Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Kita Tetap Bisa Mencoba Optimis meski Tidak Realistis?
ilustrasi bersikap positif dan optimis (pexels.com/Buro Millennial)

Menunggu kabar dari seseorang atau hasil dari sesuatu memang bikin pikiran ke mana-mana. Kita belum tahu apa yang bakal terjadi, tetapi kepala sudah sibuk menyiapkan berbagai kemungkinan sebelum tahu jawaban akhirnya. Kadang ada teman yang menyuruh kita untuk lebih santai, sementara diri sendiri justru masih susah berhenti memikirkan kemungkinan buruknya.

Masalahnya, berpikir positif juga gak berarti harus memaksa diri percaya semuanya bakal baik-baik saja. Yuk, bahas kenapa optimis gak selalu harus berarti selalu realistis.

1. Tetap optimis gak berarti masalah utamanya jadi hilang

ilustrasi masalah (pexels.com/Yan Krukau)

Kalau kamu sudah berbulan-bulan gak betah di kantor, tapi setiap kali ingin mecari kerjaan yang baru selalu muncul pikiran, “Mungkin bulan depan keadaan bakal berubah.” Padahal, beban kerja masih sama, suasana kantor gak kunjung membaik, dan hal yang bikin gak nyaman sudah beberapa kali disampaikan. Bukannya gak boleh berharap, cuma kalau kalimat “nanti juga membaik” terus dipakai setiap kali ingin mengambil keputusan, lama-lama harapan itu malah jadi alasan untuk gak melakukan apa-apa.

Keinginan supaya keadaan berubah tentu gak salah. Namun, sambil berharap, kamu tetap perlu melihat apa yang sedang terjadi sekarang. Kalau sudah berkali-kali menunggu dan ternyata gak ada yang berubah selain tanggal di kalender, mungkin memang sudah waktunya mengakui bahwa masalahnya belum selesai, bukan terus mencari alasan kenapa kamu harus tetap bertahan.

2. Kalau sudah gak cocok, gak perlu dipaksakan

ilustrasi memaksakan diri (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Waktu pertama kali pindah kos, kamu mungkin merasa sangat senang karena kamarnya lebih luas, ada AC, dan lokasinya dekat ke mana-mana. Beberapa bulan kemudian, tagihan dan biaya bulanannya mulai terasa mencekik. Mau pindah lagi juga kepikiran, “Masa baru segini sudah pindah?” Akhirnya kamu memilih tetap bertahan, padahal tiap bulan kamu sendiri yang mengeluh soal tagihannya.

Hal-hal seperti ini sering terjadi tanpa kita sadari. Kita kadang lebih sibuk mempertahankan keputusan daripada mengakui kalau keadaan sudah berubah. Kalau sekarang pilihan tersebut malah bikin repot, ya gak ada salahnya mencari pilihan lain; toh kamu mengambil keputusan baru dengan kondisi yang sudah berbeda dari sebelumnya.

3. Berkata “masih bisa” gak selalu berarti kamu memang sanggup

ilustrasi selalu mengiyakan semua permintaan (pexels.com/ Sami Abdullah)

“Masih bisa.” Jawaban itu kadang keluar begitu saja meski sebenarnya kepala sudah penuh. Teman minta bantuan, kerjaan belum kelar, di rumah juga masih ada urusan, tetapi tetap diiyakan karena rasanya gak enak kalau harus menolak. Semua sengaja diiyakan karena merasa hari masih panjang dan belum berganti.

Masalahnya, setelah semua hal kamu jalani malam ternyata gak sepanjang yang dibayangkan. Satu per satu urusan tetap harus dikerjakan dan akhirnya kamu sendiri yang kelabakan karena bingung kenapa gak kelar-kelar. Kalau memang hari itu sudah full, bilang saja ke orang lain “gue gak sanggup sekarang” sebenarnya jauh lebih masuk akal daripada terus mengiyakan sesuatu yang dari awal kamu tahu kalau kamu sebenarnya gak mampu.

4. Gak tahu hasilnya bukan berarti harus berhenti

ilustrasi menyerah (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kamu mungkin sempat berpikir kalau belum juga dapat kerja setelah kirim CV ke mana-mana, terus harus ngapain? Mau terus mencoba juga capek, sementara gak ada yang bisa menjamin minggu depan bakal ada panggilan. Tapi selama masih ada lowongan yang bisa dilamar, kenalan yang bisa dihubungi, atau CV yang masih bisa diperbaiki, rasanya belum perlu menutup semua kemungkinan.

Kamu memang gak tahu ujungnya bakal seperti apa. Bisa saja bulan depan masih cari kerja, bisa juga tiba-tiba dapat kesempatan dari tempat yang gak disangka-sangka. Setidaknya sekarang masih ada sesuatu yang bisa dikerjakan, dan mungkin untuk saat ini itu saja sudah cukup daripada memaksakan diri untuk percaya bahwa semuanya pasti akan berakhir sesuai rencana.

5. Realistis bukan berarti harus curiga akan semua hal

ilustrasi curiga (pexels.com/Budgeron Bach)

Kadang kita memang sering kebablasan. Baru ada sesuatu yang menyenangkan, otak sudah sibuk mencari bagian yang gak enaknya. Dapat kabar bagus malah berpikir nanti ada apa-apa, diajak pergi malah kepikiran uangnya bakal habis berapa, ada kesempatan baru langsung mikir kemungkinan gagalnya. Lama-lama kita bukannya lebih siap menghadapi keadaan, malah capek sendiri sebelum apa-apa terjadi.

Padahal gak semua hal harus dicurigai. Kalau memang ada sesuatu yang perlu diperiksa, ya periksa; kalau ada risiko yang masuk akal, ya pikirkan. Selebihnya, gak perlu setiap kejadian dicari sisi buruknya hanya supaya kita merasa sudah bersikap realistis.

Mungkin masalahnya bukan memilih harus optimis atau realistis. Keduanya bisa berjalan bersama selama kamu gak menggunakan optimis untuk menutupi kenyataan dan gak menggunakan realisme sebagai alasan untuk selalu menganggap semuanya akan berakhir buruk. Ada keadaan yang memang perlu diperjuangkan, ada yang perlu ditunggu, dan ada juga yang akhirnya perlu dilepaskan setelah dilihat apa adanya. Kalau menurut pendapat kamu, optimis tanpa realistis masuk akal gak, sih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article