"Yang dimaksud di sini bukanlah kebohongan yang sengaja direncanakan, seperti yang biasanya dilakukan oleh anak yang lebih besar atau remaja," ujar Sanam Hafeez, PsyD, neuropsikolog sekaligus Direktur Comprehend the Mind, dikutip dari Parents.
Benarkah Bayi Bisa Berbohong? Ini Penjelasannya!

Banyak orang mengira kemampuan berbohong baru muncul ketika anak sudah cukup besar untuk memahami benar dan salah. Namun, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cognitive Development menunjukkan bahwa bayi dan balita dapat mulai memperlihatkan perilaku yang menyerupai kebohongan sejak usia sangat dini. Lantas, benarkah bayi bisa berbohong?
Para ahli menjelaskan bahwa "kebohongan" pada bayi berbeda dengan kebohongan yang dilakukan anak yang lebih besar atau orang dewasa. Pada usia ini, perilaku tersebut lebih berkaitan dengan perkembangan kemampuan berpikir dan interaksi sosial. Jika ingin memahaminya lebih lanjut, berikut penjelasannya.
1. Bayi tidak berbohong dengan niat jahat

Istilah berbohong pada bayi tidak berarti mereka sengaja ingin menipu atau berbuat curang. Dalam penelitian, perilaku ini diartikan sebagai tindakan untuk menghindari konsekuensi atau memperoleh sesuatu yang diinginkan dengan cara yang masih sangat sederhana. Karena itu, para ahli menilai perilaku tersebut merupakan bagian dari proses belajar.
Contohnya, bayi menangis agar digendong lalu langsung berhenti setelah keinginannya terpenuhi, atau balita menyembunyikan camilan saat orangtuanya datang. Meski tampak seperti mengelabui orang lain, tindakan tersebut belum menunjukkan pemahaman moral tentang kebohongan. Sebaliknya, perilaku ini membantu anak belajar memahami hubungan antara tindakan dan respons yang diterimanya.
2. Perilaku ini justru menunjukkan perkembangan otak yang sehat

Kemampuan melakukan tipu daya sederhana menunjukkan bahwa bayi mulai memahami orang lain bisa memiliki pengetahuan yang berbeda dari dirinya. Hal ini menandakan perkembangan kemampuan berpikir sosial (social cognition), yang menjadi dasar empati, komunikasi, dan pemecahan masalah. Karena itu, para ahli menilai perilaku tersebut merupakan bagian normal dari perkembangan otak anak.
"Menurut pandangan profesional saya, perilaku tipu daya pada bayi pada dasarnya merupakan tanda perkembangan otak yang sehat, bukan sinyal adanya masalah perilaku," ujar Sanam Hafeez, neuropsikolog, dikutip dari Parents.
Penelitian juga memperkirakan sebagian anak mulai memahami konsep tipu daya pada usia sekitar 18 bulan dan mulai menunjukkannya sejak usia 16 bulan. Menurut Elena Hoicka, profesor pendidikan di University of Bristol, dikutip dari The Guardian, kemampuan ini berkembang secara bertahap sejak usia yang jauh lebih dini daripada yang selama ini diperkirakan.
"Sangat menarik melihat bagaimana pemahaman dan penggunaan tipu daya pada anak berkembang sejak usia yang ternyata jauh lebih dini daripada yang kami duga, lalu terus berkembang selama tahun-tahun pertama kehidupan mereka," kata Elena Hoicka.
3. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan

Meski hasil penelitian ini menarik, para ahli mengingatkan bahwa seluruh temuan didasarkan pada laporan orangtua, bukan observasi langsung terhadap bayi. Karena itu, peneliti belum bisa memastikan apakah perilaku tersebut benar-benar merupakan bentuk tipu daya atau sekadar persepsi orangtua. Temuan ini pun masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Selain itu, niat atau motivasi bayi juga sulit diukur secara objektif. Bayi belum mampu menjelaskan alasan di balik tindakannya sehingga peneliti hanya dapat menafsirkan perilaku yang terlihat. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami bagaimana kemampuan ini berkembang pada masa awal kehidupan.
"Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membedakan pengaruh persepsi orangtua terhadap niat anak dengan perilaku yang benar-benar ditunjukkan oleh bayi," ujar Emma Murray, PhD, psikolog klinis berlisensi di Phoenix Children's, dikutip dari Parents.
4. Kemampuan ini akan berkembang seiring bertambahnya usia anak

Perilaku yang tampak seperti kebohongan pada bayi berbeda dengan kebiasaan berbohong pada anak yang lebih besar. Pada bayi dan balita, tindakan tersebut lebih merupakan cara mereka memahami respons orang lain. Seiring bertambahnya usia, alasan anak berbohong pun menjadi semakin kompleks.
Karena itu, orangtua tidak perlu terburu-buru memberi label "pembohong" kepada anak. Jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk mengajarkan kejujuran melalui komunikasi yang hangat dan teladan yang baik. Dengan begitu, anak dapat belajar berkata jujur tanpa merasa takut kepada orangtuanya.
Perilaku yang tampak seperti berbohong pada bayi umumnya merupakan bagian dari proses tumbuh kembangnya. Orangtua pun tak perlu panik, tetapi cukup mendampingi anak dengan sabar sambil menanamkan nilai kejujuran sejak dini.






















