Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kita Sering Diam saat Melihat Kekerasan di Tempat Umum?

5 min read
Kenapa Kita Sering Diam saat Melihat Kekerasan di Tempat Umum?
ilustrasi kekerasan pada remaja (unsplash.com/Antonio DiCaterina)
Share Article

Melihat orang bertengkar, seseorang dipukul, dilecehkan, atau menjadi korban kekerasan di tempat umum bisa membuat kita bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, ada dorongan untuk membantu. Di sisi lain, muncul rasa takut, ragu, atau pikiran bahwa mungkin orang lain akan lebih dulu turun tangan. Dalam psikologi sosial, situasi seperti ini salah satunya berkaitan dengan bystander effect atau efek pengamat.

Fenomena tersebut menjelaskan kecenderungan seseorang menjadi lebih kecil kemungkinannya memberikan pertolongan ketika ada banyak orang lain yang juga menyaksikan kejadian. Namun, diam bukan berarti sepenuhnya tidak peduli. Ada sejumlah proses psikologis dan pertimbangan keselamatan yang dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk bertindak.

  1. 1. Kita mengira orang lain akan bertindak lebih dulu

    ilustrasi kekerasan (Freepik.com/Freepik)
    ilustrasi kekerasan (Freepik.com/Freepik)

    Salah satu alasan paling dikenal adalah diffusion of responsibility atau difusi tanggung jawab. Ketika hanya kita yang melihat seseorang membutuhkan pertolongan, tanggung jawab terasa jelas. Namun, ketika ada banyak orang di sekitar, muncul pikiran bahwa "pasti ada orang lain yang akan membantu".

    American Psychological Association (APA) menjelaskan diffusion of responsibility sebagai berkurangnya rasa tanggung jawab yang dialami seseorang ketika berada dalam kelompok. Istilah ini dikaitkan dengan penelitian psikolog sosial John M. Darley dan Bibb Latané mengenai bystander effect. APA Dictionary mendefinisikannya sebagai "berkurangnya rasa tanggung jawab yang sering dialami oleh individu dalam kelompok dan kolektivitas sosial."

    Selain itu, Sandra L. Shullman, PhD, psikolog dan mantan presiden APA, juga menjelaskan bahwa bystander effect menggambarkan situasi ketika seseorang gagal bertindak dalam keadaan darurat karena berada bersama orang lain. Ia menjelaskan bagaimana tanggung jawab dapat seolah-olah berpindah kepada orang lain.

    "Fenomena (bystander effect) ini mengacu pada kegagalan seseorang untuk bertindak dalam situasi darurat saat berada dalam kelompok, yakni keyakinan bahwa 'orang lain yang akan melakukannya', yang berujung pada penyebaran tanggung jawab," jelasnya dalam American Psychological Association (APA).

  2. 2. Kita tidak selalu yakin bahwa yang dilihat benar-benar kekerasan

    ilustrasi kekerasan (pexels.com/NEOSiAM 2024+)
    ilustrasi kekerasan (pexels.com/NEOSiAM 2024+)

    Kekerasan yang terlihat jelas, seperti seseorang dipukul atau ditendang, relatif lebih mudah dikenali sebagai keadaan darurat. Namun, beberapa situasi berlangsung lebih samar. Misalnya, seseorang berteriak kepada pasangannya, mendorong orang lain, mengancam, atau melakukan pelecehan verbal.

    Orang yang melihat mungkin bertanya-tanya apakah mereka sedang melihat kekerasan atau hanya konflik pribadi. Terlihat jika kita tidak bisa melihat situasinya secara utuh. APA Dictionary menjelaskan bahwa bystander effect tidak hanya berkaitan dengan jumlah orang yang hadir.

    Salah satu proses yang dapat menghambat pertolongan adalah ketika seseorang salah menafsirkan ketidakaktifan orang lain sebagai tanda bahwa pertolongan sebenarnya tidak diperlukan. Dengan kata lain, kita dapat melihat orang lain yang diam, lalu menyimpulkan bahwa situasinya mungkin tidak separah yang kita kira.

    "Sejumlah proses psikologis dan interpersonal yang menghambat tindakan menolong, termasuk salah menafsirkan tidak adanya respons dari orang lain sebagai tanda bahwa bantuan tidak diperlukan, kebingungan mengenai tanggung jawab, serta difusi tanggung jawab," demikian laporannya.

  3. 3. Takut ikut menjadi korban atau situasi makin parah

    ilustrasi kekerasan (pixabay.com/Tumisu)
    ilustrasi kekerasan (pixabay.com/Tumisu)

    Diam juga dapat menjadi respons terhadap risiko yang dirasakan. Jika pelaku terlihat agresif, membawa senjata, berada dalam kelompok, atau situasi berlangsung sangat kacau, seseorang mungkin mempertimbangkan keselamatannya sendiri sebelum memutuskan membantu.

    Dalam kondisi seperti ini, tidak semua bentuk pertolongan harus dilakukan dengan menghadapi pelaku secara langsung. Penelitian tentang intervensi bystander menemukan bahwa rasa takut terhadap konsekuensi negatif merupakan salah satu hambatan untuk bertindak.

    "Alasan lain untuk tidak melakukan intervensi meliputi ketakutan akan pembalasan, kekhawatiran kehilangan hubungan, serta berbagai konsekuensi negatif lainnya. Oleh karena itu, agar seseorang dapat melakukan intervensi dalam situasi darurat saat ada orang lain di sekitarnya, individu tersebut perlu (a) menyadari peristiwa yang terjadi, (b) menafsirkan peristiwa tersebut sebagai situasi darurat, dan (c) memikul tanggung jawab untuk melakukan intervensi," demikian laporan jurnal Cultural Ruptures: Addressing Microaggressions in Group Therapy dalam American Psychological Association.

  4. 4. Kita bisa ikut diam karena melihat orang lain diam

    ilustrasi kekerasan (pexels.com/Pixabay)
    ilustrasi kekerasan (pexels.com/Pixabay)

    Manusia sering menggunakan perilaku orang di sekitarnya sebagai petunjuk untuk memahami situasi yang belum jelas. Jika sebuah kejadian terlihat oleh banyak orang tetapi tidak ada satu pun yang bergerak, seseorang bisa menyimpulkan bahwa tidak ada tindakan yang perlu dilakukan.

    Akhirnya dari situasi itu, semua orang pun menunggu reaksi orang lain. Hal ini menunjukkan mengapa satu orang yang mengambil langkah pertama dapat mengubah respons kelompok. Ketika seseorang mengatakan, "Kita perlu bantuan di sini," orang bisa tergerak memberikan bantuan.

     

  5. 5. Tidak tahu harus berbuat apa juga bisa membuat kita diam dan bingung

    ilustrasi kekerasan pada remaja (unsplash.com/Antonio DiCaterina)
    ilustrasi kekerasan pada remaja (unsplash.com/Antonio DiCaterina)

    Ada perbedaan antara ingin membantu dan mengetahui cara membantu. Seseorang mungkin merasa kasihan kepada korban, tetapi tidak tahu apakah harus mendekat, memisahkan korban dan pelaku, meminta bantuan, merekam kejadian sebagai bukti, atau menelepon layanan darurat.

    Ketidakpastian tersebut dapat membuat seseorang memilih tidak melakukan apa-apa. Mengutip National Library of Medicine, sebuah systematic review dan meta-analysis yang menganalisis 38 penelitian mengenai hambatan intervensi bystander menemukan beberapa kelompok hambatan, termasuk gagal mengenali situasi, gagal memperkirakan risiko, tidak mengambil tanggung jawab, kurangnya keyakinan terhadap kemampuan untuk membantu, dan kesulitan menentukan tindakan.

    Oleh karena itu, ketika menyaksikan kekerasan, respons yang aman tidak harus selalu heroik. Jika situasinya berbahaya, seseorang dapat menjauh dari sumber ancaman sambil mencari bantuan, meminta orang tertentu menghubungi petugas keamanan atau layanan darurat, mendampingi korban setelah situasi aman, atau menjadi saksi ketika diminta memberikan keterangan. Prinsip utamanya adalah membantu tanpa menciptakan korban tambahan.

    Diam ketika melihat kekerasan bukan semata-mata persoalan tidak peduli. Rasa takut, ketidakpastian, pengaruh perilaku orang lain, difusi tanggung jawab, hingga tidak tahu cara bertindak dapat membuat seseorang berhenti pada tahap "melihat" tanpa berlanjut ke "membantu".

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More