"Istilah misinformation (informasi keliru) umumnya digunakan untuk merujuk pada informasi menyesatkan yang dibuat atau disebarluaskan tanpa niat manipulatif atau jahat. Keduanya merupakan masalah bagi masyarakat, namun disinformation (disinformasi) jauh lebih berbahaya karena sering kali terorganisasi, didukung oleh sumber daya yang memadai, serta diperkuat oleh teknologi otomatis," demikian laporan UNESCO dalam publikasi Journalism, 'Fake News' & Disinformation.
5 Cara Membedakan Berita Asli dan Hoaks di Era AI

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia membuat, menyebarkan, dan mengonsumsi informasi. Kini, AI mampu menghasilkan teks, gambar, audio, bahkan video yang terlihat sangat meyakinkan hanya dalam hitungan menit. Di satu sisi, teknologi ini membawa banyak manfaat untuk pendidikan, bisnis, dan kreativitas.
Namun di sisi lain, AI juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk membuat berita palsu, foto hasil manipulasi, hingga video deepfake yang sulit dibedakan dari kenyataan. Itulah kenapa kemampuan literasi digital menjadi salah satu keterampilan penting di era AI agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam penyebaran hoaks.
1. Jangan langsung percaya judul yang terlalu sensasional

ilustrasi hoaks (pixabay.com/geralt-9301) Salah satu ciri berita hoaks adalah penggunaan judul yang sengaja dibuat bombastis untuk memancing emosi pembaca. Judul seperti "Mengejutkan!", "Rahasia yang Disembunyikan!", atau "Sebarkan Sebelum Dihapus!" sering kali bertujuan agar orang langsung mengklik atau membagikan berita tanpa membaca isi secara utuh.
Di era AI, judul semacam ini bahkan dapat dibuat secara otomatis dalam jumlah besar sehingga penyebarannya menjadi lebih cepat. Oleh karena itu, biasakan membaca keseluruhan isi berita sebelum mengambil kesimpulan. Perhatikan apakah isi artikel benar-benar sesuai dengan judulnya atau justru berisi informasi yang dilebih-lebihkan.
Selain itu, cek apakah berita tersebut menyertakan data, narasumber yang jelas, dan konteks yang memadai. Jika hanya mengandalkan opini tanpa bukti, informasi tersebut patut dipertanyakan. Kita perlu membiasakan diri untuk memeriksa informasi sebelum mempercayainya atau menyebarkannya kepada orang lain.
2. Periksa sumber berita dan bandingkan dengan media kredibel

ilustrasi hoaks/hoax (IDN Times/Aditya Pratama) Langkah berikutnya yang tidak kalah penting adalah memeriksa siapa yang menerbitkan berita tersebut. Media yang kredibel biasanya memiliki identitas redaksi yang jelas, mencantumkan nama penulis, menyebutkan narasumber, serta menerapkan proses penyuntingan sebelum artikel dipublikasikan.
Sebaliknya, situs penyebar hoaks sering kali tidak memiliki informasi redaksi yang jelas atau menggunakan alamat situs yang menyerupai media terkenal untuk mengecoh pembaca. Selain memeriksa sumbernya, biasakan membandingkan informasi dengan beberapa media terpercaya.
Jika sebuah peristiwa memang penting, umumnya akan diberitakan oleh banyak media kredibel dengan fakta yang relatif sama. Tapi jika informasi hanya muncul di satu situs yang tidak dikenal dan tidak dikonfirmasi oleh media lain, masyarakat perlu berhati-hati sebelum mempercayainya.
3. Waspadai foto, audio, dan video yang bisa dimanipulasi AI

ilustrasi hoaks (Unsplash/ Hartono Creative Studio) Kemajuan AI membuat manipulasi visual dan audio menjadi semakin mudah dilakukan. Teknologi generative AI dapat menghasilkan gambar yang tampak realistis, sementara deepfake mampu mengubah wajah, suara, bahkan ekspresi seseorang dalam video sehingga terlihat seolah-olah benar-benar terjadi.
Akibatnya, bukti visual yang dulu dianggap paling meyakinkan kini tidak lagi bisa langsung dipercaya tanpa proses verifikasi. Jika menemukan foto atau video yang mengejutkan, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai fakta. Perhatikan apakah ada kejanggalan, seperti gerakan bibir yang tidak sinkron dengan suara, pencahayaan yang tidak konsisten, tangan atau jari yang terlihat aneh, hingga bayangan yang tidak sesuai arah cahaya.
Selain itu, gunakan fitur reverse image search melalui Google Images atau layanan seperti TinEye untuk mengetahui apakah gambar tersebut pernah dipublikasikan sebelumnya atau merupakan hasil manipulasi. Penting untuk melakukan verifikasi terhadap sumber dan konteks sebelum mempercayai konten digital.
4. Biasakan melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi

Ilustrasi hoaks (pexels.com/Markus Winkler) Salah satu penyebab hoaks cepat menyebar bukan hanya karena pembuatnya, tetapi juga karena banyak orang langsung menekan tombol "bagikan" tanpa memeriksa kebenarannya. Di era AI, informasi palsu dapat diproduksi dalam jumlah besar dan disebarkan ke berbagai platform media sosial hanya dalam waktu singkat.
Oleh sebab itu, setiap pengguna internet memiliki tanggung jawab untuk menghentikan rantai penyebaran hoaks. Sebelum membagikan sebuah informasi, tanyakan beberapa hal kepada diri sendiri: siapa yang pertama kali mengunggah informasi tersebut? Apakah ada media terpercaya yang mengonfirmasinya? Apakah tanggal, lokasi, dan konteksnya sesuai?
Jika masih ragu, lebih baik menunda membagikan informasi daripada ikut menyebarkan berita yang belum terbukti kebenarannya. Kebiasaan sederhana ini dapat mengurangi penyebaran misinformasi secara signifikan.
5. Tingkatkan literasi digital agar tidak mudah tertipu hoaks

ilustrasi hoaks (pixabay.com/memyselfaneye) Teknologi AI akan terus berkembang dan menghasilkan konten yang semakin sulit dibedakan dari karya manusia. Oleh karena itu, kemampuan yang paling penting bukan sekadar mengetahui cara menggunakan AI, tetapi juga memiliki literasi digital yang baik. Literasi digital mencakup kemampuan mencari informasi dari sumber terpercaya, mengevaluasi isi sebuah berita, memahami konteks, serta mengenali potensi manipulasi yang dilakukan melalui teknologi.
"Literasi AI adalah pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan manusia untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan sistem serta perangkat AI secara kritis guna berpartisipasi secara aman dan etis dalam dunia yang semakin digital," demikian dikutip dari DigitalPromise.
Selain itu, masyarakat juga perlu memahami bahwa algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang menarik perhatian pengguna, bukan selalu yang paling akurat. Berita yang memancing emosi seperti marah, takut, atau terkejut biasanya lebih mudah viral dibandingkan informasi yang telah diverifikasi. Karena itu, penting untuk membangun kebiasaan berpikir kritis, tidak mudah terpancing emosi, dan selalu memeriksa fakta sebelum mengambil kesimpulan maupun membagikan informasi kepada orang lain.
Di era AI, membedakan berita asli dan hoaks memang menjadi semakin menantang karena teknologi mampu menghasilkan teks, gambar, suara, hingga video yang tampak sangat meyakinkan. Namun, tantangan tersebut dapat dihadapi dengan meningkatkan literasi digital dan membiasakan diri berpikir kritis.







![[QUIZ] Adulting Is Hard, Ini Pesan yang Perlu Kamu Dengar Hari Ini](https://image.idntimes.com/post/20260819/timur-romanov-0wbqir5ej3c-unsplash_0befe5bc-ee63-4fe0-91e5-a766aef602cb.jpg)



![[QUIZ] Kamu Tipe Sahabat yang Seperti Apa dari Tinker Bell and Friends](https://image.idntimes.com/post/20220622/open-uri20150608-27674-xogirf-d170c40e-4a7ef61efd98ab80008fc6183155c764-1969e3b21bdd72a8ed712c22b19e4c54.jpeg)
![[QUIZ] Film Favoritmu Ungkap Hubungan Ibu dan Anak yang Kamu Impikan](https://image.idntimes.com/post/20240810/pexels-cottonbro-5493783-000251c4b6f52040ebb6807f5eed97f7-31726b6b00c6b6ec62cec5676be02362.jpg)








