Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Batasan dalam Memberikan Bantuan, Empati Berlebihan Kurang Tepat

6 Batasan dalam Memberikan Bantuan, Empati Berlebihan Kurang Tepat
ilustrasi donasi (pexels.com/AI25.Studio Studio)
Share Article

Semangat untuk membantu orang lain sangat baik dan penting. Bagaimanapun juga tidak setiap orang dalam keadaan baik-baik saja. Ada sebagian orang yang kehidupannya sedang diuji dalam hal ekonomi, kesehatan, atau lainnya.

Telah sepantasnya siapa pun yang mampu kasih pertolongan. Bentuk bantuan juga beragam. Tidak selalu uang atau materi lainnya. Uluran tangan berupa tenaga dan waktu juga kerap dibutuhkan. Meski demikian, ada baiknya kamu tetap mengenal sejumlah batasan dalam memberikan bantuan.

Kalau asal kasih saja malah bisa berakibat kurang baik. Sekalipun dirimu sebenarnya mampu. Pun menghentikan atau membatasi bantuan pada saat serta situasi yang tepat bukanlah tindakan jahat. Berikut enam batasan yang mesti dijaga.

1. Batasan nilai bantuan

memberikan bantuan
ilustrasi memberikan bantuan (pexels.com/Julia M Cameron)

Bukannya pelit, tapi nilai bantuan memang perlu diperhitungkan dengan cermat. Kalau kamu kasih bantuan lebih dari nilai yang sesungguhnya dibutuhkan penerima, artinya ada bantuan yang sia-sia. Misal, nilai bantuan yang diperlukan hanya 1 juta rupiah.

Dirimu memberikan 2 juta rupiah. Tentu penerimanya senang-senang saja. Akan tetapi, dengan uang yang sama semestinya dapat membantu 2 orang. Bukan cuma 1 orang.

Pun nilai bantuan akan memengaruhi kestabilan keuanganmu. Kasih bantuan terlalu besar buat ukuran kemampuanmu bakal mempersulit diri. Di tanggal muda barangkali tidak terasa. Begitu pertengahan apalagi akhir bulan langsung menderita karena uang sudah habis duluan.

2. Batasan waktu pemberian bantuan

makan
ilustrasi makan (pexels.com/Timur Weber)

Bukan hanya nilai bantuan yang mesti dipikirkan. Waktu pemberian bantuan juga perlu ditetapkan. Apabila bantuan terus diberikan dalam jangka panjang malah bisa menimbulkan ketergantungan. Orang yang dibantu dapat kehilangan kemandiriannya.

Mereka yang semula perlu dibantu murni karena kesusahannya, sekarang menjadi terlalu manja. Mereka gak mau berusaha maksimal buat keluar dari kesusahan hidupnya. Soalnya ada dirimu yang rutin kasih bantuan. Itu bikin mereka terlalu nyaman dan gak ingin hidup mandiri.

Terkait batasan waktu bantuan sebetulnya hak penuhmu. Akan tetapi, jika kamu mengomunikasikannya sejak awal pada calon penerima bantuan juga baik. Mereka menjadi lebih bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi masa setelah pemberian bantuan berakhir.

3. Melihat kebutuhan pribadi

memasukkan uang ke wadah
ilustrasi memasukkan uang ke wadah (pexels.com/Defrino Maasy)

Bisa kasih bantuan baik sekali. Namun, jangan lupa bahwa kamu juga punya berbagai kebutuhan. Baik kebutuhan rutin maupun mendadak dan sesekali tapi lebih besar. Apabila harus memilih, tetaplah memprioritaskan kebutuhan diri dulu.

Setelah kebutuhan aman baru dana selebihnya digunakan untuk membantu orang lain. Apalagi jika situasinya gak urgen. Seperti dirimu mesti segera membayar uang sekolah anak-anak. Sementara orang lain butuh tambahan modal usaha.

Skala usaha masih dapat dikecilkan sesuai dana yang tersedia. Sedang uang sekolah anak gak bisa diotak-atik lagi. Pun orang yang butuh modal usaha dapat memperolehnya dari pihak lain. Beda dengan uang sekolah anak yang murni tanggung jawab orangtua.

4. Mengamati sikap orang yang dibantu

memberikan bantuan
ilustrasi memberikan bantuan (pexels.com/Akh Taufiq)

Pasti sangat menjengkelkan buatmu apabila orang yang sudah susah payah dibantu malah bersikap gak tahu diri. Misalnya, di belakangmu membicarakan bantuanmu yang dianggapnya terlalu sedikit. Seharusnya dia bersyukur dirimu masih mau membantu.

Belum tentu ada orang lain yang mau menolongnya dalam situasi sulit. Kamu tidak harus terus membantu orang yang membalas kebaikanmu dengan keburukan. Bukan dendam atau tak ikhlas.

Namun, penerima bantuan juga harus belajar menghargai orang yang telah berusaha peduli. Kepuasannya gak pas dijadikan standar. Kalau sudah ada beberapa sikap penerima bantuan yang membuatmu sakit hati, tidak apa-apa kamu menstopnya.

5. Batasan sumber bantuan

donasi
ilustrasi donasi (pexels.com/Gustavo Fring)

Kamu membantu orang lain pakai dana dari mana? Walaupun dirimu dipercaya memegang banyak uang sebagai bendahara atau bagian keuangan di kantor misalnya, jangan memakainya untuk bantuan yang bersifat pribadi. Ketika kamu ingin menolong orang, pastikan sumber dananya dari kocek sendiri.

Termasuk bila ada orang yang meminta bantuan dengan memaksa. Dia tahu dirimu memegang banyak uang sekalipun itu uang kas warga atau kantor. Miliki ketegasan untuk menolaknya.

Beri tahu ia bahwa kamu gak akan menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan orang dengan alasan apa pun. Sebab repot apabila demi bantu orang saja, sumber dananya campur aduk. Bagaimana jika kamu sampai tidak bisa menggembalikan secepatnya?

6. Kondisi orang yang akan dibantu

donasi makanan
ilustrasi donasi makanan (pexels.com/cottonbro studio)

Katakanlah ada dua orang atau lebih yang sekilas sama-sama perlu dibantu. Sayangnya, anggaranmu gak banyak. Dirimu cuma bisa memilih salah satu.

Maka pilihlah berdasarkan kondisi yang paling buruk. Dengan bantuan diprioritaskan dulu untuknya, harapannya ia masih tertolong. Sementara orang lain yang kondisinya sedikit lebih baik masih dapat bertahan tanpa uluran tangan saat itu juga.

Demikian pula kondisi orang-orang yang telah dibantu olehmu butuh terus dievaluasi. Penerima bantuan rutin setahun terakhir misalnya, kini kondisinya sudah lebih baik. Bantuan untuknya bisa dihentikan dan dialihkan ke orang lain yang lebih memerlukannya.

Menerapkan batasan dalam membantu orang lain akan baik untuk semua pihak. Kamu sebagai pemberi bantuan tidak merasa terlalu berat. Orang yang dibantu juga tidak kehilangan kemandiriannya. Di lain pihak, ada orang yang tadinya belum memperoleh uluran tangan menjadi mendapatkannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More