[MADING] Luka yang Tak Terlihat di Balik Sebuah Candaan
![[MADING] Luka yang Tak Terlihat di Balik Sebuah Candaan](https://image.idntimes.com/post/20261021/cover-bullying_20261020_221544_0000_dd66d191-6501-47d1-a5c5-334ce1b085eb.png)
Hello Generasi Peduli! Kami tim FOTLAB STUDIO dari SMK Teladan Kertasemaya menghadirkan sebuah karya visualisasi dari mading digital kami yang berjudul "Luka yang tak terlihat di balik candaan"
Tim redaksi kami terdiri dari:
Guru Pendamping: Ahmad Zeni, S.Sn
Ketua: Safana Lubna Aqilah
Anggota: Rahma Amanda, Fani Safitri, Abdee Raffaiz, Ali Hasan, Marvelino.
Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi mading digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyutingan dari redaksi IDN Times.
Esai

Cover Essay (Safana Lubna) Luka yang tak Terlihat di Balik Sebuah Candaan: Batas Tipis Antara Tertawa Bersama dan Menertawakan
“Cuma bercanda, jangan baper.”
Kalimat ini sering kali terdengar sepele. Namun, bagaimana jika candaan tersebut dilakukan berulang kali, disaksikan banyak orang, dan membuat seseorang merasa malu, takut, serta tidak berharga? Pada titik itu, yang terjadi bukanlah lagi sekadar lelucon, melainkan tindakan perundungan atau bullying.
Memahami Batas Tipis Perundungan
Perundungan merupakan perilaku agresif yang dilakukan dengan sengaja dan berulang, serta biasanya disertai ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Bentuknya tidak selalu berupa kekerasan fisik seperti memukul atau menendang. Menurut World Health Organization (WHO), kekerasan terhadap anak dapat berbentuk fisik, psikologis, maupun sosial, yang mencakup tindakan mengejek, menghina, mengancam, mengucilkan, menyebarkan rumor, hingga mempermalukan seseorang secara langsung maupun melalui dunia maya.
Masalah ini nyata dan dekat dengan kehidupan pelajar kita. Data Global School-based Student Health Survey (GSHS) 2015 yang dikutip UNICEF menunjukkan bahwa lebih dari 21% anak usia 13–15 tahun di Indonesia, atau sekitar 18 juta anak, pernah mengalami perundungan dalam satu bulan terakhir. Meskipun data tersebut sudah lama dan bukan angka terbaru, hal ini membuktikan bahwa perundungan telah menjadi persoalan serius sejak lama.
Perundungan dapat terjadi di mana saja, baik di lingkungan sekolah, dalam kelompok pertemanan, maupun secara digital melalui cyberbullying. Di sekolah, korban kerap diejek di kelas, dikucilkan saat jam istirahat, atau sengaja ditinggalkan saat pembagian kelompok. Sementara itu, di dunia maya, perundungan dapat berupa penyebaran foto memalukan, komentar menghina, rumor palsu, hingga pengeluaran korban dari grup percakapan secara sengaja.
Mengapa Perundungan Begitu Berbahaya?
Bahaya terbesar dari perundungan adalah lukanya yang sering kali tidak terlihat. Luka fisik akibat pukulan mungkin dapat sembuh dalam beberapa hari, tetapi rasa malu, takut, dan hilangnya kepercayaan diri pada korban bisa bertahan jauh lebih lama.
WHO menyebutkan bahwa kekerasan pada masa kanak-kanak dapat berdampak buruk pada kesehatan dan kesejahteraan seseorang dalam jangka panjang, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Pelaku biasanya melakukan tindakan ini untuk mendapatkan perhatian, menunjukkan kekuasaan, mengikuti tren kelompok, atau merasa lebih kuat saat merendahkan orang lain. Namun, apa pun alasannya, tidak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan tindakan menyakiti sesama.
Peran Kita: Dari Penonton Menjadi Pelindung
Sayangnya, perundungan sering kali terus terjadi karena orang-orang di sekitar hanya diam, ikut tertawa, merekam, atau menyebarkan kejadian tersebut. Padahal, kita tidak perlu menjadi pahlawan besar untuk membantu. Perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana berikut:
• Tidak ikut mengejek atau menertawakan korban.
• Memberikan dukungan kepada teman yang dikucilkan.
• Menghentikan penyebaran foto atau komentar yang mempermalukan.
• Melaporkan kejadian perundungan kepada guru, orang tua, atau pihak yang berwenang.
Pencegahan ini tentu memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia pada tahun 2026 menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman mencakup keamanan fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan digital melalui pendekatan yang humanis, partisipatif, dan inklusif.
Kesimpulan
Seseorang mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk melontarkan sebuah ejekan, tetapi korban bisa mengingat kata-kata tersebut selama bertahun-tahun. Kita tidak pernah benar benar tahu seberapa berat beban mental seseorang di balik senyuman yang ia tampilkan.
Oleh karena itu, sebelum ikut tertawa, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah hal yang kita anggap lucu benar-benar lucu bagi orang lain? Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai menertawakan kekurangan sesama, melainkan lebih banyak orang yang berani menghargai, merangkul, dan melindungi satu sama lain.
Ruang Kreasi - Cerpen

Ruang Kreasi-Cerpen (Fani) 
Ruang Kreasi-Cerpen (Fani, Safana, Abdee) 
Ruang Kreasi-Cerpen (Fani) Rubrik Diskusi 1

Rubrik Diskusi-Infografik Biofarma (Marvelino) Rubrik Diskusi 2

Rubrik Diskusi-Poster Bukit Asam (Rahma) Yuk, berhenti menganggap ejekan sebagai candaan! Kita tidak pernah tahu seberapa dalam luka yang dirasakan seseorang di balik senyumnya. Jangan jadikan kekurangan orang lain sebagai bahan tertawaan, apalagi sampai membuatnya merasa sendirian.
Mari bersama-sama hentikan perundungan, tumbuhkan rasa peduli, dan berani membela mereka yang tersakiti. Jadilah alasan seseorang tersenyum, bukan alasan mereka terluka. Stop Bullying, Mulai Peduli!


![[MADING] Tubuh Bukan Sasaran: Perundungan di Sekolah](https://image.idntimes.com/post/20261021/tambahkanfisik_20261020_120426_0000_9770b729-4170-4746-bcc1-e5ac7943d29d.jpeg)
![[MADING] Passion Jadi Aksi: Kekuatan Fandom sebagai Ruang Belajar](https://image.idntimes.com/post/20260917/kover-mading_01ca6e0b-e3c5-4f38-bbb6-4c80a3ec16be.jpg)

![[MADING] Literasi Keuangan sebagai Fondasi Masa Depan](https://image.idntimes.com/post/20261017/mading-mutya-1_e254148c-1344-452c-bd8e-d3970322e0fd.png)


















