“Tapi pada dasarnya, manusia itu suka relevansi. Di dalam music festival, you can feel sebuah energi yang di-perform sama manusia, bernyanyi, menginspirasi, menghibur, menangis, marah bersama, ya. Kita kemarin melihat banyak festival-festival yang berteriak tentang kondisi sosial negara ini dan sebagainya. Itu the energy yang kita rasakan gak ditemukan dari media sosial, dari AI apa pun yang kita punya gitu,” tutur Ben.
AI Makin Canggih, Sentuhan Manusia Tetap Berarti

- Panelis WCCE 2026 menilai AI mempercepat produksi karya kreatif, tetapi kedekatan emosional, pengalaman bersama, dan relevansi cerita tetap membutuhkan sentuhan manusia.
- Iwet Ramadhan menggunakan AI untuk menyiapkan bahan siaran, namun tetap menentukan ide dan pilihan akhir agar konten mempertahankan karakter, orisinalitas, serta kebutuhan audiens.
- Ovidia Nomia menekankan berpikir kritis dan empati sebagai keterampilan manusia penting untuk menilai hasil AI, memahami dampak keputusan, dan menjaga makna karya.
Jakarta, IDN Times - Kecerdasan buatan (AI) kini mampu membantu manusia menghasilkan berbagai karya kreatif dalam waktu singkat. Mulai dari menulis naskah hingga membuat materi iklan, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga dan waktu, kini bisa dilakukan dengan mudah karena bantuan teknologi. Namun, di tengah kemudahan tersebut, muncul pertanyaan tentang bagaimana manusia tetap bisa mempertahankan keunikan dan nilai kreativitasnya.
Persoalan ini menjadi salah satu pembahasan dalam sesi Celebrating Human in Creativity: Heartware inside the Hardware di The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, yang berlangsung di CGV ScreenX Grand Indonesia, Jakarta, pada Jumat (23/10/2026). Beberapa panelis membagikan pandangan mereka tentang peran manusia dalam industri kreatif yang semakin dekat dengan AI. Apa yang membuat sentuhan manusia tetap penting di tengah perkembangan teknologi ini?
1. Memahami emosi dan relevansi yang dekat dengan kehidupan manusia

Ben Subiakto, Group CEO dan Co-Founder Samara, menilai kedekatan emosional menjadi salah satu hal yang perlu dipertahankan pelaku industri kreatif di tengah gempuran AI (IDN Times/Maura Thirza) Teknologi dapat membantu menghasilkan konten dengan cepat, tetapi karya yang mampu menyentuh audiens tetap membutuhkan pemahaman tentang kehidupan mereka. Bagi Ben Subiakto, Group CEO dan Co-Founder Samara, kedekatan emosional menjadi salah satu hal yang perlu dipertahankan oleh pelaku industri kreatif di tengah banjir konten berbasis AI.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman bersama dan emosi yang dirasakan manusia, masih memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya tentang seberapa cepat konten bisa diproduksi, kedekatan cerita yang ada di dalamnya dengan kehidupan audiens juga dibutuhkan dalam berkembangnya teknologi.
2. AI sebagai partner, bukan penentu kreativitas

Iwet Ramadhan, COO Tellink Global, mencontohkan AI sebagai partner, bukan penentu kreativitas (IDN Times/Maura Thirza) Memanfaatkan AI bukan berarti menyerahkan seluruh proses kreatif kepada mesin. Iwet Ramadhan, COO Tellink Global, mencontohkan bagaimana ia menggunakan AI bernama Bob untuk membantu menyiapkan topik siaran pagi. Meski begitu, ide tetap ditentukan oleh dirinya sendiri agar tetap sesuai dengan karakter dan kebutuhan audiensnya.
“Cuma itu gak 100 persen saya pakai gitu karena kalau misalnya dia yang ngedikte saya, siaran itu tidak akan menjadi original. Gak ada soul-nya. Jadi saya tetap selalu lihat gitu, ‘Oh apa ya yang menarik untuk dibahas?’ Dan kemudian dari apa yang dikasih sama Bob ini, apa yang kemudian akan bisa saya pakai?” jelas Iwet.
Pengalaman Iwet ini memperlihatkan bahwa AI dapat menjadi teman berdiskusi untuk mencari inspirasi, mengembangkan sudut pandang, hingga menemukan informasi pendukung. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia agar hasilnya tidak kehilangan karakter dan tujuan awalnya.
3. Mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan menggunakan empati

Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communication Indosat Ooredoo Hutchison, menyoroti pentingnya kemampuan manusia untuk mempertanyakan sesuatu dan memahami dampak dari keputusan yang diambil (IDN Times/Maura Thirza) Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communication Indosat Ooredoo Hutchison, menyoroti pentingnya kemampuan manusia untuk mempertanyakan sesuatu dan memahami dampak dari keputusan yang diambil. Menurutnya, kemajuan teknologi justru membuat kemampuan tersebut semakin dibutuhkan.
“Jadi jangan pernah takut bahwa, ‘Oh nanti gua udah gak ada pekerjaan lagi’. No, bahkan sekarang kalau kita lihat di industri technology saat ini, yang dibutuhkan tuh di luar talent AI dan engineering segala macam, tapi skill set yang sangat penting itu adalah justru skill set dari human, the core human skill set. We need to have more people that question things and understand and taking time to like ‘Mungkin enggak sih?’ Karena right now, asking people to be machines. And if we end up being a machine, that’s when we’re gonna be replaced,” ungkap Ovidia.
Kemampuan berpikir kritis membantu manusia menilai apakah hasil AI benar-benar sesuai dengan kebutuhan, sedangkan empati membuat kita mempertimbangkan dampak karya terhadap orang lain. Keduanya penting agar teknologi tidak sekadar digunakan untuk mengejar kecepatan dan efisiensi.
Di tengah perkembangan teknologi, AI tidak harus dipandang sebagai lawan kreativitas. Teknologi bisa membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi bagaimana sebuah ide dikembangkan, siapa yang ingin dijangkau, dan nilai apa yang ingin disampaikan, tetap perlu pertimbangan dari manusia itu sendiri. Di tengah konten yang semakin mudah diproduksi, justru kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang terasa dekat dan bermakna bisa menjadi pembeda. Karena hal itulah yang membuat orang lain bisa merasakan sebuah karya.


![[QUIZ] Apakah Kamu Mulai Ketergantungan AI? Cari Tahu Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250524/pexels-theshantanukr-17603742-1-6c6a1669e817ff8e87b5ca629e8363cc-870f20e35bbce1dc96c6860147a680f8.jpg)






![[MADING] Luka yang Tak Terlihat di Balik Sebuah Candaan](https://image.idntimes.com/post/20261021/cover-bullying_20261020_221544_0000_dd66d191-6501-47d1-a5c5-334ce1b085eb.png)
![[MADING] Literasi Keuangan sebagai Fondasi Masa Depan](https://image.idntimes.com/post/20261017/mading-mutya-1_e254148c-1344-452c-bd8e-d3970322e0fd.png)













