Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Kategori Trope Fiksi yang Perlu Ditinggalkan Penulis, Biar Gak Monoton
ilustrasi banyak buku (pexels.com/Ena Marinkovic)
  • Penggunaan trope berulang dinilai memicu kejenuhan pembaca, sehingga penulis didorong menghadirkan cerita lebih beragam, berkualitas, dan tidak sekadar mengikuti pola populer.
  • Tokoh utama yang terlalu sempurna, karakter yang ekstrem antara sangat jahat dan suci, serta sosok lemah tanpa daya dianggap mengurangi sisi manusiawi cerita.
  • Akhir bahagia yang dipaksakan, konflik benci jadi cinta, kebetulan berlebihan, dan pasangan berlatar sangat berbeda dinilai membuat alur mudah ditebak atau kurang masuk akal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Trope fiksi adalah bagian dalam cerita yang sering digunakan secara berulang di novel, cerpen, film, dan sebagainya. Ketika trope yang mirip dipakai oleh banyak penulis maka pembaca akan mudah mengalami kejenuhan. Bahkan pembaca dapat sampai malas membaca karya fiksi lagi.

Tentu itu sangat merugikan pembaca sendiri, penerbit, dan para penulis. Semangat masyarakat dalam membaca karya fiksi perlu dijaga. Salah satunya, dengan penulis lebih berani mengembangkan ceritanya dan berhenti memakai trope yang itu-itu lagi.

Membuat karya fiksi bukan sekadar memulai sampai menyelesaikan sebuah naskah. Penulis juga wajib memiliki semangat untuk menghadirkan warna yang berbeda dari karya-karya yang sudah ada agar penggemar tetap setia mengikuti karyanya. Trope seperti di bawah ini perlu ditinggalkan agar karya fiksi lebih berkualitas, memikat, dan meninggalkan kesan mendalam sampai lama setelah buku ditutup.

1. Tokoh utama sangat sempurna dan diidolakan semua orang

ilustrasi membaca (pexels.com/Castorly Stock)

Kesempurnaan tokoh utama baik secara penampilan, sifat, maupun status sosial diharapkan memikat pembaca dari awal sampai akhir. Sayangnya, manusia seperti itu gak ada di dunia nyata. Semua orang juga tahu, manusia punya kelebihan dan kekurangan.

Sekalipun bacaan fiksi, pembaca akan jenuh dengan tokoh yang digambarkan sempurna. Ini terlalu jauh dari realitas. Tokoh utama sengaja diciptakan untuk dipuja tokoh-tokoh lain. Bahkan pembaca seperti didorong untuk halu. Pembaca yang cukup realistis tidak menyukainya.

2. Happy ending yang meremehkan semua konflik sebelumnya

ilustrasi membaca (pexels.com/Vlada Karpovich)

Kisah fiksi dengan akhir bahagia tentu tidak salah. Banyak juga pembaca yang sengaja memilih cerita happy ending. Itu membuat mereka ikut bahagia. Kalau akhirnya menyedihkan, mereka terlalu terbawa cerita dan menjadi overthinking setelah menamatkannya.

Namun, akhir bahagia juga mesti dikemas dengan baik. Jangan memaksakan akhir bahagia yang perfect padahal sebelumnya antartokoh terlibat konflik yang sangat serius. Akhirnya tetap bahagia gak apa-apa. Akan tetapi, jangan lantas seolah-olah semua orang berbaikan, nasib berubah drastis, dan sebagainya.

3. Musuh bebuyutan kena karma cinta mati

ilustrasi membaca (pexels.com/RDNE Stock project)

Konsep cerita dari benci menjadi cinta kadang memang bikin pembaca ikut gemas dan akhirnya senyum-senyum sendiri. Hanya saja ketika konsep ini terlalu sering dipakai maka cerita tak lagi terasa spesial. Begitu tokoh yang saling membenci muncul, pembaca sudah bisa menebak jalan dan akhir cerita.

Kisah kehilangan daya tariknya. Pun faktanya jarang ada dua orang yang sangat membenci sampai ilfeel parah kemudian berubah saling mencintai. Barangkali ada rasa sebal di awal, tapi bukan kebencian yang serius.

4. Terlalu banyak kebetulan

ilustrasi membaca (pexels.com/abdullah çadırcı)

Karya fiksi yang penuh kebetulan menjengkelkan bagi pembaca sebab nalar kritis mereka seperti diremehkan. Mana ada kebetulan sebanyak itu dalam hidup? Penulis terlihat enggan berusaha lebih keras untuk membuat ceritanya lebih menarik.

Pembaca yang dijejali kebetulan mending menutup buku sebelum cerita habis. Penulis sebaiknya tak lagi memakai kebetulan buat memudahkan jalan ceritanya. Kalau kisahnya makin berliku dan semua bisa dijelaskan secara masuk akal tanpa faktor kebetulan belaka, pembaca akan lebih percaya terhadap karya tersebut serta keahlian penulisnya.

5. Pasangan dengan latar belakang beda jauh

ilustrasi membaca buku (pexels.com/https://kaboompics.com)

Tentu orang bisa jatuh cinta pada siapa saja. Kadang orang bahkan jatuh cinta di pandangan pertama. Jauh sebelum dia tahu latar belakang orang tersebut. Akan tetapi, untuknya memilih pasangan sehidup semati beda cerita.

Kebanyakan orang akan lebih berhati-hati. Apalagi keluarga besar terutama orangtua sangat menentukan dalam memberikan restu. Umumnya orang tetap mempertimbangkan latar belakang calon pasangannya supaya cukup seimbang. Utamanya dari segi pendidikan dan pekerjaan biar komunikasi nyambung serta mereka lebih mudah menghadapi berbagai tantangan dalam hubungan.

6. Superbaik vs manusia suci

ilustrasi membaca buku (pexels.com/meomupmofilm)

Tokoh dalam cerita digambarkan seperti dua kutub yang berbeda. Ada tokoh yang saking jahatnya seperti tidak punya hati sama sekali. Tokoh ini diciptakan untuk terus menindas atau melawan tokoh kebalikannya, yaitu si manusia suci.

Kebaikan yang dilekatkan pada tokoh protagonis sampai membuatnya seperti orang yang gak pernah salah. Dua kutub dalam penokohan ini menjemukan bagi pembaca. Penulis seperti menghilangkan dua hal penting sekaligus.

Yaitu, sisi manusiawi tiap tokoh dan hubungan sebab akibat. Orang dapat menjadi jahat karena situasi. Sebaliknya orang baik pun bisa murka dan terlihat kejam ketika terus diganggu.

7. Karakter lemah sampai gak masuk akal

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Mary Fotinaki)

Karakter bermental sangat lemah ini seakan-akan harus dikasihani dan divalidasi terus oleh orang-orang di sekitarnya. Hampir setiap adegan ia selalu menangis, larut dalam kesedihan, menyalahkan diri, dan sama sekali tidak berdaya untuk melindungi atau memperjuangkan dirinya. Tokoh begini tak lagi menarik empati pembaca.

Justru pembaca menjadi jengkel padanya. Apalagi usia tokoh sudah dewasa, tentu pembaca berharap ia mampu bersikap lebih tegar dan berani dalam hidup. Bila karya fiksi masih diisi dengan tokoh superlemah, pembaca malah akan merundungnya.

Ketika karya fiksi diciptakan tidak hanya untuk dibaca sendiri, penulis harus berusaha lebih keras membuatnya semenarik mungkin. Jangan sampai penulis terjebak trope di atas. Apalagi aktivitas menulis fiksi disederhanakan menjadi sekadar mengikuti model-model cerita yang sudah umum. Padahal, itu membosankan bagi pembaca.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article