6 Alasan Sulit Termotivasi, Ternyata Itu Bukan Salahmu Sepenuhnya

- Sulit termotivasi tidak selalu berarti malas; ketidakseimbangan hidup, menyangkal kebiasaan penghambat, dan distraksi dapat membuat target terus tertunda.
- Distraksi berulang bisa menguras fokus dan motivasi. Meski dapat berkaitan dengan ADHD, kondisi ini tidak bisa disimpulkan hanya dari mudah terdistraksi; konsultasi profesional dapat dipertimbangkan bila mengganggu aktivitas.
- Ketakutan gagal, tujuan yang tidak selaras dengan nilai pribadi, serta fokus berlebihan pada hasil dapat menghambat langkah. Mengenali hambatan, menghargai kemajuan kecil, dan menyesuaikan target membantu menjaga motivasi.
Pernahkah kamu punya keinginan besar untuk mencapai sesuatu, tapi justru kesulitan memulai langkah pertama? Kamu mungkin sudah menyusun rencana dan menetapkan target, tapi semangat untuk menjalankannya perlahan menghilang. Akibatnya, pekerjaan terus tertunda dan kamu mulai menyalahkan diri sendiri karena merasa kurang disiplin.
Padahal, kehilangan motivasi gak selalu berarti kamu malas atau gak punya kemauan untuk berkembang, lho. Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi motivasi, mulai dari kebiasaan berpikir hingga rasa takut yang belum kamu sadari. Dengan mengenali penyebabnya, kamu bisa menemukan cara yang lebih tepat untuk kembali bergerak tanpa terus-menerus menghakimi diri sendiri.
1. Terlalu memisahkan berbagai aspek kehidupan

ilustrasi fokus bekerja, kerja depan laptop (pexels.com/Kampus Production) Setiap orang memiliki beberapa aspek kehidupan yang perlu diperhatikan, mulai dari pekerjaan, keluarga, kesehatan, hingga pengembangan diri. Namun, jika kamu terbiasa memisahkan semuanya secara berlebihan, perhatianmu bisa terpusat pada satu hal dan mengabaikan hal lainnya. Misalnya, kamu terlalu sibuk mengejar target pekerjaan sampai gak punya waktu untuk beristirahat atau menikmati kegiatan yang disukai. Ketika keseimbangan mulai terganggu, motivasi untuk mencapai tujuan lain pun bisa ikut menurun.
Untuk mengatasinya, cobalah menuliskan seluruh target dalam satu tempat agar kamu bisa melihat prioritas secara menyeluruh. Kamu juga bisa mencari cara supaya beberapa tujuan berjalan beriringan, seperti menjaga kesehatan sambil meningkatkan produktivitas kerja. Dengan begitu, kamu gak perlu mengorbankan seluruh energi untuk satu aspek kehidupan saja. Langkah ini dapat membantumu menjaga fokus sekaligus membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih terarah.
2. Menyangkal kenyataan yang sedang dihadapi

ilustrasi merenung (pexels.com/Quang Nguyen Vinh) Pernah berjanji kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu, tapi akhirnya terus menundanya karena merasa belum perlu? Misalnya, kamu ingin mulai menabung, memperbaiki pola tidur, atau meningkatkan keterampilan untuk menunjang karier, tapi selalu menemukan alasan untuk menunda. Tanpa disadari, kamu mungkin sedang mengabaikan dampak dari kebiasaan tersebut atau menganggap target yang sudah dibuat gak lagi penting. Akibatnya, keinginan untuk berubah tetap ada, tapi gak diikuti tindakan nyata.
Cobalah mengevaluasi keadaan dengan jujur tanpa terus mencari pembenaran atas kebiasaan yang menghambatmu. Tanyakan kepada diri sendiri apakah kamu benar-benar merasa baik-baik saja jika tujuan tersebut gak tercapai. Kamu juga bisa membayangkan konsekuensi yang mungkin muncul apabila kebiasaan yang sama terus berlanjut selama beberapa bulan ke depan. Dengan mengakui kenyataan, kamu bisa memahami alasan di balik kebiasaan menunda dan menentukan langkah yang lebih sesuai untuk memperbaikinya.
3. Mudah terdistraksi saat mengerjakan sesuatu

ilustrasi distraksi ponsel (pexels.com/Kaboompics.com) Menjaga fokus memang gak selalu mudah, apalagi ketika ada banyak hal yang menarik perhatianmu. Kamu mungkin berniat menyelesaikan pekerjaan selama satu jam, tapi baru beberapa menit sudah membuka media sosial, membalas pesan, atau mengerjakan hal lain. Ketika kembali ke tugas utama, kamu perlu waktu lagi untuk memahami apa yang sebelumnya sedang dikerjakan. Kalau kejadian ini terus berulang, pekerjaan terasa semakin berat dan motivasi untuk menyelesaikannya bisa menurun.
Kesulitan mempertahankan perhatian juga dapat berkaitan dengan ADHD atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Penelitian Mira Elise Glaser Holthe dan Eva Langvik yang diterbitkan dalam jurnal SAGE Open pada 2017 membahas pengalaman kesulitan motivasi pada orang dewasa dengan ADHD dalam kehidupan kerja. Meski begitu, mudah terdistraksi saja gak cukup untuk menyimpulkan bahwa kamu mengalami ADHD karena ada berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi konsentrasi. Jika kesulitan tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kamu bisa mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional.
4. Takut menghadapi kegagalan

ilustrasi cemas, khawatir, takut, unhappy (vecteezy.com/Nakama ma) Rasa takut bisa menjadi salah satu alasan mengapa kamu sulit memulai sesuatu yang sebenarnya diinginkan. Kamu mungkin ingin melamar pekerjaan baru, membangun bisnis kecil, atau mencoba keterampilan yang belum pernah dipelajari, tapi terus memikirkan kemungkinan terburuk. Ada kekhawatiran bahwa usahamu akan gagal, orang lain akan meremehkanmu, atau hasil akhirnya gak sesuai harapan. Akhirnya, kamu memilih diam di tempat karena merasa gak melakukan apa-apa lebih aman daripada menghadapi risiko.
Psikolog René Misslin membahas mekanisme rasa takut dan kaitannya dengan respons manusia terhadap ancaman dalam publikasi ilmiahnya yang dimuat dalam Neurophysiologie Clinique. Ketika rasa takut mulai menghambat langkahmu, cobalah mengenali hal yang sebenarnya sedang dikhawatirkan. Apakah kamu takut gagal, takut dinilai orang lain, atau justru takut menghadapi perubahan besar dalam hidup? Setelah memahami penyebabnya, kamu bisa mulai menghadapi ketakutan tersebut melalui tindakan kecil yang risikonya lebih mudah dikelola.
5. Belum benar-benar memahami keinginan sendiri

ilustrasi refleksi diri, bercermin (magnific.com/pikisuperstar) Gak semua tujuan yang kamu kejar berasal dari keinginan pribadi. Terkadang, kamu menetapkan target karena melihat pencapaian teman sebaya, mengikuti standar keluarga, atau merasa harus memenuhi ekspektasi masyarakat. Misalnya, kamu ingin mendapatkan jabatan tinggi karena menganggap kesuksesan harus diukur dari posisi pekerjaan, padahal hal yang paling kamu inginkan adalah memiliki waktu luang dan kehidupan yang lebih seimbang. Ketika tujuan tersebut gak sesuai dengan nilai yang dipegang, mempertahankan motivasi bisa terasa semakin sulit.
Untuk mengetahui apakah tujuanmu masih relevan, coba evaluasi kembali alasan di balik setiap target yang sedang dikejar. Tanyakan kepada diri sendiri apakah kamu tetap menginginkannya jika gak ada orang lain yang mengetahui pencapaian tersebut. Kamu juga bisa mempertimbangkan apakah proses untuk mencapainya sejalan dengan kehidupan yang ingin kamu bangun. Kalau setelah dievaluasi ternyata tujuan itu gak lagi sesuai, gak ada salahnya menyesuaikan arah atau menetapkan target baru yang lebih bermakna.
6. Terlalu fokus pada hasil dan mengabaikan kemajuan kecil

ilustrasi goals, target, tujuan (magnific.com/pressfoto) Saat mengejar tujuan besar, kamu mungkin lebih sering memikirkan hasil akhir daripada proses yang sedang dijalani. Kamu ingin segera mendapatkan pekerjaan impian, mengumpulkan tabungan dalam jumlah tertentu, atau menyelesaikan proyek pribadi secepat mungkin. Ketika hasilnya belum terlihat, kamu merasa usaha yang dilakukan sia-sia dan mulai kehilangan semangat. Padahal, banyak tujuan membutuhkan waktu, konsistensi, serta serangkaian langkah kecil sebelum akhirnya menunjukkan hasil yang berarti.
Salah satu cara menjaga motivasi adalah mengakui kemajuan yang sudah dicapai, sekecil apa pun bentuknya. Penelitian tentang penghargaan terhadap diri sendiri dan motivasi pribadi yang diterbitkan dalam jurnal European Economic Review pada 2014 membahas peran penghargaan diri dalam proses pencapaian tujuan. Kamu bisa menerapkannya dengan memberikan hadiah sederhana setelah menyelesaikan tahapan tertentu atau mengevaluasi perkembangan secara berkala. Selain itu, jangan ragu menyesuaikan target dan meminta bantuan ketika beban pekerjaan terasa terlalu berat agar energi serta fokusmu tetap terjaga.
Kehilangan motivasi gak selalu terjadi karena kamu malas atau kurang berusaha, ya. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhinya, mulai dari kebiasaan memisahkan berbagai aspek kehidupan, kesulitan mempertahankan fokus, hingga rasa takut dan tujuan yang gak lagi sesuai dengan keinginan pribadi.
Daripada terus menyalahkan diri sendiri, cobalah mengenali hambatan yang sedang dihadapi dan mencari cara untuk mengatasinya secara bertahap. Kamu gak harus menyelesaikan semuanya dalam satu hari karena perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten pun bisa membantumu bergerak menuju kehidupan yang lebih sesuai dengan harapanmu.





















