Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communication Indosat Ooredoo Hutchison, menyoroti pentingnya kemampuan manusia untuk mempertanyakan sesuatu dan memahami dampak dari keputusan yang diambil (IDN Times/Maura Thirza)
Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communication Indosat Ooredoo Hutchison, menyoroti pentingnya kemampuan manusia untuk mempertanyakan sesuatu dan memahami dampak dari keputusan yang diambil. Menurutnya, kemajuan teknologi justru membuat kemampuan tersebut semakin dibutuhkan.
“Jadi jangan pernah takut bahwa, ‘Oh nanti gua udah gak ada pekerjaan lagi’. No, bahkan sekarang kalau kita lihat di industri technology saat ini, yang dibutuhkan tuh di luar talent AI dan engineering segala macam, tapi skill set yang sangat penting itu adalah justru skill set dari human, the core human skill set. We need to have more people that question things and understand and taking time to like ‘Mungkin enggak sih?’ Karena right now, asking people to be machines. And if we end up being a machine, that’s when we’re gonna be replaced,” ungkap Ovidia.
Kemampuan berpikir kritis membantu manusia menilai apakah hasil AI benar-benar sesuai dengan kebutuhan, sedangkan empati membuat kita mempertimbangkan dampak karya terhadap orang lain. Keduanya penting agar teknologi tidak sekadar digunakan untuk mengejar kecepatan dan efisiensi.
Di tengah perkembangan teknologi, AI tidak harus dipandang sebagai lawan kreativitas. Teknologi bisa membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi bagaimana sebuah ide dikembangkan, siapa yang ingin dijangkau, dan nilai apa yang ingin disampaikan, tetap perlu pertimbangan dari manusia itu sendiri. Di tengah konten yang semakin mudah diproduksi, justru kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang terasa dekat dan bermakna bisa menjadi pembeda. Karena hal itulah yang membuat orang lain bisa merasakan sebuah karya.