"Terkadang, cara terbaik untuk melakukan intervensi adalah dengan meminta bantuan orang lain. Cobalah mencari petugas kepolisian atau pihak yang memiliki wewenang. Anda juga bisa meminta bantuan orang-orang di sekitar," demikian panduan dari University of Queensland mengenai ethical bystander intervention.
Apa yang Harus Dilakukan jika Melihat Orang Mengalami Kekerasan?

Melihat seseorang mengalami kekerasan secara langsung bisa membuat siapa pun bingung harus berbuat apa. Keinginan untuk menolong memang muncul secara spontan, tetapi situasi kekerasan sering kali tidak bisa diprediksi dan tindakan yang terburu-buru justru dapat meningkatkan risiko bagi korban maupun orang yang mencoba membantu.
Karena itu, menjadi saksi bukan berarti harus langsung berhadapan dengan pelaku. Ada berbagai cara untuk membantu, mulai dari mencari bantuan, menghubungi pihak berwenang, mengalihkan situasi, hingga memastikan kondisi korban setelah kejadian.
1. Pastikan situasi aman sebelum bertindak

ilustrasi kekerasan (pexels.com/Pixabay) Hal pertama yang perlu dilakukan ketika melihat kekerasan adalah menilai apakah situasi tersebut aman untuk didekati. Jangan langsung berlari menghampiri korban jika pelaku sedang membawa senjata, sangat agresif, berada di bawah pengaruh zat, atau situasinya berpotensi melibatkan lebih banyak orang.
Keselamatan saksi tetap harus menjadi pertimbangan karena seseorang yang berniat membantu juga dapat menjadi sasaran kekerasan. Membantu tidak selalu berarti melakukan konfrontasi secara langsung. Jika situasi terlalu berbahaya, mengambil jarak sambil meminta bantuan orang lain atau menghubungi layanan darurat justru dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
2. Cari bantuan dan libatkan orang yang bisa menangani

ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (pexels.com/Alex Green) Jika kekerasan sedang berlangsung dan korban berada dalam bahaya, jangan merasa harus menyelesaikannya sendirian. Cari petugas keamanan, polisi, tenaga medis, guru, dosen, atasan, staf tempat umum, atau orang lain yang memiliki kewenangan untuk membantu.
Semakin serius ancamannya, semakin penting melibatkan pihak yang memang terlatih menghadapi keadaan darurat. Dalam keadaan darurat, informasi yang diberikan kepada petugas sebaiknya jelas dan faktual. Jelaskan lokasi, kondisi korban, apakah kekerasan masih berlangsung, jumlah orang yang terlibat, serta apakah ada senjata atau ancaman lain yang terlihat.
3. Jika aman, alihkan situasi tanpa memancing konfrontasi

Ilustrasi kekerasan dalam hubungan (Pexels.com/Mart Production) Tidak semua bantuan harus dilakukan dengan mengatakan kepada pelaku bahwa tindakannya salah. Dalam situasi tertentu, perhatian dapat dialihkan agar korban memiliki kesempatan untuk menjauh dari situasi tersebut. Misalnya, seseorang dapat menghampiri korban dan berpura-pura mengenalnya, meminta bantuan sederhana, atau menciptakan alasan agar korban dapat berpindah tempat.
University of Queensland memasukkan "Distract" sebagai salah satu bentuk intervensi. Teknik ini dilakukan dengan mengubah arah situasi tanpa harus menghadapi pelaku secara langsung. Dalam panduannya, pendekatan seperti mengajak korban pergi ke tempat lain dapat menjadi cara untuk menginterupsi situasi yang tidak aman.
"Mengalihkan perhatian, tindakan tidak langsung untuk meredakan ketegangan atau mengubah arah situasi sering kali merupakan bentuk intervensi yang aman dan efektif," jelasnya.
4. Setelah kejadian, tanyakan kondisi korban dan dengarkan

Ilustrasi kekerasan (pexels.com/pawan pandey) Ketika situasi sudah lebih aman, jangan langsung menghakimi korban atau memaksa mereka menceritakan seluruh kejadian. Pertanyaan sederhana seperti "Kamu aman?", "Mau aku temani?", atau "Ada yang bisa aku bantu?" dapat menjadi awal untuk memberikan dukungan. Korban mungkin sedang takut, bingung, malu, atau belum siap mengambil keputusan.
Penelitian terbaru mengenai pengalaman korban dalam intervensi kekerasan pasangan menekankan pentingnya menghormati kendali korban atas keputusan yang berkaitan dengan keselamatan mereka. Para peneliti Ella Kuskoff, Helen Mols, dan Cameron Parsell menulis bahwa korban dapat memiliki pemahaman yang mendalam mengenai situasi dan risiko yang mereka hadapi.
"Penelitian juga mengungkapkan bahwa korban sangat berhati-hati dan menggunakan otonomi mereka dalam memutuskan risiko mana yang bersedia atau tidak bersedia mereka ambil. Kami menemukan bahwa intervensi aktif dari pihak ketiga terkadang mendorong korban untuk mengambil keputusan atau tindakan yang belum siap mereka lakukan, serta sering kali meningkatkan rasa takut akan risiko yang dirasakan korban," dikutip dalam studi Examining Risk and Victim Agency in Bystander Interventions in Intimate Partner Violence Sage Journals.
Karena itu, hindari kalimat seperti "Kenapa kamu masih bertahan?", "Kenapa gak melawan?", atau "Kamu harus segera melakukan ini." Lebih baik tanyakan apa yang mereka butuhkan dan tawarkan bantuan yang realistis. Jika korban menginginkan bantuan profesional, bantu mereka menemukan layanan yang sesuai tanpa mengambil alih seluruh keputusan mereka, kecuali terdapat keadaan darurat yang mengancam keselamatan.
5. Jangan menjadi pahlawan dengan mengorbankan keselamatan

ilustrasi kekerasan (pixabay.com/Tumisu) Ada anggapan bahwa saksi yang benar-benar peduli harus langsung melawan pelaku. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa intervensi langsung dalam kekerasan pasangan dapat membawa risiko, termasuk kemungkinan kekerasan meningkat atau korban menghadapi konsekuensi setelah pelaku mengetahui ada orang lain yang ikut campur.
Dalam penelitian Examining Risk and Victim Agency in Bystander Interventions in Intimate Partner Violence tentang risiko dan agensi korban, Ella Kuskoff, PhD, dari University of Queensland bersama Helen Mols dan Cameron Parsell menemukan bahwa intervensi aktif dari orang luar dalam sejumlah kasus justru dapat meningkatkan rasa risiko yang dialami korban. Salah satu kesimpulan penting penelitian tersebut adalah perlunya memahami konteks sebelum menentukan apakah suatu intervensi benar-benar membantu atau malah menambah bahaya.
"Temuan kami menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan lebih banyak bukti untuk membangun pemahaman yang kuat mengenai konteks dan kompleksitas yang menentukan apakah intervensi pihak ketiga dirasakan sebagai hal yang bermanfaat atau justru merugikan; bukti ini harus diperoleh secara langsung dari para korban itu sendiri," dikutip dalam Sage Journals.
Karena itu, keberanian dalam menghadapi kekerasan tidak harus selalu berbentuk konfrontasi. Menelepon bantuan, mengajak korban menjauh jika memungkinkan, mencari petugas keamanan, meminta bantuan orang lain, atau mengecek kondisi korban setelah kejadian juga merupakan bentuk tindakan sebagai saksi.
Melihat orang mengalami kekerasan memang bisa membuat seseorang panik dan tidak tahu harus mulai dari mana. Namun, satu hal yang penting diingat adalah membantu tidak selalu berarti berhadapan langsung dengan pelaku. Utamakan keselamatan, cari bantuan ketika diperlukan, berikan dukungan kepada korban, dan pilih bentuk intervensi yang tidak memperbesar risiko.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























