laki-laki sedang scrolling di media sosial
ilustrasi laki-laki sedang scrolling di media sosial (unsplash.com/Rasheed Kemy)

Manusia pada dasarnya menyukai cerita. Namun, cerita yang mengandung konflik biasanya terasa lebih menarik dibandingkan dengan cerita yang berjalan mulus tanpa masalah. Karena itu, perselisihan antar figur publik, pertengkaran, atau kontroversi sering menjadi bahan perbincangan yang tidak ada habisnya.

Orang ingin mengetahui siapa yang benar, siapa yang salah, dan bagaimana akhir ceritanya. Rasa penasaran ini membuat pengguna terus mengikuti perkembangan suatu isu. Semakin banyak orang yang mencari dan membicarakannya, semakin besar peluang konten tersebut menjadi viral.

4. Algoritma media sosial mengejar keterlibatan pengguna

ilustrasi scrolling media sosial
ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/ROBIN WORRALL)

Platform media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang mampu membuat pengguna bertahan lebih lama. Salah satu indikator yang sering digunakan adalah jumlah interaksi, seperti komentar, bagikan, dan waktu menonton.

Masalahnya, konten negatif sering menghasilkan keterlibatan yang tinggi. Ketika sebuah unggahan memicu perdebatan panjang, pengguna akan terus kembali untuk membaca komentar atau membalas pendapat orang lain.

Algoritma tidak selalu memahami apakah sebuah konten berdampak positif atau negatif. Yang dilihat adalah seberapa aktif pengguna berinteraksi dengan konten tersebut. Akibatnya, unggahan yang memancing kemarahan atau kontroversi sering mendapat jangkauan yang lebih luas.

5. Efek "doomscrolling" membuat siklus terus berulang

ilustrasi scrolling media sosial
ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/Marco Palumbo)

Istilah doomscrolling merujuk pada kebiasaan terus-menerus membaca berita atau informasi negatif di internet. Meskipun membuat stres, banyak orang tetap melakukannya karena merasa perlu mengetahui perkembangan terbaru. Saat pengguna terus mengonsumsi konten negatif, algoritma akan menganggap mereka tertarik pada topik tersebut.

Selanjutnya, platform akan menampilkan lebih banyak konten serupa. Lama-kelamaan terbentuk lingkaran yang sulit diputus. Pengguna melihat konten negatif, berinteraksi dengannya, lalu menerima lebih banyak konten negatif lagi.

6. Konten positif sering dianggap kurang mendesak

ilustrasi media sosial (pexels.com/Lisa)
ilustrasi media sosial (pexels.com/Lisa)

Bukan berarti konten positif tidak bisa viral. Banyak video inspiratif, kisah kemanusiaan, atau aksi kebaikan yang berhasil menarik perhatian jutaan orang. Namun, dibandingkan dengan konten negatif, informasi positif sering dianggap tidak terlalu mendesak untuk dibagikan. Orang mungkin menyukainya, tetapi tidak merasa perlu segera mengirimkannya kepada teman atau menuliskan komentar panjang.

Sebaliknya, kabar yang mengejutkan atau memancing kemarahan biasanya memunculkan dorongan yang lebih kuat untuk bereaksi. Inilah yang membuat penyebarannya sering kali lebih cepat.

Melihat banyaknya konten negatif yang viral, mudah untuk mengira bahwa dunia sedang dipenuhi masalah. Padahal, tidak semua hal yang penting akan menjadi viral, dan tidak semua yang viral memiliki dampak besar dalam kehidupan nyata.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih selektif dalam mengonsumsi informasi. Sesekali mencari konten yang edukatif, inspiratif, atau menghibur juga bisa membantu menciptakan pengalaman digital yang lebih sehat dan seimbang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More