Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Cara Memilah Informasi agar Gak Mudah Termakan Hoaks

4 min read
7 Cara Memilah Informasi agar Gak Mudah Termakan Hoaks
ilustrasi memilah informasi (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Informasi menyesatkan sering dikemas dengan judul sensasional, visual meyakinkan, atau nama lembaga; pembaca perlu menahan diri dan membaca isi secara utuh sebelum percaya atau membagikannya.
  • Kredibilitas informasi dapat diperiksa melalui sumber, bukti, tanggal, tempat, konteks, serta perbandingan dengan dua atau tiga sumber relevan, termasuk menelusuri asal foto dan video.
  • Konten yang memancing marah, takut, atau panik perlu dicek lebih cermat; bila bukti belum cukup, simpan dulu dan akui belum tahu sebelum berkomentar atau menyebarkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap hari ada saja informasi baru yang muncul di layar HP kamu. Ada berita, video, potongan percakapan, tangkapan layar, sampai pesan berantai yang tiba-tiba masuk ke grup keluarga. Sebagian memang bermanfaat, tetapi sebagian lainnya bisa saja keliru, tidak lengkap, atau sengaja dibuat untuk menyesatkan.

Masalahnya, informasi yang salah gak selalu terlihat mencurigakan. Kadang justru dikemas memakai judul yang meyakinkan, foto yang terlihat nyata, atau nama lembaga tertentu supaya orang lebih mudah percaya. Karena itu, kemampuan memilah informasi menjadi kebiasaan penting agar kamu gak gampang ikut menyebarkan sesuatu yang ternyata belum terbukti benar.

  1. 1. Jangan langsung percaya pada judul

    Ilustrasi seseorang menggunakan laptop untuk memilah dan memeriksa informasi dari berbagai sumber digital.
    ilustrasi memilah informasi (pexels.com/Canva Studio)

    Judul adalah bagian pertama yang biasanya kamu lihat ketika menemukan sebuah artikel. Judul yang dibuat sensasional bisa membuat kamu langsung merasa kaget, marah, atau penasaran sebelum mengetahui isi sebenarnya. Kalau emosi sudah terpancing, keinginan untuk langsung membagikan informasi biasanya ikut meningkat.

    Coba tahan sebentar dan baca isi informasinya sampai selesai. Perhatikan apakah penjelasan di dalam artikel memang mendukung apa yang dikatakan pada judul. Kamu mungkin akan menemukan bahwa konteks sebenarnya jauh lebih sederhana daripada kesan yang diberikan judul.

  2. 2. Periksa siapa sumber informasinya

    Ilustrasi seseorang memilah informasi untuk menentukan data yang relevan dan dapat dipercaya secara cermat.
    ilustrasi memilah informasi (pexels.com/Monstera)

    Informasi yang kamu temukan perlu dilihat asalnya. Apakah berasal dari lembaga resmi, media yang jelas identitasnya, pakar yang relevan, atau hanya akun anonim yang gak memberikan sumber? Identitas pembuat informasi bisa membantu kamu menilai seberapa jauh informasi tersebut layak dipercaya.

    Bukan berarti semua informasi dari akun pribadi pasti salah. Namun, semakin penting sebuah informasi, semakin perlu kamu mengetahui dasar dan sumber yang digunakan. Kalau sebuah klaim besar hanya disertai kalimat 'katanya' tanpa bukti yang jelas, sebaiknya jangan langsung menganggapnya sebagai fakta.

  3. 3. Cek tanggal dan konteks informasinya

    Ilustrasi proses memilah informasi untuk menentukan data yang relevan dari berbagai sumber yang tersedia.
    ilustrasi memilah informasi (pexels.com/Anna Shvets)

    Informasi lama bisa kembali viral seolah-olah merupakan kejadian baru. Foto atau berita dari beberapa tahun lalu juga bisa dibagikan ulang tanpa menjelaskan kapan peristiwa tersebut terjadi. Kalau kamu gak memperhatikan tanggalnya, pemahaman yang terbentuk bisa berbeda dari kondisi sebenarnya.

    Karena itu, selalu perhatikan kapan sebuah artikel diterbitkan atau kapan sebuah foto dan video pertama kali muncul. Cari konteks mengenai tempat, waktu, dan peristiwa yang sedang dibahas. Langkah kecil ini cukup membantu ketika kamu menemukan informasi yang terlihat baru tetapi ternyata merupakan kejadian lama.

  4. 4. Bandingkan dengan sumber lain

    Ilustrasi proses memilah informasi untuk menentukan data yang relevan, akurat, dan dapat dipercaya.
    ilustrasi memilah informasi (pexels.com/Callum Hilton)

    Jangan merasa sudah mendapatkan gambaran lengkap hanya karena menemukan satu unggahan yang terlihat meyakinkan. Coba cari informasi serupa dari beberapa sumber yang berbeda. Kalau sebuah peristiwa memang penting, biasanya ada sumber lain yang juga membahasnya.

    Kamu gak harus membuka belasan situs sekaligus. Dua atau tiga sumber yang relevan sudah bisa memberikan gambaran tambahan mengenai informasi tersebut. Kalau terdapat perbedaan, jangan langsung memilih informasi yang paling sesuai dengan pendapat kamu, tetapi cari tahu apa yang menyebabkan perbedaan tersebut.

  5. 5. Periksa foto dan video yang digunakan

    Ilustrasi proses memilah informasi untuk membedakan data yang relevan dan tidak relevan secara cermat.
    ilustrasi memilah informasi (pexels.com/Bruce mars)

    Foto dan video bisa membuat sebuah informasi terasa jauh lebih meyakinkan. Padahal, visual yang digunakan belum tentu berasal dari peristiwa yang sedang dibahas. Satu foto lama bisa saja dipasangkan dengan cerita baru sehingga orang yang melihatnya mendapatkan kesan yang keliru.

    Saat merasa ada sesuatu yang janggal, kamu bisa mencari sumber atau konteks asli dari visual tersebut. Perhatikan juga apakah foto terlihat dipotong, diberi tulisan tambahan, atau digunakan tanpa keterangan yang jelas. Untuk video, lihat apakah bagian sebelum dan sesudah potongan yang beredar memberikan konteks berbeda.

  6. 6. Waspadai informasi yang sengaja memancing emosi

    Ilustrasi remaja tampak sedih menatap ponsel dengan pesan di layar, menggambarkan pentingnya memilah informasi digital.
    ilustrasi memilah informasi (freepik.com/freepik)

    Pernah menerima pesan yang membuat kamu langsung marah, takut, atau panik? Reaksi emosional yang kuat bisa membuat seseorang lebih mudah menyebarkan informasi sebelum memeriksanya. Karena itu, konten yang sengaja membuat pembaca terburu-buru mengambil tindakan perlu diperhatikan lebih cermat.

    Kalimat seperti 'sebarkan sekarang juga', 'jangan sampai terlambat', atau klaim yang sangat dramatis bukan bukti bahwa informasi tersebut benar. Justru kamu bisa menjadikannya alasan untuk berhenti sejenak dan melakukan pengecekan. Kalau informasi itu memang valid, biasanya kamu tetap bisa menemukan sumber atau bukti yang mendukungnya.

  7. 7. Jangan malu mengatakan 'belum tahu'

    ilustrasi memilah informasi (freepik.com/freepik)
    ilustrasi memilah informasi (freepik.com/freepik)

    Ada dorongan untuk selalu punya jawaban ketika membaca sebuah informasi. Padahal, mengakui bahwa kamu belum tahu sesuatu justru bisa menjadi kebiasaan yang sehat. Kamu gak harus langsung percaya atau menolak sebuah informasi hanya karena belum menemukan bukti yang cukup.

    Kalau masih ragu, simpan dulu informasinya dan cari sumber yang lebih kuat. Kamu juga gak perlu ikut berkomentar atau membagikannya sebelum merasa cukup yakin. Kemampuan mengatakan 'saya belum tahu, saya cek dulu' bisa menjadi salah satu bentuk literasi digital yang sederhana tetapi penting.

    Memilah informasi bukan berarti kamu harus curiga pada semua hal yang muncul di internet. Tujuannya justru agar kamu punya kebiasaan berpikir sebelum percaya, berkomentar, atau menekan tombol share. Semakin terbiasa memeriksa sumber, tanggal, konteks, visual, dan informasi pembanding, semakin kecil kemungkinan kamu ikut menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.

    Jadi, mulai sekarang gak perlu buru-buru ketika menemukan informasi yang terasa mengejutkan. Berhenti sebentar, baca sampai selesai, cek sumbernya, lalu cari pembanding jika memang diperlukan. Di dunia yang informasinya bergerak begitu cepat, kadang kebiasaan paling cerdas adalah memperlambat diri sebelum percaya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More