Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Membaca Buku Masa Kecil Ampuh Redakan Anxiety, Ini 5 Alasannya!

4 min read
Membaca Buku Masa Kecil Ampuh Redakan Anxiety, Ini 5 Alasannya!
ilustrasi membaca (pexels.com/Karola G)
  • Membaca ulang buku masa kecil menawarkan cerita familiar, sehingga otak tidak perlu memproses banyak informasi atau mengantisipasi kejutan saat pikiran sedang cemas.
  • Nostalgia dari aroma, ilustrasi, dan cerita lama dapat menghubungkan pembaca dengan kenangan aman, bahagia, atau dicintai di masa lalu.
  • Aktivitas ini memberi jeda dari tuntutan produktivitas dan pikiran berisik, sekaligus membuka peluang menemukan makna baru serta merefleksikan perubahan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah hari-hari yang melelahkan sering kali kamu ingin mencari cara untuk kabur sebentar dari semuanya. Menariknya, pelarian itu gak selalu harus liburan atau melakukan aktivitas baru. Kadang, membuka buku lama yang pernah dibaca saat kecil justru bisa memberikan rasa nyaman yang sulit ditemukan dari bacaan baru.

Cerita yang sudah kamu tahu akhirnya, karakter yang terasa familiar, sampai ilustrasi yang pernah menemani masa kecil bisa menghadirkan sensasi seperti kembali ke tempat yang nyaman. Kebiasaan membaca ulang buku masa kecil juga berkaitan dengan nostalgia. Ketika membuka halaman yang sudah lama tak disentuh, kamu akan mengingat masa lalu. Lima hal ini jadi alasan kenapa buku lamamu bisa redakan anxiety.

  1. 1. Cerita yang familiar bikin otak gak banyak bekerja

    Membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Min An)

    Membaca ulang buku masa kecil terasa menenangkan karena kamu sudah mengetahui sebagian besar isi ceritanya. Kamu gak perlu bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi pada karakter berikutnya atau bagaimana konflik akan berakhir. Berbeda ketika kamu harus membaca buku baru, otak perlu memproses banyak informasi sekaligus.

    Kamu harus mengenali karakter, memahami latar, mengikuti konflik, dan menebak ke mana arah ceritanya. Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut justru menyenangkan. Namun, ketika sedang mengalami anxiety, terlalu banyak hal yang harus diproses bisa melelahkan. Buku lama menawarkan pengalaman yang berbeda. Gak ada kejutan besar yang perlu diantisipasi sehingga membaca terasa lebih santai.

  2. 2. Nostalgia bisa menghubungkanmu dengan perasaan aman

    Membaca buku
    ilustrasi perempuan membaca buku (unsplash.com/jmuniz)

    Membaca ulang buku masa kecil bukan hanya tentang membaca cerita. Ada pengalaman emosional yang ikut terbawa setiap kali kamu membuka halaman-halamannya. Misalnya, kamu punya satu buku cerita yang dulu sering dibaca sebelum tidur. Ketika membacanya kembali bertahun-tahun kemudian, aroma kertas, ilustrasi, atau bahkan bentuk sampulnya bisa mengingatkanmu pada masa ketika hidup tanpa beban.

    Nostalgia tidak selalu berarti ingin kembali ke masa lalu. Terkadang, mengingat pengalaman menyenangkan di masa lalu justru membantu seseorang merasa terhubung dengan bagian dirinya yang pernah merasa bahagia, aman, atau dicintai. Itulah mengapa buku masa kecil bisa terasa berbeda dibandingkan buku baru.

  3. 3. Membaca ulang bisa mengurangi tekanan untuk produktif

    Membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/ Göksu Taymaz)

    Budaya produktif sering membuat aktivitas santai harus memiliki manfaat. Bahkan ketika sedang beristirahat, kamu mungkin masih merasa perlu melakukan sesuatu yang berguna. Membaca ulang buku masa kecil bisa menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap kebiasaan tersebut.

    Kamu tidak membaca untuk mempelajari keterampilan baru, menyelesaikan target membaca, atau mendapatkan wawasan tertentu. Kamu membaca karena memang ingin menikmati cerita yang sudah kamu sukai. Aktivitas seperti ini dapat memberikan ruang bagi pikiran untuk berhenti mengejar pencapaian selama beberapa waktu. Hal seperti ini terkadang justru dibutuhkan ketika pikiran terlalu penuh dengan berbagai tuntutan.

  4. 4. Dunia dalam buku bisa menjadi jeda dari pikiran yang berisik

    Membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/ Lina Kivaka)

    Saat mengalami anxiety, pikiran bisa terus berjalan meskipun tubuh sebenarnya sedang beristirahat. Kamu mungkin memikirkan percakapan yang terjadi beberapa jam lalu, pekerjaan besok, keputusan yang belum dibuat, atau hal buruk yang belum tentu terjadi. Membaca memberikan sesuatu yang konkret untuk menjadi pusat perhatian.

    Mata mengikuti tulisan, pikiran membayangkan adegan, dan perhatian perlahan diarahkan pada cerita. Buku masa kecil bisa terasa semakin efektif sebagai distraksi karena dunianya sudah familiar. Kamu tidak perlu berusaha keras memahami apa yang sedang terjadi. Cukup mengikuti kembali perjalanan karakter yang sudah kamu kenal.

  5. 5. Kamu bisa menemukan makna baru dari cerita yang sama

    Membaca
    ilustrasi membaca (pexels.com/Manuel Camacho-Navarro)

    Hal menarik dari membaca ulang buku masa kecil adalah ceritanya memang sama, tapi orang yang membacanya sudah berbeda. Saat masih kecil, kamu membaca sebuah cerita hanya karena menyukai petualangan tokohnya. Bertahun-tahun kemudian, kamu bisa menemukan makna lain yang sebelumnya tidak terlihat.

    Karakter yang dulu dianggap menyebalkan mungkin sekarang justru bisa dipahami alasannya. Konflik yang dulu terasa sederhana mungkin ternyata memiliki pesan tersembunyi. Pengalaman ini bisa menjadi bentuk refleksi diri yang menyenangkan. Kamu bisa melihat sejauh apa dirimu telah berubah sejak pertama kali membaca buku tersebut.

    Membaca ulang buku masa kecil bisa jadi aktivitas ringan dan jeda ketika pikiran sedang penuh. Gak ada salahnya mengambil buku lama dari rak, membersihkan debunya, lalu membuka halaman pertama. Mungkin kamu akan menemukan kembali sedikit rasa nyaman yang pernah menemanimu ketika masih kecil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More