Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Cara Orang Hadapi Kesalahannya, Ada yang Gak Berani Mengakui!

6 Cara Orang Hadapi Kesalahannya, Ada yang Gak Berani Mengakui!
ilustrasi permasalahan (pexels.com/Diva Plavalaguna)

Masalah yang dihadapi seseorang akan menguji wataknya yang sesungguhnya. Di samping kemampuannya menyelesaikan problem, sifat-sifat aslinya biasanya baru tampak. Meski dia biasanya pandai berteori tentang problem solving, praktiknya mungkin sangat berbeda.

Apa-apa yang selalu dikatakannya tentang cara pemecahan masalah yang baik ternyata tidak diterapkan. Apalagi saat masalah itu disebabkan oleh kesalahan sendiri, biasanya sikapnya makin jauh dari berani. Berikut macam-macam respons orang ketika berhadapan dengan kesalahannya sendiri.

1. Mengaku, meminta maaf, dan bertanggung jawab

ilustrasi minta maaf (pexels.com/Alex Green)
ilustrasi minta maaf (pexels.com/Alex Green)

Ini sikap terbaik yang seharusnya ditunjukkan seseorang ketika berbuat salah pada orang lain. Begitu pula bila kesalahannya menyebabkan kerugian dalam organisasi. Mengakui serta berani meminta maaf adalah awal yang baik untuk memperbaiki kesalahan.

Jika mengakui dan meminta maaf saja tidak, biasanya orang tak terdorong untuk mempertanggungjawabkan kekeliruannya. Satu sikap tidak peduli bakal berlanjut dengan ketidakpedulian yang lain. Meski bisa juga orang cuma mengaku dan meminta maaf tanpa melakukan upaya pertanggungjawaban.

Terkadang semata-mata karena kemampuannya kurang. Misalnya, dia telanjur merugikan kantor dari segi materi. Penghasilannya jauh lebih kecil dari nilai kerugian yang harus digantinya.

Namun, bisa pula lantaran niatnya tidak kuat. Ia berpikir pengakuan dan permintaan maaf saja sudah cukup buat mengetuk hati orang lain. Alangkah baiknya apabila ketiga hal di atas dilakukan sebagai bentuk kesungguhan.

2. Menghindar atau pura-pura tidak tahu kesalahannya

ilustrasi permasalahan (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi permasalahan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Orang yang bersikap begini tidak punya cukup keberanian untuk melakukan poin pertama. Jika dia memilih menghindar, ia akan sulit sekali dicari oleh orang-orang yang terdampak kesalahannya. Nanti dia baru muncul kembali saat sepertinya mereka telah melupakan perbuatannya.

Kalaupun upayanya untuk menghindar gagal; ia tetap tak akan mengakui, meminta maaf, apalagi mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia justru bisa bersikap penuh kepura-puraan dengan seolah-olah gak tahu dirinya telah berbuat salah. Tujuannya, biar orang lain menganggapnya sekadar ketidaksengajaan.

Jika orang lain dapat diyakinkan dengan sikap pura-puranya, ia berharap terhindar dari keharusan melakukan pertanggungjawaban. Orang akan memakluminya dan paling-paling memintanya agar tidak mengulangi kesalahan itu. Ternyata dia tak sepolos kelihatannya, kan?

3. Menghukum diri sendiri

ilustrasi permasalahan (pexels.com/Alena Darmel)
ilustrasi permasalahan (pexels.com/Alena Darmel)

Orang yang melakukan ini setiap berbuat salah larut dalam penyesalan yang sangat dalam. Apalagi kalau kesalahan itu dilakukannya terhadap orang terdekat. Sengaja atau tidak sengaja tak lagi menjadi pemikirannya.

Dia cuma ingin menebus rasa bersalahnya dengan memberi sanksi pada diri sendiri. Sekalipun orang lain tak terlalu mempersoalkan perbuatannya, ia mungkin akan tetap membebani dirinya dengan hukuman. Ini dilakukannya bukan buat mendapatkan maaf dari orang lain, tetapi meringankan rasa bersalahnya.

Meski yang terjadi kerap kali tidak demikian. Makin keras ia berusaha menghukum diri, dia makin merasa kesalahannya besar sekali. Hukuman itu seolah-olah tak pernah cukup dan dia menciptakan sanksi-sanksi lain yang lebih berat.

4. Marah atau menyalahkan orang lain

ilustrasi permasalahan (pexels.com/Liza Summer)
ilustrasi permasalahan (pexels.com/Liza Summer)

Sikapnya memang bikin bingung orang lain. Ia yang berbuat salah, dia pula yang marah-marah. Pikirannya mudah sekali kalut begitu orang lain menegur kesalahannya.

Walau teguran itu disampaikan secara privat, dia akan tetap tersinggung hebat. Sering kali kemarahan ini juga diikuti dengan kesukaan menyalahkan orang lain. Kesalahan pribadi itu membuatnya terlalu tidak nyaman.

Maka dia berusaha secepatnya mengalihkan ketidaknyamanan itu pada orang lain. Dalam hati ia bisa saja mengakui kesalahannya maupun tidak. Namun, reaksi yang ditunjukkannya tetap penuh emosi dan menuding orang lain.

5. Mencari pembenaran atas perbuatannya

ilustrasi permasalahan (pexels.com/Budgeron Bach)
ilustrasi permasalahan (pexels.com/Budgeron Bach)

Kali ini seseorang tidak main tunjuk pada orang lain atas kesalahannya. Dia tidak mengambinghitamkan siapa-siapa. Hanya saja, ia berusaha meringankan penilaian bersalah atas dirinya.

Caranya adalah dengan sibuk mencari pembenaran. Ia bahkan berani mengakui dirinya mungkin layak disalahkan. Akan tetapi, ia punya banyak alasan guna mengesankan tindakannya sebenarnya bertujuan yang baik.

Dia juga suka meminta orang lain membayangkan berada dalam situasinya. Ia menuntut orang lain mengerti dirinya sampai perbuatan itu dilakukannya. Harapannya tentu status bersalah dan ancaman sanksi bisa dicabut.

6. Bingung dan minta saran dari banyak orang

ilustrasi curhat (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi curhat (pexels.com/RDNE Stock project)

Beberapa orang benar-benar tidak tahu tentang apa yang harus dilakukannya setelah berbuat salah. Sekalipun orang lain berkali-kali memberi tahu, dia tetap seperti tidak memahaminya. Ia pergi atau menghubungi sejumlah orang setiap menghadapi masalah yang disebabkan oleh kesalahannya.

Tak jarang dia gak jernih dalam memilih orang-orang yang dimintai pendapat. Maka makin banyak orang yang ditemuinya, makin bingung dirinya. Dia cenderung tak akan melakukan apa pun untuk mengatasi kesalahan itu.

Waktu dan energinya habis buat curhat. Butuh usaha yang keras sekali dari orang-orang terdekatnya untuk mendorongnya melakukan sesuatu. Saran yang sama semua lebih memotivasi dirinya, sedangkan nasihat yang beragam cuma menambah kebingungannya.

Bisakah seseorang yang terbiasa menghadapi kesalahan sendiri dengan cara negatif seperti poin dua sampai enam berubah? Tentu saja, asalkan ada keinginan yang kuat buat menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab. Sikap positif orang-orang di sekitarnya kala berbuat salah juga dapat menjadi contoh baginya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Marliana Kuswanti
EditorMarliana Kuswanti
Follow Us