ilustrasi warteg (pexels.com/kevin yung)
Terakhir, bedanya gaya hidup dan biaya hidup adalah bahwa meski gaya hidupmu gak berubah, biaya hidup bisa naik kapan saja. Coba bayangkan seseorang dengan penghasilan Rp5 juta per bulan yang biasanya menghabiskan Rp2 juta untuk kebutuhan pokok, Rp1 juta untuk tempat tinggal dan tagihan, Rp1 juta untuk transportasi serta kebutuhan lain, lalu menyisihkan sisanya untuk tabungan dan hiburan. Ketika pengeluaran kebutuhan pokok meningkat menjadi Rp2,3 juta sementara penghasilan tetap, uang yang tersisa otomatis berkurang Rp300 ribu meskipun orang tersebut tidak menambah frekuensi nongkrong, tidak membeli baju baru, dan tidak mengganti ponselnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa tekanan keuangan bisa muncul dari kenaikan biaya hidup, bukan hanya akibat keputusan konsumsi yang lebih besar.
Persoalan menjadi lebih terasa ketika kenaikan penghasilan tidak sebanding dengan peningkatan pengeluaran rutin. Kenaikan gaji sebesar 3 persen, misalnya, belum tentu membuat kondisi keuangan terasa lebih baik apabila biaya tempat tinggal, makanan, transportasi, dan kebutuhan lain meningkat dengan laju yang lebih tinggi. Daya beli juga perlu diperhatikan karena nominal gaji yang bertambah tidak otomatis membuat jumlah barang dan jasa yang bisa dibeli menjadi lebih banyak. Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat merasa semakin sulit menikmati hidup meskipun tidak pernah menjalani gaya hidup mewah.
Situasi tersebut juga menjelaskan mengapa saran untuk berhenti membeli kopi, mengurangi nongkrong, atau tidak mengikuti konser tidak selalu menyelesaikan persoalan keuangan seseorang. Penghematan dari pengeluaran pilihan memang bisa membantu, tetapi dampaknya berbeda ketika sebagian besar pendapatan sudah terserap oleh kebutuhan dasar. Jika biaya sewa tempat tinggal, transportasi ke tempat kerja, dan bahan makanan terus meningkat, ruang untuk melakukan penghematan menjadi semakin terbatas. Evaluasi gaya hidup tetap penting, tetapi kondisi ekonomi tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan kebiasaan konsumsi tanpa melihat struktur pengeluaran dan pendapatan seseorang.
Kondisi keuangan seseorang tidak bisa ditebak hanya dari apa yang terlihat di media sosial atau seberapa ramai sebuah konser dipenuhi penonton. Semoga kita semakin terbiasa membicarakan persoalan ekonomi dengan melihat angka, konteks, dan kebutuhan nyata, bukan sekadar menilai pilihan belanja orang lain. Menurutmu, pengeluaran apa yang paling terasa membebani akhir-akhir ini, kebutuhan pokok yang makin mahal atau biaya untuk mempertahankan gaya hidup?
Referensi:
"The Inconvenient Truth About ‘Cost of Living’" Strong Money Australia. Diakses pada Oktober 2026.
"What is the Difference Between Lifestyle and Standard of Living." Pediaa. Diakses pada Oktober 2026.