ilustrasi buku self-help (unsplash.com/Content Pixie)
Mengunggah foto buku, membagikan kutipan favorit, atau membuat daftar bacaan bulanan bukan berarti seseorang hanya ingin terlihat pintar. Bisa saja ia ingin merekomendasikan buku kepada orang lain, mencatat bacaan yang sudah selesai, atau mencari teman untuk berdiskusi. Unggahan semacam itu bahkan bisa membuat orang lain tertarik membaca buku yang sama.
Karena itu, motif seseorang tidak bisa dinilai hanya dari unggahan media sosialnya. Hal yang lebih penting adalah bagaimana ia memperlakukan bacaannya. Jika ia mau membahas isi buku, mempertanyakan gagasannya, atau menerapkan hal yang dipelajari, aktivitas membaca tersebut tetap punya manfaat. Sebaliknya, jika yang dikejar hanya pujian, pengetahuan bisa menjadi urusan nomor dua.
Baca buku demi validasi tetap bisa menambah wawasan, asalkan seseorang benar-benar memahami apa yang dibacanya. Keinginan untuk terlihat pintar mungkin menjadi alasan awal, tetapi seseorang masih bisa menemukan gagasan baru dan mengembangkan minatnya melalui buku. Meski begitu, jangan sampai keinginan mendapat pujian justru membuat kegiatan membaca hanya berakhir sebagai ajang pamer. Buku bukan sekadar simbol kecerdasan, dan jumlah bacaan bukan satu-satunya ukuran seberapa luas wawasan seseorang.