3 Alasan Tinggal di Desa Gak Otomatis Jalani Slow Living

- Tinggal di desa tidak otomatis membuat seseorang bisa slow living karena gaya hidup tenang itu butuh dukungan finansial yang memadai.
- Kehidupan di desa juga punya dinamika dan kesibukan tersendiri, seperti kewajiban sosial yang menyita waktu dan energi.
- Slow living sejatinya bergantung pada pola pikir mindful dan keseimbangan hidup, bukan semata lokasi tempat tinggal.
Harus diakui bahwa menjalani hidup di perkotaan, terutama kota-kota besar, memang melelahkan. Pasalnya, setiap hari wajib berpacu dengan waktu. Kalau terlalu bersantai, bisa ketinggalan banyak hal, mulai dari transportasi umum, sampai urusan kesuksesan dalam berkarier. Ketika sedang lelah begini, terkadang orang-orang yang akrab dengan hiruk-pikuk dan budaya buru-buru itu membayangkan betapa damainya tinggal di desa karena bisa menjalani gaya hidup slow living.
Eh, tapi tunggu dulu. Kendati sekilas tampak tidak ada yang salah, tetapi anggapan semacam itu sering kali menyesatkan, lho. Perlu dipahami bahwa tinggal di desa gak berarti bikin seseorang otomatis pasti bisa menjalani slow living. Kenapa begitu? Coba simak beberapa alasan berikut ini biar wawasanmu semakin terbuka, ya!
1. Slow living hanya akan terasa nikmat bila punya penghasilan besar

Ketika sehari-hari berkutat dengan pekerjaan, berangkat pagi dan baru pulang malam, memang rasanya begitu melelahkan, baik secara fisik mau pun mental. Finansial, sih, aman, tapi tidak punya kesempatan untuk bersantai dan benar-benar menikmati hidup. Pada situasi seperti ini, biasanya rawan timbul angan-angan seandainya dengan gaji yang bagus tersebut bisa tinggal di tempat yang tenang, misalnya di daerah pedesaan, tentunya menyenangkan karena dapat menerapkan gaya hidup slow living yang bebas dari kejaran waktu. Nah, kalau kamu juga pernah berpikir seperti ini, waspadalah karena ini jebakan!
Banyak orang membayangkan bisa menjalani hidup yang tenang dan pelan di desa dengan tetap menikmati kemewahan yang mereka miliki dengan gaji kota besar. Namun, coba deh pikir lagi karena hal seperti ini sulit atau malah mustahil. Kalau tinggal di desa, tentu kamu harus bekerja di area tersebut dan nominal gajinya juga sering kali tidak terlalu besar. Padahal, slow living super nyaman yang kamu bayangkan itu hanya akan tercipta bila ada penghasilan yang nominalnya oke, bukan begitu?
2. Realita kehidupan di desa kerap kali jauh dari kata "slow"

Bagi orang yang terbiasa hidup di perkotaan, kehidupan desa terlihat begitu penuh dengan kedamaian. Bagaimana tidak, tinggal di desa tidak perlu berkutat dengan kemacetan, masih bisa merasakan udara bersih, banyak bahan makanan segar dengan harga yang jauh lebih murah, dan interaksi sosialnya tampak santai. Namun, benarkah anggapan ini sesuai dengan realita?
Sayangnya, realita kehidupan di pedesaan ternyata juga bisa jauh dari kata "slow", lho. Ya, memang bukan soal dikejar waktu seperti hidup di perkotaan yang apa-apa harus serba cepat agar tidak ketinggalan. Namun, tinggal di desa juga menyuguhkan aneka ragam kerepotannya sendiri.
Sebagai gambaran, masyarakat desa memang banyak yang ramah, tetapi bila kamu terlalu individualis, mereka juga tidak suka akan hal itu. Supaya kamu tetap punya hubungan baik dengan mereka, maka perlu mengikuti berbagai kegiatan sosial, misalnya arisan di lingkup rukun tetangga, hadir membantu saat ada yang hendak menggelar hajatan, dan sebagainya. Terlihat sederhana, tetapi terkadang bisa memakan banyak waktu. Jadi, gak benar-benar bisa slow living juga, kan?
3. Slow living pada dasarnya soal pola pikir, bukan selalu tentang di mana menjalaninya

Keinginan sebagian orang kota untuk bisa merasakan slow living sebenarnya sangat masuk akal. Bagaimana tidak, dapat dikatakan bahwa hampir setiap hari mereka "bertempur" dengan berbagai tantangan yang menuntut untuk serba cepat, mulai dari berangkat kerja pagi buta agar terhindar dari kemacetan, hingga persaingan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini jelas memicu stres berkepanjangan yang bikin suasana hati kerap tidak stabil. Akhirnya, timbul pemikiran bahwa pindah ke desa adalah solusi yang tepat untuk menurunkan ritme aktivitas harian.
Tidak dapat dimungkiri bahwa gaya hidup slow living memang jauh lebih mudah untuk diterapkan saat tinggal di desa. Namun, bukan berarti pilihan ini memberikan jaminan untuk bisa langsung merasakan kehidupan yang pelan dan menenangkan karena slow living sebenarnya adalah soal pola pikir atau mindset, bukan semata-mata lokasi di mana menjalani hidup. Tinggal di kota besar dengan segala hiruk-pikuknya pun masih bisa memberikan kesempatan untuk tenang bila kamu mulai belajar untuk mindful, mengutamakan kualitas dari pada kuantitas, serta menyeimbangkan antara kesibukan bekerja dan kebutuhan untuk menikmati hidup.
Gaya hidup slow living memang lebih mudah untuk diterapkan bila tinggal di desa. Namun, ingat, pindah ke desa gak secara otomatis bikin kamu langsung bisa menjalani kehidupan yang pelan dan tenang tersebut karena di pedesaan pun banyak juga tantangannya. Lebih baik, pelajari lagi pola pikir tentang slow living dan mulai memperbaiki beberapa kebiasaan sehari-hari agar terasa nyaman. Oke?


















