5 Alasan Sikap People-pleasing Bikin Orang Lain Malah Semakin Ilfeel

- Sikap people-pleasing muncul dari keinginan diterima dan divalidasi, tetapi kebiasaan selalu mengikuti orang lain dapat membuat seseorang terlihat labil serta tidak punya pendirian.
- Keputusan yang terus bergantung pada pendapat orang lain membuat pribadi sulit dikenali, dinilai kurang percaya diri, dan tidak meninggalkan kesan kuat di lingkungan sosial.
- Rasa takut menolak dapat membangun hubungan dangkal karena tidak jujur pada diri sendiri; ketergantungan pada validasi juga membuat seseorang mudah terbawa perkataan orang.
Salah satu yang memicu munculnya sikap people-pleasing adalah keinginan untuk dapat diterima dan disukai orang lain. Kamu akhirnya menjadi pribadi yang gampang disetir, selalu setuju, dan mudah untuk diajak ngobrol tentang apa pun demi mendapat validasi orang.
Tujuanmu ialah mendapat hati orang itu, agar hubungan kalian bisa baik ke depannya. Namun, sedikit yang sadar bahwa sikap people-pleasing sering kali malah jadi bumerang untuk diri sendiri. Semakin keras kamu berusaha meminta validasi, semakin bikin orang merasa gak nyaman. Berikut lima alasan logis mengapa sikap people-pleasing justru bikin orang lain merasa ilfeel.
1. Menunjukkan kamu orang yang labil

ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Samson Katt) Seorang people pleaser gak punya pendirian dan cenderung mengikuti orang-orang di sekitarnya. Kalau temannya bilang A, ia pasti ikut melakukan A. Kalau temannya bilang B, ia pasti setuju dengan B. Gak ada prinsip, identitas, dan value diri yang membuat dirimu bersinar di mata orang lain.
Lambat laun, orang akan mengecapmu sebagai pribadi yang labil dan gak punya pendirian. Kamu gampang diombang-ambingkan oleh sekitar, bahkan cenderung menyebalkan karena sering ikut-ikutan. Hati-hati, sikap demikian malah berdampak buruk untuk dirimu.
2. Dinilai gak percaya diri

ilustrasi wanita mengobrol (pexels.com/Vitaly Gariev) Sikap insecurity dapat dengan mudah terendus ketika kamu mengambil keputusan berdasarkan apa kata orang. Kamu gak punya alasan yang kuat mengapa kamu harus melakukan sesuatu, hanya sekadar ikut-ikutan. Kepribadian seperti ini sama sekali gak menarik untuk orang lain, bahkan dicap kurang percaya diri.
Orang di sekitarmu pun kesulitan untuk mengenal dirimu apa adanya. Semua image yang kamu bangun selalu berdasarkan apa kata orang, bukan apa yang sebenarnya kamu inginkan.
3. Seorang people pleaser gak meninggalkan kesan mendalam

ilustrasi teman ngobrol (pexels.com/Mike Jones) Perbedaan karakter, preferensi, dan value hidup terkadang tampak mengintimidasi, tapi justru itulah yang membentuk seorang pribadi. Coba pikirkan tiap nama temanmu dan sebut satu kata yang paling menggambarkannya. Mungkin, kamu akan menemukan teman-temanmu yang “lembut”, “galak”, “tegas”, dan masih banyak lagi.
Tapi pikirkan apa yang bisa orang lain gambarkan tentangmu, kalau kamu bahkan gak meninggalkan kesan mendalam? Tiap ucapan, sikap, dan keputusan yang kamu buat selalu berdasarkan apa kata orang. Hanya karena ingin validasi, kamu mengingkari kata hatimu sendiri.
4. Hubungan jadi terasa dangkal

ilustrasi teman saling mengobrol (pexels.com/Andrea Piacquadio) Tidak adanya kejujuran berarti tidak ada rasa percaya. Jauh dalam hati, kamu memilih untuk terus setuju pada teman-temanmu demi mendapat validasi dan memenangkan hati mereka. Kamu takut menolak malah membuat mereka tersinggung dan marah. Alhasil kamu menerima, walau itu bertentangan dengan keinginan hatimu.
Tanpa disadari, kamu sudah membangun hubungan dengan dasar kepura-puraan. Hubungan seperti itu akan sulit bertahan jangka panjang, dan mudah membuatmu merasa tertekan. Pertanyaannya, untuk apa disukai banyak orang saat kamu bukan jadi dirimu sendiri?
5. Mudah terbawa perasaan oleh sikap atau perkataan orang

ilustrasi wanita (pexels.com/Helena Lopes) Seorang people pleaser menempatkan harga dirinya pada validasi orang lain. Bagi beberapa orang, sikap demikian bisa terlihat dan terasa sangat menyebalkan. Kamu dinilai sebagai orang yang lemah, gampang diombang-ambingkan, dan mudah baper.
Walau sebenarnya hal ini gak menjadi alasan untuk orang lain bersikap seenaknya, tapi kamu pun harus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih asertif. Ketahuilah bahwa sekeras apa pun, kamu gak akan bisa menyenangkan hati semua orang. Pada akhirnya, lebih baik kejujuran yang menyakitkan dibanding kebohongan manis.
Sekarang, kamu jadi punya bahan perenungan untuk berhenti jadi orang yang hobi mengais validasi. Lumrah kok punya keinginan untuk disukai orang lain. Tapi bila kamu terus beri makan keinginan itu, kamu sendiri yang akan terjebak dalam siklus people pleasing. Nantinya, malah akan melukai dirimu sendiri. Sebelum terlambat, yuk berubah!







![[QUIZ] Pilih Adegan di Krusty Krab, Ini Masalah Terbesarmu di Tempat Kerja](https://image.idntimes.com/post/20261013/pexels-olly-3760810_644a6fb9-efee-4591-918d-8138e765fa0b.jpg)














