ilustrasi curiga (pexels.com/Budgeron Bach)
Kadang kita memang sering kebablasan. Baru ada sesuatu yang menyenangkan, otak sudah sibuk mencari bagian yang gak enaknya. Dapat kabar bagus malah berpikir nanti ada apa-apa, diajak pergi malah kepikiran uangnya bakal habis berapa, ada kesempatan baru langsung mikir kemungkinan gagalnya. Lama-lama kita bukannya lebih siap menghadapi keadaan, malah capek sendiri sebelum apa-apa terjadi.
Padahal gak semua hal harus dicurigai. Kalau memang ada sesuatu yang perlu diperiksa, ya periksa; kalau ada risiko yang masuk akal, ya pikirkan. Selebihnya, gak perlu setiap kejadian dicari sisi buruknya hanya supaya kita merasa sudah bersikap realistis.
Mungkin masalahnya bukan memilih harus optimis atau realistis. Keduanya bisa berjalan bersama selama kamu gak menggunakan optimis untuk menutupi kenyataan dan gak menggunakan realisme sebagai alasan untuk selalu menganggap semuanya akan berakhir buruk. Ada keadaan yang memang perlu diperjuangkan, ada yang perlu ditunggu, dan ada juga yang akhirnya perlu dilepaskan setelah dilihat apa adanya. Kalau menurut pendapat kamu, optimis tanpa realistis masuk akal gak, sih?