Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tipe MBTI yang Cenderung Punya Martyr Complex, Kamu Salah Satunya?

Ilustrasi pasangan
Ilustrasi pasangan (pexels.com/SHVETS production)
Intinya sih...
  • ISFJ cenderung merasa tidak dihargai karena selalu mengorbankan diri tanpa pamrih, menyebabkan perasaan kecewa dan merasa jadi "korban".
  • ENFJ merasa tanggung jawab secara personal terhadap kebahagiaan orang lain, sehingga terus memaksakan diri untuk membantu hingga muncul perasaan frustrasi.
  • INFJ rentan terjebak dalam pola pikir martyr karena berharap pengorbanannya diakui tanpa perlu diungkapkan, menyebabkan perasaan tidak dipahami.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang selalu mengorbankan dirinya demi orang lain, tetapi di saat bersamaan juga merasa tidak dihargai? Atau mungkin kamu sendiri sering merasa lelah karena terus-menerus mendahulukan kepentingan orang lain, namun akhirnya malah menyimpan kekecewaan dalam hati? Nah, kondisi ini sering disebut sebagai martyr complex.

Secara sederhana, martyr complex adalah pola pikir di mana seseorang merasa harus terus berkorban untuk orang lain, bahkan ketika pengorbanan itu tidak diminta. Uniknya, mereka yang memiliki kecenderungan ini sering kali diam-diam berharap pengorbanannya diakui atau diapresiasi. Bila hal itu tidak terjadi, perasaan kecewa dan merasa jadi "korban" pun muncul.

Menariknya, berdasarkan karakteristik kepribadian dalam MBTI, ada beberapa tipe yang memang lebih rentan mengembangkan pola pikir ini. Penasaran apakah tipe kepribadianmu termasuk di dalamnya? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

1. ISFJ

Ilustrasi pasangan ISFJ
Ilustrasi pasangan ISFJ (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Sebagai tipe yang dikenal sangat peduli dan penuh perhatian, ISFJ memang punya kecenderungan alami untuk selalu hadir bagi orang-orang di sekitarnya. Mereka adalah sosok yang dengan senang hati akan membantu tanpa perlu diminta. Sayangnya, sifat ini bisa menjadi bumerang bila tidak dikelola dengan baik.

ISFJ kerap merasa bahwa kebutuhannya sendiri tidak sepenting kebutuhan orang lain. Akibatnya, mereka terus memberi dan memberi tanpa pernah berhenti untuk mengisi ulang energi diri sendiri. Nah, ketika pengorbanan itu tidak disadari oleh orang-orang terdekat, perasaan tidak dihargai pun mulai menggerogoti. Padahal, orang lain mungkin bahkan tidak tahu bahwa ISFJ sedang berkorban, karena mereka melakukannya dengan sangat halus dan tanpa pamrih.

2. ENFJ

Ilustrasi pasangan ENFJ
Ilustrasi pasangan ENFJ (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Kalau ada tipe yang merasa punya misi untuk memastikan semua orang di sekitarnya baik-baik saja, itu adalah ENFJ. Mereka adalah pemimpin yang hangat dan sangat peka terhadap kebutuhan emosional orang lain. Namun, di balik sifat mulia ini, ada jebakan yang sering tidak disadari.

ENFJ cenderung merasa bahwa kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawabnya secara personal. Bila ada yang sedih atau kecewa, mereka akan merasa gagal. Pola pikir ini membuat ENFJ terus memaksakan diri untuk hadir, membantu, dan menyelesaikan masalah semua orang, bahkan ketika tubuh dan pikirannya sudah kelelahan. Celakanya, bila ada momen di mana usaha mereka tidak menghasilkan perubahan, perasaan frustrasi dan kecenderungan martyr complex pun muncul.

3. INFJ

Ilustrasi pasangan INFJ
Ilustrasi pasangan INFJ (freepik.com/freepik)

INFJ dikenal sebagai tipe yang sangat idealis dan penuh empati. Mereka bisa merasakan emosi orang lain dengan sangat dalam, bahkan terkadang lebih dalam dari yang dirasakan orang itu sendiri. Kemampuan ini membuat INFJ jadi sosok yang sangat suportif, tetapi juga rentan terjebak dalam pola pikir martyr.

Masalahnya, INFJ sering kali berharap orang lain juga memiliki kepekaan yang sama terhadap perasaannya. Ketika mereka berkorban atau melakukan sesuatu yang besar untuk orang lain, ada harapan tersirat bahwa hal itu akan disadari dan dihargai tanpa perlu diungkapkan. Tentu saja, ekspektasi ini jarang terpenuhi, karena tidak semua orang punya kemampuan membaca situasi seperti INFJ. Akhirnya, perasaan tidak dipahami dan menjadi "korban" pun menumpuk dalam hati.

4. ESFJ

Ilustrasi pasangan ESFJ
Ilustrasi pasangan ESFJ (pexels.com/SHVETS production)

Sebagai tipe yang sangat berorientasi pada hubungan sosial, ESFJ mendapatkan energi dari interaksi dengan orang lain. Mereka adalah sosok yang dengan senang hati akan mengurus, memperhatikan, dan memastikan semua orang di sekitarnya merasa nyaman. Namun, ada satu hal yang perlu diwaspadai.

ESFJ sering kali mengaitkan nilai dirinya dengan seberapa besar kontribusinya untuk orang lain. Bila mereka tidak mendapat apresiasi atau pengakuan atas usahanya, perasaan tidak berharga bisa muncul dengan sangat kuat. Kondisi ini membuat ESFJ terus-menerus mencari cara untuk berguna bagi orang lain, bahkan ketika hal itu sudah melampaui batas kemampuannya. Pada titik tertentu, pola ini berubah menjadi martyr complex yang membuat mereka merasa jadi korban dari kebaikan hatinya sendiri.

5. INFP

ilustrasi pasangan INFP
ilustrasi pasangan INFP (pexels.com/Ketut Subiyanto)

INFP adalah tipe yang sangat idealis dan punya sistem nilai yang kuat. Mereka percaya pada kebaikan dan selalu berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Sayangnya, idealisme ini terkadang membuat INFP sulit menerima kenyataan bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Ketika INFP merasa disakiti atau pengorbanannya tidak dihargai, mereka cenderung menyimpan luka itu dalam waktu yang sangat lama. Bukan karena mereka tidak mau memaafkan, tetapi karena emosi yang dirasakan begitu intens sehingga sulit untuk dilepaskan begitu saja. Akibatnya, INFP bisa terjebak dalam narasi di mana mereka adalah pihak yang selalu dirugikan. Bila tidak hati-hati, pola pikir ini bisa berkembang menjadi martyr complex yang justru menghambat pertumbuhan pribadi.

Martyr complex memang bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Pola pikir ini biasanya terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang tanpa disadari. Kabar baiknya, bila kamu merasa memiliki kecenderungan ini, hal tersebut masih bisa diubah dengan mulai belajar menetapkan batasan dan mengomunikasikan kebutuhanmu dengan lebih terbuka. Jadi, sudah siap untuk lebih menyayangi diri sendiri mulai sekarang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Keuntungan Kerja Remote Buat Para Ibu, Bisa Bersama Anak di Rumah!

13 Feb 2026, 08:15 WIBLife