Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Keuntungan Berteman Lintas Usia, Tiap Generasi Mengajarkan Sesuatu

Keuntungan Berteman Lintas Usia, Tiap Generasi Mengajarkan Sesuatu
ilustrasi teman kerja (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Pertemanan lintas usia membantu mengurangi sikap menghakimi dan stereotip antargenerasi, karena interaksi langsung menunjukkan setiap individu tidak selalu sesuai label generasinya.
  • Teman yang lebih muda dapat menularkan semangat mengembangkan karier serta cara melepas stres, seperti mencari hiburan untuk merilekskan pikiran sebelum menghadapi masalah.
  • Generasi senior menawarkan kebijaksanaan, penerimaan, dan cara menyelesaikan masalah, sementara teman sebaya memberi dukungan karena menghadapi tantangan hidup serta perkembangan psikologis yang serupa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kamu pasti punya teman. Namun, dengan siapa saja dirimu membangun pertemanan? Apakah kawan-kawanmu sepantar semua atau banyak juga yang berusia di atas dan di bawahmu? Variasi umur dalam pertemanan sebenarnya penting buat pengembangan diri.

Hanya saja, kadang antargenerasi ada pandangan yang kurang baik walau belum tentu terdapat buktinya. Juga rasa sungkan yang terlalu kuat di masyarakat Timur, utamanya generasi muda terhadap generasi yang lebih tua. Semua itu menghalangi terbentuknya hubungan yang lebih akrab dengan orang yang berbeda usia.

Apalagi, sejak sekolah hingga kuliah, kamu berada di lingkungan dengan orang-orang berusia sepantar. Sekarang setelah dirimu memasuki dunia kerja, umur karyawan lebih bervariasi. Saatnya membaur dengan semua orang dan merasakan keuntungan berteman lintas usia.

1. Terhindar dari sikap judgemental ke generasi di atas atau di bawahmu

suasana kantor
ilustrasi suasana kantor (pexels.com/Ron Lach)

Tidak pernah berteman lebih dekat dengan orang-orang yang usianya berlainan, kerap kali membuatmu terlalu subjektif. Terlebih, sekarang banyak stereotip terkait generasi yang disebarkan melalui media sosial. Misalnya, dirimu termasuk dalam generasi milenial.

Banyak anggapan bahwa generasi Z yang berada di bawahmu malas bekerja, gak sopan ke orang yang lebih tua, dan sebagainya. Begitu pula generasi X dipandang terlalu kaku. Sementara baby boomers dicap tidak inovatif serta jadul. Pandangan begini tidak boleh ditelan mentah-mentah.

Kalau kamu mau berinteraksi lebih sering dan mendalam dengan orang-orang dari berbagai generasi, boleh jadi kamu menemukan hal berbeda. Gen Z yang rajin sekali bekerja dan sopan sangat banyak. Generasi X juga suka bercanda. Baby boomers pun memiliki ide-ide yang ingin dieksekusi, hanya saja energinya makin terbatas.

2. Belajar semangat untuk maju dari generasi yang lebih muda

pertemanan
ilustrasi pertemanan (pexels.com/Galeri Muu)

Salah satu sifat kurang bijak dari orang yang merasa lebih tua dalam usia ialah meremehkan orang yang lebih muda. Masih dengan contoh milenial yang ogah satu circle dengan generasi Z. Setiap langkah yang diambil gen Z terlihat salah di matamu.

Misalnya, mereka resign padahal masa kerja baru 1 atau 2 tahun. Seandainya dirimu berkawan lebih dekat dan mendengarkan pandangan mereka, boleh jadi keputusan berhenti bekerja bukan tanda mereka malas. Justru semangat kerjanya sebetulnya tinggi.

Hanya saja, mereka merasa tempat kerja mereka sekarang tidak bisa mewadahi dan menyalurkan energi mereka yang besar. Pekerjaan terlalu monoton, irama kerjanya lambat betul, dan sebagainya. Mereka ingin memanfaatkan masa muda untuk menciptakan langkah-langkah yang lebih besar dalam pengembangan karier.

3. Juga cara bersenang-senang biar gak stres

tertawa bersama
ilustrasi tertawa bersama (pexels.com/setengah lima sore)

Masih dari generasi yang lebih muda, kamu juga akan ketularan keceriaan mereka. Bukannya mereka tidak pernah merasa stres karena berbagai persoalan. Malah usia muda dan pengalaman hidup yang masih minim sebenarnya bikin mereka lebih rentan secara mental.

Akan tetapi, anak muda tahu betul caranya menyenangkan diri demi menjaga kewarasan di tengah berbagai masalah hidup. Saat orang yang lebih berumur terlalu serius memikirkan persoalannya, generasi di bawahmu langsung saja mencari kesenangan. Misalnya, dengan jalan-jalan, berkaraoke dengan teman-teman sepulang kerja, dan sebagainya.

Awalnya, bagimu, cara mereka mungkin tampak sebagai sikap menyepelekan persoalan. Tidak fokus mencari solusi. Namun, bagaimana solusi bisa ditemukan apabila pikiran sangat stres? Mending merilekskan diri dulu.

4. Sementara generasi senior mengajarkan kebijaksanaan dalam hidup

suasana kantor
ilustrasi suasana kantor (pexels.com/Ron Lach)

Selain generasi yang lebih muda, pertemanan dengan generasi di atasmu juga memberi manfaat. Salah satu yang paling kentara ialah terkait cara pandang terhadap segala hal dalam hidup. Umur dan pengalaman hidup membuat generasi di atasmu cenderung lebih bijaksana.

Mereka tidak lagi mendahulukan emosi, melainkan akal sehat serta pandangan jauh ke depan. Mereka telah mengalami banyaknya keinginan yang tak terwujud menjadi nyata. Namun, hidup harus terus berjalan.

Dari generasi ini, kamu akan belajar seni menerima kenyataan supaya hidup lebih tenang. Juga cara memecahkan berbagai persoalan tanpa menimbulkan masalah baru. Cara berpikir mereka mungkin tidak langsung bisa dipahami olehmu, apalagi diikuti. Akan tetapi, kamu menjadi punya cara pandang yang lebih baik tentang berbagai hal.

5. Sementara teman sebaya membuatmu gak merasa sendirian

bersama teman
ilustrasi bersama teman (pexels.com/hartono subagio)

Berkawan dengan generasi di bawah dan di atasmu memberi banyak manfaat. Namun, tidak berarti teman sepantar tak penting. Kamu tetap perlu membangun hubungan yang harmonis dengan mereka. Sebab kalian berada dalam tugas perkembangan yang sama secara psikologis.

Kalian sama-sama di usia dewasa awal, misalnya. Tantangannya pun sama. Seperti keharusan bisa mandiri secara finansial. Juga ada tuntutan dari masyarakat buat berkeluarga yang bisa bikin stres. Bayangkan bila dirimu malas berteman dengan orang berumur sama.

Segala beban hidup menjadi terasa lebih berat. Tidak ada teman curhat yang benar-benar memahami apa yang dirasakan olehmu. Itu akan melemahkan kekuatan dalam menjalani hidup.

Berkawan tanpa membeda-bedakan umur baik karena setiap generasi memiliki pengalaman serta cara masing-masing dalam menjalani hidup. Banyak sekali keuntungan berteman lintas usia yang dapat menjadi pelajaran kehidupan. Demikian pula mereka sedikit banyak akan belajar darimu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More